Powered By Blogger

MP3

Jumat, 17 Oktober 2014

Rindu Belaianmu

"Tok..Tok.. Tok..!!"
terdengar suara ketukan pintu
" Jenny...Jen.. Bangun sudah pagi!"
teriakan laki-laki yang usianya sudah beranjak 53 tahun.
Tak lama kemudian laki-laki itu masuk kedalam kamar anak perempuannya dan membangunkan sekali lagi.
" Jeny.." panggilnya sambil mengguncang-guncangkan badan anak perempuannya.
"Bangun, sekarang sudah jam 05.50 pagi. kamu tidak ingin kesekolah"
mendengar ucapan Ayahnya tadi, jennypun terkejut dan langsung membuka matanya lebar-lebar.
" Astaga, aku hampir kesiangan" ucap jenny resah
jenny pun langsung bergegas untuk siap-siap, sedangkan sang ayah hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat putrinya.
" Pagi Yah," sapa Dimas
" Pagi" sahut Ayahnya yang sedang menutup pintu kamar Jenny.
" Jenny baru bangun?" tanya Dimas sambil berjalan menuju meja makan
" yah, seperti biasalah. Adikmu itu, pasti dia gak pasang alarm lagi"
Dimas hanya tersenyum dan duduk di kursi makan

"kamu ada kuliah pagi"
"iya" ucapnya yang sedang mengambil sarapan.
"Kak Teo ada dimana Yah, kok gak kelihatan?"
"Dia sudah berangkat kerja duluan"
"Naik apa?"
"Naik mobil Ayah"
"Terus ayah berangkat kerja?"
"kebetulan hari ini Ayah akan berangkat kerja bareng sama rekan kerja. karena ayah sama rekan ayah, mau mampir ke pabrik."
"oh.."
"Pagi Ayah, pagi kak Dimas" sapa Jenny yang sudah rapih menggunakan seragam SMPnya
"Pagi" sahut Ayah dan Kak Dimas bersamaan
"cepat sarapan, nanti kesiangan" ucap ayah pada jenny
" iya, Ayah" jawab jenny
mereka pun menikmati sarapannya dengan tenang.

Sudah pukul 06:50, merekapun bergegas meninggalkan meja makan dan bersiap untuk berangkat melanjutkan kativitasnya masing-masing.Seperti biasa Jenny selalu diantar kak Dimas kesekolah menggunakan motor, sedangkan sang ayah sedang menunggu rekan kerjanya yang belum juga sampai untuk menjemput dirinya.

Diawal perjalanan Jenny dan kak Dimas tak banyak bicara karena lalu lintas pagi ini cukup memadati jalan, Dimaspun berkonsentrasi terhadap kemudinya dan mencari jalan alternatif agar tidak terjebak macet.

Dimas sudah menemukan jalan alternatif untuk menuju sekolah adiknya yang lumayan lancar dan tidak padat oleh pengguna lalu lintas.Sambil menikmati jalan yang lumayan lancar Jenny mangajak bicara kepada kakaknya.
" Kak.."
" ya,"
" aku punya undangan dari sekolah, tadi aku lupa kasih tau Ayah dan kakak dirumah"
" undangan apa?"
" Undangan pentas seni menyambut hari ibu?"
" hari ibu?"
" iya, besokkan taggal 22 Desember hari Sabtu"
" oh iya, kakak lupa.lalu?"
" kalau bisa kakak dan Ayah datang.undangan resminya juga ada kok, tapi aku simpan di rak buku"
" iya, nanti kakak usahakan datang."
" terimakasih ya kak. oya, nanti pulang sekolah kakak jemput aku gak?"
" hmm.. kurang tahu. Tapi kalau misal kakak bisa jemput, kakak akan kasih kabar ke kamu"
"ok."
"Udah sampai nih di depan gerbang"

Jenny pun langsung turun dari motor dan berpamitan pada kakaknya.

"sampai ketemu lagi kak"
"ya. Udah masuk sana,"
"iya. hati-hati dijalan ya kak" ucapnya sambil melambaikan tangan

Dimaspun langsung meninggalkan tempat sekolah adiknya, sedangkan Jennypu juga sudah berjalan masuk menuju kelasnya.

Sudah pukul 06:45 bel sekolahpun berbunyi, kegiatan belajar dan mengajar pun sudah dimulai. Kelas Jennypun sepi dan menikmati suasana belajar dengan tenang, hari ini mata pelajaran dikelasnya adalah SAINS,Bahasa Indonesia,dan diakhiri dengan pelajaran Seni Budaya.
Jenny menikmati mata pelajaran pertama dan mata pelajaran keduanya dengan serius dan sungguh-sungguh.
Tak terasa 2 mata pelajaran hari ini sudah dilewati dan bel istirahatpun tak lama berbunyi, jam belajarpun dihentikan sejenak.Siswa-siswi di kelaspun mulai keluar kelas dan berburu kantin ataupun toilet bahkan taman sekolah untuk menjernihkan lagi fikiran mereka.

"kamu gak ke kantin Jen?" tanya teman sebangkunya yang bernama Dessy
"enggak ah, aku mau duduk didalam kelas aja"
"sama dong aku juga. oh iya,bagaimana pentas seni besok?" ucap temannya lagi, yang kali ini duduk didepan dari meja Jenny yang bernama Resti.
"wah aku sudah gak sabar untuk menampilkan paduan suara dari kelas kita" jawab teman sebangku jenny
" aku juga sama, aku gak sabar untuk mempersembahkan lagu itu untuk mamaku" tambah jawaban dari teman yang menanyakan pertanyaan tadi
" kalau kamu jen?" tanya teman sebangkunya
" sama aku juga" jwabnya singkat sambil tersenyum
" besok keluargamu siapa saja yang hadir?" tanya Dessy kepada Resti
" Mama dan Papa aku dong, kemarin aku cerita sama Mama dan Papa tentang persiapan kelas kami. aku senang ternyata orangtua ku sangat antusias dan katanya gak sabar ingin cepat melihat kelas kami tampil. kalau kamu Des?"
" wah enak sekali Mama dan Papa kamu hadir. Kalau aku cuma kakak dan Bundaku yang bisa hadir, soalnya Ayahku lagi ada Dinas dan berhalangan untuk hadir. Tapi gak apa-apalah, soalnya kakakku pasti bawa Handycam untuk merekam semua acara dari sekolah kita. jadi ayahku bisa melihatnya walau terlambat dari hari H nya"

Jenny yang mendengar percakapan temannya sedih
" lalu kamu bagaimana Jen?" tanya Resti
" Aku.., kalau aku yang pasti datang Ayah dan ke-dua kakakku"
" lalu ibu mu? beliau tidak hadir?" tanya Desi
sebelum Jenny sempat menjawab, tiba-tiba Resti memotong jawaban Jenny.
" Pasti Ibu kamu sibuk ya Jen, sama seperti Ayah aku" ucap Resti

sebelum membuka jawaban, jenny memberi senyuman kepada kedua temannya
"Ah, gak juga. biarpun Ibuku sibuk sekarang ataupu nanti, beliau masih bisa melihat dan memantauku"
"wah, bagaimana caranya kok bisa?" tanya Resti penasaran
"bisa, beliau memantauku dari atas sana.Jauh dari langit dan kehidupan yang berbeda mungkin tempat yang sangat damai dan indah yang tak mungkin dapat kita lukiskan dan tak akan pernah kita tahu setakjub dan seindah apa, sebelum kita kembali."
"Kembali?" tanya Dessy
"iya, kembali. Kembali kealam yang semestinya, kealam tempat dimana kita dulu sebelum kita terlahir didunia ini." jelas Jenny sambil tersenyum
" maaf ya Jen, kami tidak bermaksud untuk menyinggung ataupun membuat kamu sedih?"
" tidak apa-apa. Aku memaklumi kalian, karena kalian tidak tahu." ucap jenny ramah

Tiba-tiba bel masukpun berbunyi, jam istirahatpun berakhir dan pembicaraan mereka terhenti karena jam belajar akan dimulai kembali. Semua siswa-siswi kembali kekelas dan ketempat duduk mereka masing-masing,jadwal

Tak terasa pelajaran Seni Budaya pun berakhir dan waktunya siswa-siswi bersiap-siap untuk menyudahi pelajaran mereka dihari ini. sebelum mereka keluar dari kelas, guru seni budayapun mengingatkan kepada murid-murid agar besok mereka tidak telat hadir dan tidak lupa pula orang tua mereka wajib hadir untuk mensupport penampilan dan meramaikan suasana.

Setelah mendengarkan penjelasan dari guru seni budaya tadi, merekapun pergi meninggalkan kelas dan jalan menuju pintu gerbang.

"Jenny, pulang bareng yuk."
"terimakasih atas tawarannya, tapi aku sudah di jemput sama kakak aku. dia sms katanya sudah di depan gerbang"
"oh, yasudah."
"lain kali saja ya"
"ok"
"nah, itu dia kakakku"
" yang mana?"
"itu disebrang sana." jelas jenny sambil menunjuk kearah kakaknya yang sudah menunggu dibawah teduhnya pepohonan
" oh, hati-hati ya jen"
"iya, sampai ketemu besok"

jennypun langsung meninggalkan temannya dan lari menuju kakaknya.
" Kak.."
kakaknya menoleh
" yuk jalan" ucap jenny sambil menaiki motor
Dimaspun langsung menstater motornya dan pergi menuju rumah mereka.

" Kak,nanti boleh mampir ketoko bunga gak?"
" Boleh.kamu mau ke makam ibu ya?"
" iya, aku kangen"
" oke"

Dimaspun langsung bergegas menuju tempat toko bunga dan menuju makam ibunya.
Setelah sampai ditempat taman pemakaman, mereka berdua langsung berjalan menuju tempat makam ibu mereka.

" Ibu,ini aku Dimas. aku datang kesini sama Jenny" ucap Dimas yang berbicara di makam ibunya lebih dahulu
" Ibu,lihat deh. aku bawa apa untuk ibu, aku bawa bunga kesukaan ibu. Tadi pas pulang sekolah aku mampir ketoko bunga untuk beli bunga lily putih kesukaan ibu, kata kak Dimas ibu suka bunga lily putih ini" ucap jenny kemudian sambil meletakkan bunga lily itu diatas makam ibunya

Seperti biasa ketika dimakam ibunya ia tak sanggup mengeluarkan uneg-uneg dan perasaan rindu yang teramat dalam kepada ibunya yang ia mampu adalah hanya sanggup berkata "Ia datang, dan Ia datang dengan siapa. Bahkan kalau sudah cukup selesai ia hanya bilang pamit undur diri"

" bu, Jenny dan kak Dimas kangen banget.Bukan hanya kami berdua saja yang kangen Ayah dan kak Teo pun juga sama,kami berempat kangen banget. maaf ya bu, baru kami berdua yang datang kemakam ibu. tapi lain kali pasti kami berempat datang bersama lagi, kita datang kesini juga tanpa direncanakan terlebih dahulu.
oh iya bu, besok disekolahku ada acara pentas seni untuk menyambut hari ibu loh. Dan pihak sekolah mengundang semua wali murid, semua orang tua teman-temanku hadir. hmm... coba saja ibu ada disini pasti ibu senang lihat kelasku tampil, eh tapi gak apa-apa meski ibu sudah tidak bersama kita disini tapi aku yakin ibu selalu hadir setiap hari disisi kita berempat dan terutama memantau aku, kak Teo dan kak Dimas dari kejauhan.
Besok lihat penampilanku ya bu, aku ingin persembahkan lagu yang ditampilkan nanti untuk ibu.
Aku juga kesini mau ucapin selamat hari ibu, kita semua Rindu ibu...
Entah kapan, aku percaya suatu saat kita bisa berkumpul kembali. Tunggu kami disana ya bu..

Selamat tinggal dan sampai jumpa, besok atau entah nanti Ayah, kak Teo, kak Dimas dan aku datang kemakam ibu lagi."

" Ibu, aku dan jenny pulang ya. karena sudah sore, kami pamit undur diri. Selamat tinggal"

Mereka pun langsung bergegas meninggalkan tempat pemakaman ibunya dan menuju rumah.
setelah sampai dirumah Jenny dan Dimas menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian mereka. Dimas yang sudah selesai mengganti pakaiannya kemudian ia mengetuk pintu kamar adiknya.

tok..tok..tok..!!
"Jen, makan siang bareng yuk."
"gak kak, aku masih kenyang. Aku mau istirahat dulu, nanti malam baru. sekalian kita makan sama Ayah dan kak Teo"
" yasudah, kakak makan siang dulu ya."
"oke"
Dimas pun langsung menuju meja makan dan mengambil makan sidang yang sudah disiapkan oleh bi Inah pekerja rumah tangga yang sudah lama bekerja bersama majikannya.
Sementara itu Jenny didalam kamar duduk termenung di kursi meja belajarnya yang menghadap kejendela dan kemudian ia mengambil buku catatannya. Untuk menulis semua kisah yang ia alami juga yang belum pernah ia ceritakan, mungkin saat ini ia sedang ingin menumpahkan semua keluh kesah melalui buku catatannya yang masih terlihat baru.

Aku Jenny Dzakwan Anjani, sekarang umurku 12 tahun dan masih duduk dibangku SMP. Di keluarga ini aku adalah anak perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara, dirumah ini aku tinggal bersama Ayah, kak Teo, kak Dimas dan bi Inah. Mereka semua adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku entah kemarin, hari ini bahkan besok dan mungkin besoknya lagi juga sampai seterusnya. Pasti kedengarannya aneh, tapi memang itulah kenyataannya.
Inilah Kisahku...
sebelum aku bercerita tentang diriku, aku akan menceritakan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku sampai sekarang ini.
Ayah, beliau adalah sosok orang yang penyabar, tegas, disiplin dan dia juga sosok seseorang yang mengerti bagaimana kondisi anak-anaknya. meski beliau sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia tidak pernah lupa perannya sebagai orang tua untuk selalu memperhatikan anak-anaknya terutama aku. aku selalu yang mendapat perhatian lebih diantara kakak-kakakku, mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya dan anak paling terakhir.
Selanjutnya kakakku yang pertama namanya kak Teo, dia adalah sosok orang yang sangat sibuk dengan dirinya sendiri juga dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Buktinya saja tadi pagi dia gak ikut sarapan bareng dan bahkan udah jalan berangkat kerja lebih dahulu. Kak Teo memiliki sifat yang sulit ditebak, dia sosok orang yang sangat pendiam dan gak terlalu banyak bicara. Meski begitu dia orang yang sangat baik dan perhatian terhadap adik-adiknya, dia juga suka bercanda loh pada saat kita memiliki waktu luang bersama (tapi kalau lagi sifat pendiamnya gak kumat lagi) dan kadang tak jarang aku sering jadi bahan kekonyolan dan lelucon kak Teo. Yang aku suka dari kakakku ini adalah pada saat dia tertawa bersama kami, aku melihat ada sesuatu yang beda saat dia tertawa lepas.
Kemudian kita beralih ke kakakku yang kedua namanya kak Dimas, kakakku yang satu ini sifatnya agak berbeda dari kak Teo meski ada kesamaannya juga. Kak Dimas juga orang yang pendiam tapi tidak separah kak Teo, kak Dimas diam pada saat tertentu aja. Mungkin pada saat suasana hatinya sedang tidak bagus atau mungkin ia sedang kangen sama Ibu, tapi menurut aku kak Dimas juga dia orang yang cukup bawel terhadap aku. Pokoknya kakakku yang satu ini is the best deh, mungkin tanpa kakakku yang ini aku pasti merasa sangat kesepian dirumah. Diantara Ayah, kak Teo dan kak Dimas, cuma kak Dimas lah yang sangat dekat dengan aku. Mungkin karena dari kecil aku sudah sama dia terus dan ia selalu perhatian. Kakakku yang ini cukup menggantikan posisi Ibu, disaat aku butuh sosok seorang Ibu. Oya kesamaan sifat kak Teo dan kak Dimas adalah mereka suka bercanda. Cuma kalau kak Dimas hampir semua waktu disaat aku bersama dia, dia selalu buat sesuatu yang lucu dan aku selalu terhibur olehnya. Tapi kak Dimas juga sosok orang yang sangat galak, apa lagi kalau lagi ajarin aku belajar. Aku gak bisa berkutik, mesti harus serius.
Dan yang terakhir adalah bi Inah, beliau adalah bibi yang sangat baik. Beliau juga sudah lama kerja dirumah ini yah kurang lebih sudah 24 tahun dia berada disini, kata Ayah sih bi Inah sudah kerja disini pada saat ibu sudah melahirkan kak Teo. Cukup lumayan lama juga ya bi Inah kerja dirumah ini, tugas khusus bi Inah adalah merawat dan membantu Ayah untuk menjaga kami bertiga. bi Inah selalu tau apa yang kita inginkan, mungkin beliau juga sudah paham dengan karakter masing-masing dari kami bertiga. Disini bi Inah sudah bukan seperti orang lain lagi, beliau sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Bukan hanya bi Inah saja, keluarga dari bi Inah juga sudah kami anggap seperti keluarga kami sendiri. Maka tak heran kalau liburan sekolah, cucu perempuan serta anak bi Inah suka berkunjung kerumah kami seperti layaknya kami dikunjungi oleh saudara, meski hanya menginap beberapa hari tapi aku sangat senang karena dirumah banyak orang dan bahkan umur cucunya bi Inah beda 2 tahun dari umurku loh. Kami sangat akrab dan kalau mereka berkunjung, cucunya bi Inah suka aku ajak tidur di kamarku.
Sekarang beralih ke aku. 
Sebetulnya aku gak tau sifat dan karakter aku seperti apa, karena aku tidak bisa untu menilai diriku sendiri. Tapi yang aku tahu, aku sosok anak yang manja kepada Ayahnya jua manja kepada kedua kakaknya. Maklum karena aku belum pernah merasakan  kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya.
Sejujurnya aku iri dengan kedua kakak-kakakku, karena nasibku yang sangat berbeda dengan mereka berdua. Nasibku tidak seberuntung nasib kak Teo dan kak Dimas, mereka terlahir didunia ini pernah merasakan kasih sayang ibu. Meski aku pernah, tapi hanya sesaat ketika aku di dalam kandungan bukan ketika aku lahir. Aku kepingin sekali dapat merasakan belaian tangannya disaat hendak tidur, lalu dapat merasakan hangatnya dekapan ibu ketika pulang sekolah ataupun disaat kita hendak mencurahkan semua masalah yang sedang kita hadapi. Tidak hanya itu, aku juga ingin melihat pancaran sinar ketulusan diwajah Ibuku sendiri. 
Aku sangat sedih, ketika memang kenyataannya aku tidak memiliki seorang Ibu. Setelah aku lahir, aku belum pernah merasakan apapun dari seorang Ibu dan yang lebih membuatku sangat sedih ketika aku tidak dapat memiliki kesempatan untuk memanggil Ibu dihadapan wanita yang telah melahirkan aku.
ah.. sayang, semua itu hanya harapan yang tak kunjung datang bagiku. 
Aku pasrah dengan takdir yang sedang aku jalankan, meski kesedihanku tak kunjung usai. Aku akan tetap harus tersenyum bahagia karena aku masih memiliki keluarga yang setia untuk selalu ada. Juga aku harus membuktikan pada dunia meski tanpa kasih sayang ibu, aku bisa membuat orang disekelilingku bangga dengan prestasi nilai-nilaiku disekolah. Dengan begitu aku yakin Ibu yang sudah berada ditempat yang damai pasti akan bangga ketika aku tidak mengecewakan orang yang aku sayangi seperti Ayah, kak Teo dan kak Dimas. Karena kalian aku akan tegar menghadapi semua, juga karena kalian aku akan selalu berjalan kedepan dan tidak akan menyesali perjalananku yang telah dilalui. 
Inilah janjiku....
 Setelah selesai menulis catatan pribadinya, Jenny melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16:30. Waktu sudah cepat berganti sore,tanpa lama-lama Jenny langsung bergegas membersihkan dirinya.Kemudian ia keluar dari kamar dan menuju ruang TV, seperti biasa Jenny dan Dimas menonton Tv bersama sambil menunggu Ayah dan kakak pertama mereka pulang.

" Bagaimana rasanya mau tampil besok?" goda kak Dimas
" Biasa aja" jawab Jenny santai sambil menikmati acara kartun kesukaannya
" Yakin? ah, paling pas sudah harinya kamu dagdigdug" goda kak Dimas lagi
" so tau nih kak Dimas"
" Memang kakak tau kok" godanya lagi namun kali ini sambil mencubil pipi adiknya
" Besok kakak datang gak?" tanya jenny
" Gak ah males"
" iih.. kok gitu. Yasudah kalau males, masih ada kak Teo dan Ayah"
" Memangnya kamu mau banget kalau kak Dimas dateng?" goda kak Dimas
" Biasa aja tuh. Yah kalau kakak mau dateng sih syukur kalau gak mau juga gak apa-apa" jawab Jenny sedikit kecewa
" Habis kakak bosan sih lihat kamu terus. Tiap hari kamu lagi.. kamu lagi.." ledek kak Dimas
" Yakin bosen? nanti kalau aku gak ada dan pergi entah kemana jangan dicariin ya.."
" Gak dong, paling juga ujung-ujungnya pergi sama kak Teo. hahahaa.." ledek kak Dimas lagi

Jennypun langsung cemberut kesal, mendengar ledekan kakaknya.
Melihat adiknya cemberut, Dimaspun langsung mengakhiri ledekannya.

" Tenang saja, nanti juga kak Dimas datang ke acara sekolah kamu"
" gak tau" jawab jenny masih cemberut
" hmm.. lagi pula siapa sih yang bosan sama ade kakak yang lucu dan menggemaskan ini" ucap Dimas sambil mencubit pipi Jenny lagi
" ih.. kak Dimas apa sih, sakit tau pipiku dicubit terus" keluh Jenny sambil mengusap-usap pipinya
" oh iya, sampai merah pipinya. Sini kakak kasih minyak biar gak merah lagi" ledek kakaknya lagi
" gak mau, nanti dicubit lagi. udah tau pipiku tembem, dicubit kak Dimas tambah tembem lagi deh nih" keluh Jenny lagi

Mendengar celotehan Jenny dan melihat tingkah kesal adiknya yang masih memegangi pipi, Dimas senyum-senyum sendiri.

" ya sudah kalau gak mau kakak obatin, tapi saran kakak kita makan Ice cream yu. pasti merah bekas cubitannya langsung hilang" bujuk kak Dimas
" gak mau, aku masih kesel sama kakak"
" ya sudah"

disela percakapan Jenny dan Dimas tiba-tiba suara HP Dimas berbunyi. Ternyata itu pesan dari Ayahnya.

" Siapa kak"
" Ayah"
" Kenapa?"
" hari ini kak Teo dan Ayah pulang telat."
" kok gitu?"
" iya, tadi pagi mobil Ayah dipakai kak teo kerjas. Jadi setelah kak Teo pulang kerja, kak Teo jemput Ayah di kantor dan pulang bareng."
" terus alasan pulang telat?"
" katanya jemput seseorang di Bandara."
" Oh."
" Sekarang Jam berapa si dek?" tanya Dimas yang kali ini sedang mengganti channel TV
" jam 17:15"
" Berarti Ayah hari ini pulangnya masih lama. Tadi Ayah pesan katanya kita disuruh makan malam duluan, takutnya nunggu Ayah dan kak Teo kelamaan."
" yasudah."

Pembicaraan merekapun terhenti sejenak, karena Jenny sedang pergi kekamarnya untuk mengambil udangan dari pihak sekolah untuk acara besok.

" nih kak" ucap jenny sambil menyodorkan undangan
" undangan dari sekolah?"
" iya. tolong sampaikan ke Ayah dan kak Teo ya."
" Kamu gak makan malam?"
" Gak, lagi gak pingin"
" Yah, cuma gara-gara gitu aja gak mau makan. Nanti sakit dan gak bisa ikut acara sekolah loh?"
" Yaudah aku makan sekarang aja terus langsung kekamar lagi, aku mau ngerjain tugas dan menyiapkan untuk besok"
" Ok. jangan malam-malam ya tidurnya"
" Ya."

Pagi ini Jenny sudah sibuk menyiapkan dirinya untuk pentas nanti. Seperti biasa setiap pagi Ayahnya selalu datang kekamar untuk membangunkannya.

Disela kesibukannya pagi itu tak sengaja ia mendengar suara langkah kaki yang tak asing lagi baginya, mendengar suara itu ia tersenyum dan tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia diam-diam berdiri didepan pintu dan menghitung suara langkah kaki itu sampai berhenti diarah pintu kamarnya.

" ...3...2...1.." ucapnya pelan
setelah hitungan terakhir ia langsung membuka pintu kamar, yang tak sengaja ternyata pintu kamar jenny pas sekali terbuka ketika Ayahnya hendak mengetuk pintu kamarnya.

Melihat pintu kamar putrinya terbuka, wajah Ayah terkejut.

" Pagi Ayah" sapanya sambi tersenyum
" Pagi" jawab Ayahnya
" Sini masuk Yah" ucap jenny
" Jam dirumah gak ngaco kan Jen?" ledek Ayahnya
" huh.. Ayah, giliran aku jam segini udah rapih dengan kostumku malah diledekin"
" Ya habis tumben, biasanya juga gak pernah"
" Iya dong, sekarangkan hari spesial. Jadi,semua harus istimewa. Misalnya seperti jam segini yang biasanya aku masih tidur, sekarang sudah rapih"
" Tau deh yang mau pentas"
" Ayah, aku cantik gak kalau pakai bando aja"
" Anak Ayah selalu cantik pakai apa saja"
" hehe.. Terimakasih Ayah"
" Sudah yuk, kita sarapan. Sudah rapih semua kan?"
" tapi tadi aku sudah sarapan duluan Yah."
" Baiklah, kalau begitu ayo kita keluar"
" Siap."

Akhirnya mereka berduapun keluar dari kamar Jenny dan kemudian berjalan menuju halaman depan.

" Pagi kak Teo, Pagi kak Dimas" sapa Jenny
" Pagi.." sahut kakaknya bersamaan
" hmm.. yang mau pentas canti banget hari ini" goda kak Teo
" Iya dong." jawab Jenny senang

Dimas yang mendengar percakapan kak Teo dan Jenny hanya melirik Jenny dengan penuh ledekan untuk membuat adiknya kesal lagi.

" iihh.. kenapa kak Dimas matanya gak nyenengin"
" kenapa lagi?" tanya kak Dimas
mendengar ucapan kak Dimas, Jenny langsung mengalihkan pandangannya ke kak Teo.
" kak Teo, hari ini kakak duduk di belakang sama aku ya."
" Terus yang nyetir mobil siapa? Ayah gitu?" tanya kak Teo
" Ya bukanlah, siapa lagi kalau bukan kak Dimas" jawab jenny
" iih.. kok jadi kak Dimas sih Jen?"
" Iyalah, terus siapa lagi? harus aku gitu?"
" Yasudah kalau gitu kamu aja?"
" Ya, aku mana bisa"

kak Teo yang mendengar percakapan adik-adiknya hanya menggeleng-gelengkan kepala.

" hus.. pagi-pagi sudah bertengkar" ucap Ayahnya
Jenny dan kak Dimaspun langsung diam
" Sudah jangan bertengkar. Untuk hari ini yang bawa mobil Dimas, ok." ucap ayahnya lagi dan langsung berjalan menuju kedalam mobil
" kok gitu si yah?"
" emang enak..nakal sih sama adenya" ledek Jenny puas
" Sudah terima saja, gantian dong sekali-kali aku duduk dibelakang sama Jenny. Ya gak Jenny?" timpal kak Teo kepada adiknya Dimas
" iya, betul banget kak Teo. Ayo sekarang kita masuk kedalam mobil" ucap Jenny bahagia

Disepanjang perjalanan Jenny dan kak Teo saling bercengkrama, sementara Ayah menikmati lagu yang diputarnya di dalam mobil, sedangkan kak Dimas mengendarai mobil dengan muka cemberut.

" nih udah sampai, parkirannya sebelah mana Jen? " tanya kak Dimas
" kakak masuk aja terus belok Kanan lalu belok kiri. Itu tempat parkiran mobil"

Dimaspun mengikuti arahan dari adiknya

" Yah kak, udah lumayan penuh nih. Tolong gantiin dong?" ucap Dimas pada kak Teo
" Yaudah yang lainnya turun aja, biar aku yang parkirin mobil dulu. Nanti aku nyusul"

Akhirnya Ayah, Dimas dan Jenny pun turun dari dalam mobil dan kemudian mereka mencari tempat duduk yang pas sedangkan Teo yang sudah ditinggal masih memarkirkan mobilnya.

" Ayah, kak Dimas, aku pamit ke kelasku dulu ya"
" ok"

Jenny langsung menuju kelas sementara Ayah dan kak Dimas ikut berbaur bersama wali murid lainnya yang antusias untuk menonton pertunjukan persembahan dari anak-anaknya.

Waktu sudah menunjukan pukul 07:30, acarapun segera dimulai. Acara kali ini diawali sambutan dari Kepala Sekolah lalu dilanjutkan oleh Tarian daerah yang di bawakan oleh kelas IX, setelah itu acara pentas Teater Malik Kundang dari kelas VIII A dan kemudian di tambah lagi pentas Teater Batu Menangis dari kelas VIII B. Kemudain acara selanjutanya Pembacaan Puisi dari kelas VII B, setelah pembacaan puisi dari kelas VII B. kemudain acara itu berlanjut kekelompok Jenny dengan kelas VII A, kelompok merekapun sudah di panggil oleh pembawa acar. Jenny dan teman-temannyapun langsung berbaris ketempat yang sudah diatur sesuai dengan latihan sebelumnya.

setelah susunannya semua sudah rapih, tak lama kemudian terdengar kode suara piano berbunyi.

Ternyata guru Seni Budaya kali ini yang akakn mengiringi murid-muridnya bernyanyi diiringi dengan suara musik piano. setelah sang guru selesai memainkan piano, murid-murid pun langsung menyanyikan lagu mereka.

Saat ku lihat kembali.. 
Bunga kenangan Itu...
Kenangan dari masa keciku
Mengalir didalam dadaku 

Dengan bebas ku berlari
Melihat bukit dan lembah yang indah
Aku tak bisa kembali
Kemasa Itu lagi

Sedikit demi sedikit kayu telah beranjak menjadi dewasa
Sambiil memeluk impian
Yang takkan pernah pudar
Aku takkan pernah menyerah 
untuk menggapai harapanku ....
" Inilah persembahanku untukmu Ibu" ucap Jenny dalam hati sambil tersenyum.
 

Kamis, 18 September 2014

Kutu Tak Ber- Bunga

Tuan,
Sinar surya mu
Sungguh tak terkalahkan
Entah itu siang atau malam
Engkau begelimang dengan bunga-bunga itu
Sinar surya mu sangat sepadan
Diantara bunga-bunga itu

Entah sampai kapan,
Aku bisa menjadi bagian bunga-bunga itu
Aku tak tahu?

Ingin hamba sampaikan,
Tulus dan kasih ini
Namun, apa daya
Siapakah diri hamba?
Berani berucap

sudah ku coba menyusuri sinar suryamu
semuanya terlihat sia-sia
Aku sungguh berbeda
dari kerumunan bunga-bunga itu

Aku ini binatang kecil
yang mungkin dapat mengikuti sinarmu dari kejauhan
Meski tanpa sayap yang kupunya
aku mampu melompat tanpa rasa lelah

sungguh aku hanya KUTU
yang tak mungkin bisa
kau lihat dan kau raih
Aku hanya KUTU
yang tak akan pernah bisa
berubah menjandi kumbang bersayap
ataupun bunga-bunga indah
untuk dapat berada disekelilingmu

Jumat, 06 Juni 2014

Antara Aku, Kamu dan Dirinya


" Pedih rasanya saat kebenaran itu terungkap semuanya secara tiba-tiba dan tidak terduga, air mata yang sudah terlanjur  jatuhpun takkan mampu menghapus semua rasa sakit ini. Semua karena hadirnya sebuah undangan itu yang mengantarkan aku kepada titik kehancuran dan  bahkan hati dan perasaan ini remuk dibuatnya. Jujur,  seharusnya aku yang bersanding dengannya bukan perempun yang pernah aku kenal itu , aku yang pertama menemukannya kembali. Andai saja mereka tahu bagaimana rasanya sakit yang ku alami saat ini setelah  melihat 2 undangan dan harus mendatangi acara pernikahan keduanya, mereka orang yang kukenal dan kusayang namun dalam waktu yang bersamaan mereka telah menghancurkan semuanya.   AKU BENCI DENGAN KENYATAAN INI !!! ” keluh Dinda yang ia tulis dalam buku Diarynya pada hari itu.

Sejak kedatangan dua undangan yang tak terduga dari orang yang ia sayang  sampai saat ini air mata Dinda tetap masih mengalir seakan tak ingin berhenti.
Tiba-tiba pintu kamar Dinda terbuka, Dindapun melihat kearah pintu kamarnya dan langsung menghapus air matanya. Tak beberapa kemudian seseorang yang bertubuh mungil masuk kekamar Dinda, gadis kecil ini masih terlihat polos dan belum pernah merasakan permasalahan sedikitpun,  yang ia pancarkan saat ini adalah wajah ceria yang telah berhadapan langsung di wajah Dinda.


“ Tante, temani aku main lagi ya? ” Pinta anak kecil itu

Dinda mendengar permintaan dari keponakannya hanya menghela nafas dan memasang senyum selebar-lebarnya, entah ia senang dan menuruti permintaan keponakannya dengan senang hati ataukah sebaliknya dan menyesali mengapa anak kecil ini yang memanggil dirinya tante tak mengerti akan situasi yang ia hadapi saat ini.

Mengelus rambut anak kecil yang berada dihadapannya dengan lembut
“ Theo sayang, maaf ya tante sedang tidak bisa menemani kamu main hari ini ” ucap Dinda lembut
Theo menatap mata tantenya dengan rasa penasaran, Dindapun tak tahu kalau keponakannya saat ini sedang memperhatikan raut wajahnya saat ini.
Dengan lugunya Theo bertanya “ Tante kenapa matanya? ”

Dindapun terkejut mendengar ucapan Theo, ia khawatir keponakannya tau kalau ia habis menangis dan pasti anak kecil ini akan mengadu pada seisi rumah dan membuat mamanya khawatir.

“ gak apa-apa koq sayang ”
Setelah menjawab pertanyaan dari keponakannya, Dinda pun langsung berusaha menyembunyikan ekspresi sedih di wajahnya saat ini dengan langsung kembali ceria.
“ Tante, bohong itu dosa loh. Bunda sering bilang kalau kita gak boleh berbohong, nanti Allah S.W.T marah sama kita”
Dindapun diam terpaku mendengar ucapan keponakannya itu, ia merasa tersudut oleh ucapan keponakannya tadi. Tanpa banyak bicara lagi ia langsung bangkit dari kasurnya dan mengambil kacamata tanpa ukuran min ataupun plus untuk menutupi pemandangan yang tidak indah dari matanya dan ia juga berfikir mungkin dengan memakai kacamata ini seisi rumah tak mengetahui apa yang telah terjadi dengan matanya, mungkin saat ini ia enggan menjelaskan hal ini bila keluarganya tau.

“ Baiklah tante akan menemanimu main. Tapi kita mainnya di halaman belakang saja ya dan tidak lama-lama.”
“ kenapa koq kita tidak main di halaman luar ”
“ Tante lagi sakit mata, tante gak mau nanti dilihat orang banyak. Oya, kalau teman-teman theo menunggu di halaman depan ajak saja mereka kehalaman belakang kita main disana.”
Thoepun menganggukan ucapan tantenya tadi
“yasudah sekarang kamu ajak teman-teman kamu sana, nanti tante menyusul. Tante mau merapihkan kamar dulu ”
 “ Oke ” dengan wajah ceria, Theopun beranjak dari kamar Dinda dan memanggil teman-temannya sesuai dengan pesan tantenya tadi.

Tak beberapa lama Dinda sudah berada diarea dapur untuk meminta dibuatkan jus jambu merah (jambu biji) dan diantarkan kehalaman belakang, setelah itu ia langsung berjalan menuju halaman belakang, tak terasa langkah kaki terhenti setelah ia tak sengaja melihat radio antik ini tergeletak di meja dapur.

“ Bi, ini radio siapa? Bentuknya antik ” tanyanya pada sang bibi yang sedang memotong dadu buah jambu merah
Melihat kearah benda yang dituju “ Oh itu, radio itu punya mang Danu. Sepertinya ia baru saja membeli radio itu di tukang barang antik-antik gitu non ”
Memegang radio antik milik mang Danu seolah ia terpikat dan menyukai bentuk radio itu
“ bi, aku boleh pinjam radio ini gak. Yah setidaknya biar tidak bosan menemani Theo main jadi aku bisa denger radio ”
“ silahkan non, pakai saja”
“oke, makasih ya bi. Oya, tapi nanti kalau mang Danu nanyain radionya dimana bilang saja lagi dipinjam aku sebentar di halaman belakang”
“siap non ”

Dinda hanya membalas senyuman dan langsung beranjak menuju halaman belakang.  Sambil berjalan, tangan dan mata Dinda sedang melihat dan mencoba memutar-mutar tombol untuk mencari gelombang dan chanel radio saat ini yang sedang memutar lagu yang cocok saat ini.
 “ Theo, kamu koq duduk disini kenapa gak main sama temen-temen kamu ? ”
“ aku tunggu tante datang kesini ”
“ oh, yasudah sekarang tantekan sudah ada disini kamu main sana. Tante duduk di tepi kolam ikan hias ya ”
“ iya, sekarang aku main sama Cill dan Call. Bye tante..”
Dinda hanya mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Theo yang sudah berlari menghampiri Cill dan Call kedua temannya yang sejak tadi sudah berman terlebih dahulu.

Sudah cukup lama ia memutar-mutar gelombang frekuensi radio fm, namun belum juga menemukan yang pas, karna banyak lagu yang sedang diputar tidak sesuai dengan isi hatinya saat ini. Tak beberapa lama kemudian Hp Dinda berbunyi, sebelum mengangkat ia melihat nama yang mucul dilayar Hp-nya.
Mengerutkan jidatnya “ Ane ? ” ucapnya yang kemudian memencet tombol hijau
“ ya halo, ada apa ne?! ” ucapnya singkat seolah ia hari ini tak ingin banyak bicara

“ wesss.. santai dong. Ini gw cuma mau mastiin aja lu sore ini jadi gak dateng ke acara pameran? Karna gw mesti cek data biar lebih kelihatan banyak yang siap datang.”
“oh, itu. Gw juga belum mastiin  dateng apa gaknya, tapi kalau jadi sore gw sms lu deh dan gw bawa mobil sendiri kesana kalaupun jadi. Oya, emang acaranya hari ini ya? gw kira minggu 
depan.”
“ ya hari inilah, gimana si lu. Bagus gw telepon lu nih jadi secara gak langsung gw ingetin lu”
“iya, thanks”
“ eh, nanti kita sekalian jalan ya habis dari pameran. Kapan lagi coba kita bisa kumpul dan jalan bareng  sama anak-anak, mungkin setelah dari acara pameran anak-anak ada yang sebagian ikut mobil lu. Gak apa-apa kan?”
“ iya, gak masalah. Lagian gw sendiri di mobil, hitung-hitung gw ada yang nemenin dalam perjalanan nanti.”
“oke. Oh ya, tadi gw habis dari acara penika..haaan.. si.. emmm.. (Ane langsung mengurungkan 
 niatnya kembali yang ingin ia ucapkan saat ini pada Dinda)”
Dinda langsung mengerti “ Ia gapapa, lu sebutin aja namanya. Lagi pula gw gak tau mau dateng atau gak kesana, sepertinya hasrat gw kurang untuk beranjak kesana. Makanya gw belum 
mutusi mau pergi kemana hari ini, masih bingung”
“oh, gitu. Ya udah deh, kalau udah fix lu mau pergi keacara yang mana kasih kabar ke gw ya”
“ Ok, eh udah dulu ya. gw lagi jaga keponakan gw main”
“ok, see ya”
Dinda langsung mematikan panggilan teleponnya lalu ia pun dengan isengnya memainkan gemericik  air kolam dengan menggunakan kakinya. Tak lama tatapan Dinda kini berubah menjadi kosong dan menerawang  jauh meski orang lain tak bisa mengetahui hal yang sebenarnya namun mereka yang melihat hanya menilai kalau Dinda sedang mengamati bebatuan yang tersusun rapih dikolam-kolam ini. 

Menyentuh pundak Dinda “ Non,” panggil bibi yang membuyarkan terawangannya tadi
Menoleh kebelakang “ eh.. iya bi. Ada apa?”
“ ini jusnya, dari tadi bibi panggil-panggil sama kasih tau jusnya ada disamping si non gak menjawab ucapan bibi”
“ oh ya, maaf ya bi. Saya lagi gak konsen”
“ iya kelihatannya si non serius banget lihat batu-batu yang ada di kolam sampai gak denger bibi 
tadi ngomong”
Dinda hanya tersenyum
 “ non lagi gak ada masalahkan, bibi khawatir kalau non kayak gini”
“ ah.. si bibi ini, aku gak apa-apa koq. oya makasih ya bi jusnya”
“ iya sama-sama, jangan melamun lagi non nanti kesambet loh. Oya, ini jusnya jangan sampai kesenggol nanti tumpah soalnya bibi taro di sebelah non”
“ iya.. sekali lagi makasih bi”
“yasudah saya masuk kedalam dulu ya non, mau ngelanjutin pekerjaan”
Tak lama bibi yang mengentarkan jus beranjak menuju dalam rumah. Sebelum tubuh sang bibi masuk kedalam rumah Dinda memanggilnya lagi
“ bi..”
Langkah sang bibi terhenti dan membalikkan badan kemudian menghampiri sang majikan
“ ada apa non?”
“ aku mau tanya. Orang-orang dirumah pada kemana, koq sepi si dari tadi?”
“oh, anu non. Nyonya sama Non Nella pergi kepesta undangan yang undangannya itu mirip sama kayak undangan milik non Dinda waktu itu. Tadi sih Nyonya sama non Nella mau ajak non Dinda tapi katanya kamar non Dinda sepi dan gak ada suara di panggilin dari tadi, disangka non udah pergi dari tadi.”
“oh, begitu. Lalu Rico sekarang ada dimana, koq gak ikut temenin adiknya main sekarang?”
“ Den Rico ikut non sama nyonya dan non Nella”
“ Kira-kira mama sama mba Nella pulangnya jam berapa ya bi? Soalnya kemungkinan nanti saya mau pergi. Si Theo kasian nanti cuma bertiga sama bibi dan mang Danu”
“ kurang tau ya non, soalnya nyonya sama non Nella gak bilang pulang jam berapa?”
“oh yasudah, nanti aku sms mama sama mba Nella aja. Makasih ya bi?”
“iya” bibi pun langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Dinda yang masih duduk di tepi kolam halaman belakang

Dinda kemudian melanjutkan mencari saluran gelombang frekuensi radio yang ia inginkan. Tak sengaja pencariannya terhenti di chanel 75,3 fm.

   “ Baiklah sobat gaul kita masih bertemu kembali di 75,3 fm , sebagai awal pembuka pertemuan kita siang ini kita akan mendengarkan lagu-lagu dari Agnes monica dengan judul Matahariku lalu juga kita putarkan lagu Raisa dengan judul Apalah ( Arti Meunggu ) juga D’massive dengan judul Apasalahku dan yang terakhir Naiff dengan judul Benci untuk Mencinta. Oya, bagi kalian yang ingin salam-salam kepada siapa atau mau request lagu silahkan kirimkan nama penyanyi dan judul lagunya melalui sms ke no 081699478853. Sambil menunggu sms dari kalian mari sama-sama kita dengarkan lagu dari Agnes Monica dengan judul Matahariku, selamat menikmati lagunya...”

Dinda langsung memutar volume suara radionya dengan full

Tertutup sudah pintu, pintu hatiku
Yang pernah dibuka waktu hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Kuharus relakanmu walau aku tak mau...
Berjuta warna pelangi didalam hati
Sejenak luluh bergeming menjauh pergi
Tak ada lagi cahaya suci
Semua telah beranjak aku terdiam sepi..
Dengarlah matahariku, suara tangisanku
Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku..uu
Ucapkan matahariku puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu manaklukan waktu......
...........................................................................................
( Agnes Monica – Matahariku )

Kini air mata Dinda menetes kembali dan jiwanya terhenyut dalam syair lagu yang ia dengar dalam radio itu, dengan tatapan kosong kembali ia teringat kejadian yang lalu. Kejadian dimana ia masih baik-baik saja dan sampai pada akhirnya ia bisa merasakan sesakit ini.

“ Win, lu tahukan Reza yang tempo lalu gw ceritain sama lu?”
“ iya, kenapa?”
“ gw habis jalan sama dia kemarin”
“oya, masa sih? Koq lu baru cerita sekarang.”
“ iya maaf, ehh dia ternyata orangnya baik banget. Sopan, perhatian, asik diajak ngobrol duuuhh tipe gw banget deh”
“ terus..terus...”  ucapnya yang masih penasaran
“ yaudah kita jalan aja dan sambil ngobrol-ngobrol gitu
“ cie yang lagi falling in love ” goda Wina
“ iihh.. apaan si lu, jangan kayak anak SD deh. Eh iya gw ada kartu namanya nih, lu mau lihat gak?”
“ gak ah, gak penting buat gw. Lebih baik gw lihat orangnya sekalian, jadi penasaran seperti apa si dia sampai-sampai lu puji-puji dia terus. Yah kali aja gw ikut kecantol sama dia..”
“ iihh.. apa si Wina..”
“ haahaa.. cie.. cemburu. Ck! Udah malem ni Din, lu cerita terus dari tadi emangnya lu gak mau tidur apa? Dan emangnya lu gak mau mimpiin dia dalam tidurlu..?” Goda Wina lagi
“ledekin aja terus..”ucapnya kepada wina sambil memasang muka cemberut
“ yaudah gw  gak ngeledekin lu lagi. Gw udah ngantuk nih, ceritanya dilanjut nanti lagi aja ya? bye gw mau tidur”
Wina pun langsung mematikan lampu kamar dan kemudian menarik selimutnya kemudian Dinda ikut menyusul wina beranjak tidur.
 

 Memori Dinda kali ini tidak hanya terhenti disitu saja ia juga masih mengingat yang lain.

" Dimana sih wina, koq jam segini belum datang juga?" gerutunya yang sejak tadi sudah menunggu sekitar  20 menit yang lalu
Tak lama kemudian Dinda mengeluarkan Hp dari dalam tasnya dan mengetik sms untuk manyakan keberadaan wina.
" Wi lu dimana, gw udah sampai nih. Bls cepet!"
Dinda menunggu balasan sms dari wina, tak beberapa lama kemudian wina membalas.
" Sorry din, gw lupa bilang sama lu kalau hari ini gw gak bisa datang. dirumah mendadak lagi kedatangan tamu, kata nyokap sih rekan kerjanya papa yang udah lama gak ketemu, udah dulu ya Din. bye..
oya, salam buat Reza."
Berjalan menghampiri Reza di tempat janjian
“ Reza...” teriak Dinda sambil melambaikan tangan
“ Hai, Din..” sahutnya
“ Sorry ya telat. Udah nunggu lama ya..?”
“ udah gapapa, aku juga nunggunya gak terlalu lama koq. Oya temen kamu mana? Katanya kamu mau ajak dia juga hari ini”
“ nah itu dia permasalahannya, dari tadi aku tuh nungguin dia makanya aku kesini telat. Karena lama banget akhirnya aku sms dia, eh  tau-taunya dia gak dateng dan katanya sih dirumah dia mendadak sedang kedatangan tamu”
“ oh, begitu yasudahlah. Kalau gitu kita langsung cari tempat makan yuk, udah siang nih belum makan”
“ ok, oya kamu dapet salam  tadi dari sahabat aku”
“ ya salam balik. Eh enaknya hari ini kita makan apa ya?”
“ emm.. terserah aja deh, aku si ikut aja dan gak masalah yang penting makan. heheee..”
“ ok.. berangkat ”
Mobil yang dikendarain Rezapun sudah melesat jauh dari tempat yang tadi.


Pukul 07.30 pagi..

Dinda memencet bel rumah Wina.
" NEEEEETTTTTT....! "
mendengar bel rumahnya berbunyi Wina segera membuka pintu
 “ Hai, Din. Tumben lu pagi-pagi udah kerumah gw”
“hee.. iya nih win, gw mau cerita sama lu”
“ cerita apa? ... sini masuk yuk. Emm.. pasti soal Reza ya.”
“ Koq lu tau ?!”
“ ckckck.. selain dia, lu mau cerita tentang siapa lagi?”
“ yee.. elu. Seolah-olah tema cerita gw tentang dia terus.” Jawab dinda cemberut
“ emang,” sahut wina singkat
Kemudian wina menarik tangan Dinda
“ Udah ayo kita masuk kedalam, entar dilalerin kalau terus diluar” ucap wina sambil tersenyum melihat wajah Dinda masih cemberut
Dinda yang sejak tadi ditarik tangannya oleh wina ia tak membantah ataupun berkomentar ia masih mengikuti langkah wina dari belakang, tak beberapa lama ekspresi ia berubah menjadi heran mengapa ia dibawa keruangan ini.
“ehh... win, koq lu ajak gw kesini sih?” ucap Dinda heran
Wina mengeluarkan senyum sinisnya
“ hah, lu tanya gw. Kenapa gw ajak lu kesini!” ucap wina sambil menahan tawa
“apaan si lu, serius gak lucu tau gak?”
“ emang gak lucu, lu kira gw lagi ngelawak. Harusnya lu tau dong kenapa gw ajak lu kesini, gw 
 ajak lu kesini mau sandra lu! Puas lu!” ucapnya sambil menahan ingin ketawa melihat sahabatnya yang sedang ia kerjain
“ sakit lu!”
“emang gw sakit, kenapa baru tau? Ha..!”
“ lepasin gw, gw mau pulang!”
 “ sorry, sayangnya lu gak bisa pulang. Daripada lu banyak tanya mending lu masuk kedalam sini dari pada nyawa lu melayang”
Muka Dinda kali ini pucat dan ketakutan ia tak menyangka kalau Wina sahabatnya ingin mencelakainya, tanpa pikir panjang dan karna takut nyawanya hilang ia mengikuti perintah wina dan Dindapun masuk kedalam ruangan yang dituju.
“ din, muka lu gak usah pucet gitu juga kali. Masa iya gw mau sandra lu, oon banget si lu”
“ iihh.. gak lucu tau!” jawabnya kesal
“ udah gak usah marah, gw kan cuma mau ngerjain lu doang”
“ bodo!”
“ yee... yaudah kalau marah”
“ lu ngapain si ajak gw ke gudang, tapi koq gudangnya beda yah gak berantakan” ucap Dinda sambil melihat isi sekitarnya yang tersusun rapih
“ oh.. gw ngajak lu kesini buat nemenin gw disini sekalian gw juga mau ambil barang-barang yang udah lama gak gw ambil dan udah lama juga gak gw letakan ketempat yang seharusnya mereka berada.”
“ Maksudnya?!” tanya Dinda heran
“ udah deh gak usah nanya lagi, nanti juga lu tau dan gw akan menjelaskan semuanya tapi intinya lu maukan bantuin gw. Soalnya banya banget nih barang-barangnya..”
“oke, oya win emang gudang lu harus rapih kayak gini ya?”
“gak, kata siapa?”
“ nih, buktinya”
“dirumah gw ada dua gudang, yang satu gudang yang biasa untuk menyimpan barang-barang yang mungki bisa dikatakan tidak terlalu penting dan yang ini gudang untuk menyimpan barang yang masih dianggap penting makanya kondisi didalam gudang ini terlihat rapih, karna masih ada barang- barang berharga” ucap wina sambil mengotak-atik kunci lemari dan laci di dalam gudang
“oh..” ucap dinda sambil melihat-lihat namun kali ini matanya tertuju pada sebuah kotak
Wina langsung menengok kearah Dinda
“ Kenapa? Masih terpesona sama barang- barang yang ada disini?”
Dinda membalikkan badan dan memegang sebuah kotak yang entah isinya apa
“ entahlah, mungkin bisa jadi. Oya ini kotak apa?”
Wina mengambil kotak itu dari tangan Dinda sambi tersenyum
“ini, kotak ini diluarnya aja sangat sederhana. Tapi isinya sangat penting dan berharga untuk gw”  
Dinda hanya mengerutkan jidatnya saja
“ini adalah kenangan gw, kenangan yang hampir ingin gw kubur pada waktu itu. Setiap gw lihat kotak ini hati gw selalu sedih, ya.. sedih akan sebuah perpisahan bersama orang itu. Namun entah kenapa beberapa minggunya orang itu mengirim gw sebuah surat, jadi pas bokapnya ngirim dan titipin surat kontrak kerjanya ke bokap gw untuk teman kantornya yang lain, dia juga ngirim surat ini untuk gw.”
Sebelum melanjutkan cerita Wina membuka surat duplikat dan memberikan kepada Dinda, Dinda mengambil surat yang diberi Wina dan melihat bentuk tulisan tangannya.
“inti dari surat ini adalah dia akan balik kesini pada saat kami sudah mau memasuki umur 23 dan pada taggal 23 itupula dia sudah berada disini, sayangnya pada surat itu dia tidak mencantumkan pada bulan apa ia akan kembali kesini. Pada saat itulah gw mengurungkan niat untuk mengubur semuanya, bahkan surat aslinyapun masih ada dan tersimpan rapih didalam kotak ini. Setelah membaca surat itu akhirnya gw memutuskan untuk menunggu bahkan sampai detik ini gw menunggu dan gw berharap semoga dia gak lupa dengan janjinya, dalam penantian itu gw selalu memohon dan berdoa kepada Tuhan agar gw cepat berumur 23.
Jujur ya Din, setiap menunggu-nunggu waktunya untuk cepat-cepat tiba gw tuh ngerasa penantian gw terlalu lama, karena waktu berjalan terlalu lamban sehingga penantian gw cukup melelahkan. Hingga pada akhirnya gw memutuskan untuk meletakkan kotak ini didalam gudang dan gw akan mengambil kotak ini kembali pada saatnya nanti bersama yang lainnya, lalu akan gw letakkan pada tempat yang seharusnya.”
“ oh, gitu. Jadi ini yang lu maksud” ucapnya dengan tatapan kosong seolah ia sedang membayangkannya
Melirik Dinda dan Wina hanya tersenyum, kemudian ia melanjutkan ceritanya lagi
“ Dan sekarang gw udah berumur 23. huh.. rasanya gw kayak orang gila din, karna setelah gw umur 23 setiap kalender ditiap bulannya gw melinggkari tanggal 23 itu sangkin semangatnya dan sekarang gw tinggal menunggu entah dibulan apa. Sekarang sudah bulan ke -6 tanggal 20 namun detik ini dia belum kasih kabar ke gw. Belakangan hati gw jadi terasa kacau balau, gw bingung apakah gw harus bahagia karena sebentar lagi bisa bertemu dia lagi atau sebaliknya”
“ positif thinking win, dia pasti balik kesini dan harusnya lu seneng dong akhirnya penantian lu sudah mendekati endingnya meski panjang tapi intinya gak sia-sialah.”
“ semoga saja, thanks ya”
“iya, sama-sama. Oya BTW, nama orang itu siapa?”
“ Rizky Erfando Zasky. Eh iya katanya lu mau cerita tentang Reza ke gw, kenapa sama dia?” tanya wina sambil meletakkan barang-barang yang ia inginkan ke dalam kardus termasuk kotak tadi.
“ Gak jadi, udahlah lupain aja. Cuma kemarin dia hanya bercerita tentang masalalunya, yaa.. kayak lu tadi cerita masalalu elu sama gw”
“ maksudnya ceritanya sama?”
“ yah gak lah, elu kan sama dia beda. Gimana si lu? Kecuali Reza yang ini bagian dari masalalunya elu.”
“ ya kalii.. eh terus?”
“ terus gimana, yaa.. intinya satu hari full itu gw jadi pendengar setianya dia. Kaya lu tadi gw jadi pendengar setia lu, mana banyak banget lagi ceritanya”
“ yaelah diin.. segitunya lu sama gw. Kan baru ini gw cerita banyak sama lu, perhitungan banget si sama sahabat sendiri”
“siapa yang perhitungan, gw sih gak masalah ya jadi pendengar setia buat sahabat gw. Tapiii.. masa iya lu tega dari tadi gw gak dikasih minum, cerita si boleh-boleh aja tapi jangan biarin kerongkongan kering dong tega banget si”
“ hahahaa... Astaga gw lupa, sorry ya din. Sepertinya barang-barang yang gw cari juga udah terkumpul semua kalau gitu kita pindah keruang tamu yu atau gak kita kekamar gw sambil merebahkan badan sebentar.”
“ boleh, oya terus barang-barangnya ditaro sini aja”
“ gak, nanti mang Asep yang bawa  ke kamar gw. Sekarang dia lagi ngerjain tugas dia dulu.”
“ yasudah”
“eh, lu mau minum apa nih?” ucapnya sambil berjalan menuju dapur
“ apa aja deh, yang penting yang seger-seger deh”
Menuang minuman dingin “ siap bos. Eh sekali lagi thanks ya Din” ucapnya kemudian memberi minuman kepada Dinda
Tanpa lama-lama Dinda langsung meneguk air yang diberi Wina dan Dinda juga tak menjawab ucapan wina tadi karena sangkin hausnya. Wina yang melihat Dinda kehausan seperti itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


23 Juni,  10 : 25 a.m

“ Kriiiing...kriiing...”
Tangan Dinda meraba kearah meja dan mengambil handphonenya yang sejak tadi berbunyi
“ haloo..” sapanya dengan suara masih serak
“ hei, anak gadis. Jam segini belum bangun, males banget si lu nanti jodoh sama rezeki lu dipatok ayam loh kalau suka bangun siang”
“hmm... apaan sih win, masih pagi tau. Ngantuk nih gw”
“enak aja masih pagi, lihat jam di dinding lu sekarang udah jam berapa?”
“hmm.. ada apa lu telepon gw, tumben jam segini udah telepon-telepon. Kangen yaa sama gw, hehee” ucapnya sambil membuka jendela kamar
“ enak aja kangen sama lu, liat muka lu aja bosen gw. Hahhaa....”
“hehee.. kurang ajar, kalau kyak gini telepon pasti ada something.”
“tau aja, iya nih ada something. Tadi jam 7 pagi gw dilamar”
Mendengar kabar dari Wina mata Dinda melotot sanking terkejutnya.
“Apa?! Serius lu? Wah bercanda dan mulai ngigo lu.”
“seriuuss... ngapain gw bercanda”
“yakin nih kabarnya bukan hoax”
“iyaaa Dindaa.... ngapain gw bohong sii..”
“ lu dilamar sama siapa? Lu kan gak punya pacar dan gak pacaran. Sampai detik inipun gw gak tau siapa dan bagaimana pacar ataucalon suami lu”
“ yealah Din, masih aja kayak gitu. Jodoh itu gak perlu dikejar kalau sudah takdir dan jodohnya gak bakal lari kemana-mana pasti datang dengan sendirinya atas kehendak Sang Maha Pencipta, kita kan sebagai umatnya gak tau apa rencana yang telah disusun oleh Tuhan. Semuanya serba rahasia dan sangat tidak terduga”
“iya si gw tau, tapi lu dilamar sama siapa? Penasaran nih gw..”
“lu taukan tempo lalu yang gw cerita digudang sama lu?”
“oh, lu dilamar sama dia. Cieee... selamat yaa.. kapan ketemunya?”
“ baru aja tadi gw ketemu sama dia pas lamaran, iihh.. seneng banget gw. Pokoknya hari ini rasanya campur aduk deh”
“ baru ketemu?” gumamnya sendiri
“ haloo din, lu denger gw gak si?”
“ahh... iya gw masih denger lu koq. eh gw mau tanya deh, lu kan baru ketemu hari ini koq lu bisa tau-tauan dilamar gitu si? Masih heran gw”
“oh itu, gw juga tadi shok banget. Gw juga gak tau kalau mau dilamar sama dia, jadi ceritanya gini lu inget ga waktu gw gak jadi pergi sama lu dan Reza”
“oh iya, kata lu kan ada temen bokap lu ya yang mendadak datang main kerumah lu”
“ nah itu dia, ternyata mereka datang kerumah gw bukan cuman silaturahim mereka juga udah ada niatan untuk mau ngelamar gw. Semuanya udah diatur begitu aja, gw kira juga kemarin temen bokap gw dateng itu siapa.. eh tau-taunya orang tua si Fando gw si gak eungeh sama muka orang tuanya karna gw lupa, kan gak pernah ketemu setelah perpisahan waktu itu.”
“ pantes aja lu gak jadi pergi sama gw dan Reza, berarti waktu pertemuan itu lu udah ketemu dong sama dia”
“ justru itu, pas acara pertemuan itu dia gak ikut hadir. Yang dateng cuma orang tuanya doang, gw sih gak ada feel kesitu. Dan yang lebih mengejutkan tadi ternyata mereka udah pindah ke Jakarta sekitar 2 minggu yang lalu, gila gak tuh.”
“ gila hari ini betul-betul surprise banget ya buat lu”
“Banget diiin.. dan yang lebih parahnya lagi orang tua gw gak cerita sama sekali kalau gw hari ini mau resmi dilamar plus sekalian tunangan. Pas malemnya nyokap gw kasih gw baju kebaya dan suruh gw bangun pagi katanya sih kita satu keluarga mau pergi untuk menghadiri acara temen nyokap gw yang mau tunangan. Eh tau-taunya pas pagi malah gw yang di lamar dan langsung tunangan”
“ seneng banget jadi lu, tapi gw tetep ikut bahagia koq. Sekali lagi selamat yaa.. tinggal gw deh yang nyusul. Oya terus kapan lu nikah?”
“ iya nih tinggal elo, emm.. kalau masalah nikah katanya si orang tua kita udah ngomongin dan sepakatin untuk di tanggal 23 bulan depan. Astaga ini hal paling bersejarah banget dalam hidup gw. Oya din, nanti tanggal 18 bulan depan lu temenin gw untuk cobain baju pernikahan yang terakhir yaa.. sekalian gw mau kenalin calon suami gw ke elo”
“ok, gw dateng. Nanti lu smsin aja ya alamatnya, gak sabar nih gw mau lihat lu dipelaminan”
“ iya nanti gw smsin, oya tanggal 18 juga gw sekalian mau kasih undangannya ke elo. Tapi undangan yang untuk lu gw bedain karna lu tamu yang paling spesial buat gw bukan cuma lu si yang gw kasih undangan berbeda, kak Nella dan nyokap lu juga gw kasih undangan yang berbeda dari tamu-tamu yang lainnya. Intinya khusus elu dan keluarga lu gw kasih undangan yang spesial, lu nanti jangan lupa hadir yaa. Pokoknya lu harus hadir, gw gak mau tau!”
“iya baweeelll... masa sahabatnya sendiri nikah gak hadir sii.”
“ok gw tunggu ya nanti di tanggal 23 bulan depan”
“ Eh acara hari ini lu udah selesai?”
 “acara gw udah selesai dari jam 10 pagi tadi. Nyokap gw sama nyokap dia pada langsung jalan ke tempat katering sama tempat sewa gedung untuk acara bulan depan nanti. Sedangkan bokapnya sama Fando pulang, katanya sih Fando lagi mau ketemuan sama temennya. Mungkin mau kasih kabar ketemen-temennya kali, kayak gw sama lu sekarang ini”
Setelah mendengar kata Ketemuan yang diucapkan wina tadi membuat ia tersadar kalau hari ini dia mau bertemu dengan Reza jam 1 siang nanti. Kemudian ia pun langsung bergegas melihat jam di dinding.
“ Astaga, gw hampir lupa!”
“ kenapa din?”
“ gara-gara lu nih, gw keasikan ngobrol. Gw jadi lupakan sebentar lagi gw mau jalan sama Reza”
“ ciee.. yang mau jalan sama Reza. lu mau ketemuan dimana?”
 “ dirumah, dia mau jemput gw dulu dirumah habis itu kita jalan deh. gw siap-siap dulu ya.. udah jam 12 : 10 siang nih, nanti kita lanjutin lagi deh..”
“ eh jangan di matiin dulu, gw mau tanya nih sama lu. Lu udah jadian sama Reza?”
“ belum. Gw sama dia gantung win, akhir-akhir ini perasaan gw ke dia aneh. Kadang gw suka kadang gw enggak suka dan anggap dia biasa-biasa aja, gak tau nih kenapa. Gw si gak mau ambil pusing, tapi intinya yang gw tau emm.. sepertinya gw naksir dia. Tapi gak tau deh, dia ke gw bagaimana?”
“jangan putus asa, positif thinking aja. Sama seperti lu pernah bilang sama gw untuk positif thinking.”
“ iya gw juga positif thinking, tapi gw juga berhati-hati takut disangka kepedean. Tapi dianya gitu si suka kasih kode atau signal-signal gitu ke gw, yahh.. kayak perhatian, peduli, baik, dll deh pokoknya. Gw si mencoba untuk bersikap biasa aja setiap dia bertingkah seperti itu bahkan sampai detik ini pun sikapnya dia masih sama dan gw jg sampai detik inipun yang mendapat perlakuan seperti itu mencoba untuk bersikap biasa-biasa aja meski dalam hati gw seneng banget, tapi coba lu fikir deh cewe mana yang gak bakal lumer kalau tiap hari diperlakukan seperti itu”
“iya juga sih, emang sifat cowo mah susah ditebak. Suka kayak gitu, aneh. Oya, katanya lu mau siap-siap. Yaudah gih sana lu dandan yang cantik, have fun yaa.. bye”
“ oke, bye..”


25 hari kemudian

Pukul 09.00 Hp Dinda berbunyi, Dinda yang sejak tadi sedang menunggu sms dari sahabatnya langsung bergegas mengambil handphone setelah mendengar nada deringnya berbunyi.
“ Halo, win. Mana katanya lu mau smsin alamatnya”
“ mending lu catet aja deh alamatnya, gw takut lupa sms. Jln. kedoya baru no. 14 kav. F 5-6 nama butiknya Busana T. Fashion gw tunggu lu disana jam 11 siang ya. jangan sampai telat habis dari sana kita sekalian makan siang bareng, oya kalau bisa lu ajak Reza ya.. jadi kita kan bisa sekalian doubel date dan juga kita bisa saling ngenalin pasangan masing-masing”
“ gw kan belum jadian bahkan atau bisa dikatakan gak jadian sama dia, pakai acara doubel date segala. Gak ah, mending gw aja yang dateng. Lagi pula dia kayanya hari ini sibuk deh, gak usah ajak dia deh. Kalau mau kenalan nanti aja kapan-kapan gw kenalin tapi gak sekarang.”
“oh, gitu. Yaudah kapan-kapan yaa..”
“ ok, kita ketemu di butik nanti. See...”
Dindapun langsung bersiap-siap untuk bergegas menuju alamat yang dikasih temannya tadi.
“ halo selamat siang. Pak saya pesan taksi ke alamat kompleks Taman Indah no. 19 Jl. Perhutanan raya jakarta. Sekarang ya, terimakasih”
“ Din..” panggil mamanya yang sudah berada di dalam kamar Dinda
“ apa mah ”ucapnya santun dan tangannya juga tak berhenti memoles wajahnya
“ kamu mau pergi kemana, tumben jam segini udah siap-siap”
“iya nih mah, aku mau pergi ke butik. Ituloh si wina kan mau nikah nanti tanggal 23”
“wina mau nikah?! cepet banget, koq mama gak denger kabarnya si.”
“ iya, pokoknya ceritanya panjang deh mah. Aku gak bisa ceritain sekarang, buru-buru. Oya mama juga nanti dapat undangan dari Wina, eemm.. mah nanti kalau ada yang kasih undangan banyak jangan kaget ya itu dari Wina semua.”
“ iya, nanti mama simpan punya mu dimeja dekat tempat tidur ya”
“ ok,”

Tok..tok..tookk..
“ non, taksi pesanannya udah datang”
“iya tunggu sebentar” teriaknya sambil memakai sepatu wedges
“ udah ya mah aku pergi, takut macet nih dijalan. Ok bye mama... assalamuallaikum”
“waalaikumsallam, hati-hati dijalan” melihat anaknya sudah keluar dari kamar
Dinda bergegas menuruni anak tangga dan menuju halaman depan dimana taksi pesanannya sudah berada disana.
Bergegas masuk kedalam taksi “ pak nanti kita ke alamat ini yang ada di kertas ini ya”
“baik mba”
Kini taksi yang ditumpangi Dindapun langsung berjalan menuju tempat tujuan, sementara di tempat lain Wina sudah sampai di tempat butik bersama calon suaminya.
“ hai mba wina” sapa pemilik busana
“ hai, sis”
“oya, ini busananya yang terakhir. Silahkan dicobain dulu”
“emm.. aku nanti aja deh, soalnya aku lagi nunggu sahabat aku.”
“ yaudah kalau begitu Masnya aja duluan”
Wina mengangguk dengan cepat dan akhirnya Fando pun yang lebih dahulu mencoba pakaian pengantinnya. Sambil menunggu, Wina menanyakan kabar Dinda yang sekarang sedang berada dimana? Melalui sms. Tak beberapa lama kemudia Hp Wina berbunyi tanda sms balasan dari Dinda. 
" Sabar jalanan macet nih. paling sekitar 10 menit lagi gw sampai. tunggu aja ya."
“ Win,” panggil fando
“ ah ya.. ada apa?”
“ kamu lagi ngapain sih?”
“ ini, aku lagi sms sahabatku.  Aku tanya ke dia sekarang lagi ada dimana, koq belum sampai”
“oh.., oya gimana baju yang ini”
“emm.. bagus, pas lagi sama kamu”
“ iyalah sis, kan kalian udah berapa kali bolak-balik ketempat ougut. Jadi ukurannya hapal dan pas lah dibuatnya” lugas pemilik busana
Wina dan Fando saling melirik satu sama lain dan kemudian tersenyum mendengar ucapan pemiliknya yang udah mulai akrab dengan mereka berdua.
“ oke, yang ini kelihatannya gak ada cacat ya..  nah, sekarang cobain baju yang selanjutnya” ucap pemilik busana
Fando pun langsung mengikuti sang pemilik busana untuk masuk keruang ganti dan mencoba satu baju lagi.
Wina yang baru aja duduk kembali tak lama ia melihat seseorang yang tak asing baginya baru turun dari taksi.
“ permisi..” ucapnya seteleh membuka pintu butik
“ hei, din.” Panggil Wina di sudut sebelah kanan yang sejak tadi sudah menunggu
“ gak susahkan cari alamatnya,”
“gak, oya udah lama lu disini.”
“yaa.. lumayan, lu mau pesen minum apa”
“emannya disini ada kafe ya?” ucapnya heran dalam hati
“emang elu mau pesan minum dimana? Udahlah nanti aja kasihan lu suruh orang jauh-jauh untuk cariin gw minum” ucapnya polos
“ ckck.. din, makanya kalau jalan lu perhatiin sekitar dong. Sekarang lu ikut gw”
Dinda pun mengikuti langkah wina, tenyata gak jauh dari tempat yang mereka duduk tadi ada kafe kecil namun tempatnya sangat tidak terduga bagi para pengunjung baru seperti Dinda
“disini bukan cuma melayani tempat pembelian atau pemesanan baju, kata pemilik butiknya sih dia sengaja bikin kafe disini buat orang-orang yang lagi nunggu teman atau sanak saudaranya lagi cari atau cobain baju pastinya kan butuh waktu yang lama. Dari pada kita yang nunggu boring mending kita pesen mnuman dan cemilan aja. Jadi sekarang lu mau pesen minum apa?”
“ samain aja deh kayak lu .......”
“mba pesan orange juice ya satu lagi, nanti tolong anterin ketempat yang tadi”
Merekapun berjalan ketempat duduk yang pertama
“eh mana calon suami lu, penasaran gw mau lihat”
“tuh, sedang cobain baju satu lagi diruang ganti”
“ oh, eh toilet dimana ya win. Gw mau ke toilet dulu nih”
“ lu dari sini lurus aja lewatin tempat tadi terus belok kanan masuk nah disitu toilet cewe di bagian kiri”
Tak lama Dinda berjalan menuju toilet, Fando pun keluar dari ruang ganti yang tak jauh dari tempat tunggu wina dan tak sengaja mata Fando tertuju kearah perempuan yang berjalan menuju toilet, mungkin itu orang yang ia kenal.

“Tapi mana mungkin ia kesini, lagipula untuk apa ia kesini?” Fando pun mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“ hei, Fan”
“ah.. ya.”
“ kamu kenapa si, koq dari tadi liatnya kearah sana”
“ gak apa-apa, oya ini pakaian terakhir yang akan kita gunakan nantikan di acara pernikahan kita”
“iya..”
“ahh..syukurlah”
“koq, syukur?”
“iyalah, aku cape banget gonta ganti bajunya. Belum hari H nya aja udah kaya gini”
“huss.. gak boleh ngeluh. Pernikahan itu seumur hidup sekali, kebahagiaannya juga terpancar di acara pernikahan nanti. Apa salahnya berkorban demi mewujudkan pernikahan yang indah, bagus nan elok bahkan yang diharapkan kalian pada malam itu dapat memukau para tamu” celoteh pemilik busana
“ oke, udah ya ganti baju” ucap Fando yang udah mulai males mendengar celotehan pemilik busana ini yang sejak tadi bawel terus mulutnya
“yuk, cus. Oya habis ini yey ya Win”
Wina hanya menganggukkan kepala
Tak beberapa lama kemudian Dinda kembali ketempat duduknya dan menemani wina.
“ oya bentar lagi gw gantian cobain baju pengantin gw, nih undangan buat lu”
“ok, thanks ya”jawabnya dan kemudian memasukan undangannya kedalam tas
“Gw masuk keruang ganti ya”
“ok,”
Sambil menunggu wina ia meminum jus jeruk yang dipesan tadi sambil memainkan handphone didalam tas yang ia bawa, tak lama Fando keluar dari ruang ganti dan menuju toilet. Wajah dinda kali ini terhalang oleh rambut panjangnya sehingga, tak dikenali oleh siapapun. Tak lama Wina keluar dari ruang ganti.
“Din,”
Mengangkat kepalanya “wah cantik banget lu Win”
“terimakasih, eh lu udah ketemu sama calon gw si Fando”
Dinda hanya menggeleng-geleng kepala.
“ koq bisa, dia udah keluar dari tadi loh. Masa si gak ketemu?”
“gak, gw gak lihat siapa-siapa? Lagi pula sekalipun dia keluar mana ngenalin gw, kan kita belum kenal”
“oh iya ya, yaudah habis ini deh gw kenalin. Tapi sekarang Fando kemana ya?”
“udah gak usah khawatir, paling dia masih disekitar sini. Gak mungkin dia ninggalin elu kan?”
“ iya si, ya udah gw ganti baju dulu ya”
“ lu gak coba baju satu lagi” tanya dinda
“ gak, pakaian gw yg 3 udah duluan. Nah yang ini pakaian ke-4 gw nanti yang akan gw kenakan”
“ckckckk.. gile lu mau fashion show atau mau nikah. Banyak banget sampai gonta-ganti baju”
“mau jualan baju gw, sekarang gw jadi modelnya. Kalau gw yang jadi modelnya kali aja laku bajunya”
“ paling ga ada peminatnya, orang modelnya masih amatir. Hahaa..”
“hahaa... kurang ajar, udah ah gw mau ganti baju dulu”
Kali ini Dinda menunggu tidak ditempat tadi, karena minumannya sudah habis. Ia memesan lagi soft drink dan sedikit cemilan, sekarang posisi duduk Dinda berada di tempat meja minibar dan membelakangi tempat tunggu yang tadi. Ternyata Fando sudah sejak tadi keluar dari toilet sekarang ia membawa pesanannya sendiri, ternyata mereka belum menyadari satu sama lain. Mungkin wajar, karna Dinda selalu menyibukkan diri dengan mendengarkan musik dan memasang satu headset di telinganya agar ia tetap bisa mendengar dikala wina memanggilnya dan juga ia sekarang sedang main games di handphone nya.
“ jadi besok yey udah gak kesini ya, ini pakaian eike antar ketempat nanti satu hari sebelum hari H” ucap sis pemilik butik
“iya, kan besok udah dipingit beberapa hari untuk gak keluar rumah. Thanks ya sis udah bantu”
Fando menghampiri wina yang sudah keluar dari ruang ganti
“ tinta ampar-ampar boo... sampai ketemu lagi ya, eh meski yey udah menikah kalau mau main atau mampir kesini aja gapapa koq.”
“ok, nanti ya. sekali lagi makasih ya”
“ jangan lupa promo-promo”
“ok”
“eh Fando nanti kalo udah jadi suami, jaga istri baik-baik jangan sakitin dia. Jangan kayak kebanyakan zaman masa kini, suami garang-garang sama istri padahal istrinya baik dan patuh” pesan sis pemilik butik
Fando tersenyum dan menganggukan kepala mendengar pesan sis pemilik butik
“ jangan angguk-angguk aja kaya burung, eike gak suka deh kalau sampai kejadian kayak kasus kebanyakan”
“iya sis, tenang.”
“ seneng deh eike lihatnya, ya udah ougut masuk kedalam ruang kerja lagi ya. sorry gak bisa nemenin, masih ada kerjaan.”
“iya gapapa”
“bye..”
Sis pemilik butikpun berjalan masuk kedalam ruangan kerjanya kembali, sekarang yang ada di area ini hanya karyawan-karyawan butik, wina, dinda dan Fando.
“Fan, kamu udah ketemu sama sahabat aku belum?”
“Belum, dia juga kayaknya belum datang.”
“ kata siapa, dia udah datang dari tadi. Dari pas kamu cobain baju pengantin terakhir tadi”
“ oya, aku gak lihat tuh”
“ coba ya, aku tanya salah satu karyawan disini. Kamu duduk aja dulu”
Fando pun kembali duduk sedangkan Wina mencari sahabatnya di ruangan butik.
“Win, nyari gue”
“eh elu dicariin, yuk sini gw kenalin sama calon gw”
Wina menarik tangan Dinda dan menghampiri Fando dari belakang
“Fan, nih kenalin sahabat aku”
Fando membalikkan badan, kini sekarang wajah Fando dan Dinda terkejut dan mereka pun saling diam terpaku seakan tak menyangka.
“ hei kalian koq diam”
Dinda dengan berat hati langsung menjulurkan tangannya untuk berjabat dengan Fando alias Reza yang ia kenal lebih dulu sebelum pertemuan ini.
“ Dinda..” dengan ucapan yang santai
“mm..f..f..f..fa..fando”
Dinda mencoba tersenyum meski matanya sedang berkaca-kaca saat ini, ia sedang mencoba akting untuk menutupi semuanya yang terjadi meski hatinya terus bekecamuk  setelah kejadian ini.
Fando hanya diam seribu bahasa, dia bingung entah harus berkata apa.
“ kenapa jadi begini, astaga.. aku merasa bersalah kepada Dinda juga pada Wina” ucapnya dalam hati
Wina tersenyum dan memaklumi situasi seperti ini karna sahabat dan calon suaminya belum mengenal baik satu sama lain, ia mencoba untuk mencairkan suasana. Sesekali ia melontarkan celotehan yang lucu dan sesekali juga Dinda menertawakan cerita wina meski ia terasa buyar juga hampa, tidak hanya itu sepertinya saat ini ia mulai tidak konsen berada diantara keduanya. Tak lama kemudian Dinda membuka tasnya dan mengambil kartu nama yang pernah diberikan oleh Reza alias Fando tempo lalu, saat ini matanya sedang mencuri perhatian ke dalam tas untuk ingin menyamakan antara kartu nama yang tempo lalu dengan surat undangan yang baru saja di berikan oleh sahabatnya itu.

Pertama ia melihat undangan yang diberikan oleh sahabatnya
“ Rizky Erfando Zasky” gumamnya pelan
Setelah melihat undangan tadi ia langsung melihat kartu naman yang pernah diberikan oleh Reza atau Fando tempo lalu.
“Rizky Erfando Zasky” gumamnya lagi
“tapi kenapa namanya jadi Reza” ucapnya dalam hati
Sekali lagi ia melihat kembali tulisan nama yang ia baca tadi dan mencoba mencari jawabannya, setelah beberapa lama ia mencoba mencari akhirnya ia menemukan jawabannya. Ternyata nama Reza diambil dari singkatan nama panjangnya R diambil dari nama depan yaitu Rizky sedangkan E diambil dari nama tengah yaitu Erfando dan yang terakhir Za diambil dari nama paling akhir yaitu Zasky.
“astaga, kenapa gw bodoh sekali? Kenapa gw baru menyadarinya? Juga kenapa gw baru lihat nama lengkap Reza, padahal gw udah lama punya kartu namanya” ucapnya dalam hati
Tak beberapa lama kemudian air mata Dinda tak dapat tertahan lagi dan mulai menetes.
Fando sejak dari berjabat tangan tadi ia tak berani melirik bahkan menatap kearah Dinda, ia selalu menatap ke arah wina yang sejak tadi bercerita meski ia harus pura-pura untuk antusias dan ingin menyenangkan perasaan wina.
Tak sengaja Wina melirik kearah sahabatnya, melihat Dinda menundukkan kepala sambil menitihkan air mata secara diam-diam dan entah dari kapan ia seperti itu wina pun langsung menghentikan ceritanya dan beralih kearah Dinda.
“ Din,” panggil Wina lembut ia bingung kenapa dengan sahabatnya
Dinda masih saja diam
“ lu kenap din, koq jadi banyak mengeluarkan air mata?”
Saat ini mulut Dinda sangat sulit untuk bersuara dan berbicara, namun dengan beratnya ia tetap memaksakan kali ini ia mengeluarkan suara sesegukkan sangkin beratnya ia ingin mengutarakan semuanya.
Fando yang sejak tadi tak berani melihat Dinda, kini ia menatap dalam-dalam kearah Dinda dan ia merasa lebih bersalah.
“Nih lu minum air mineral dulu biar lu tenang dan bisa cerita dengan jelas”
Dinda mencoba meminum air mineral yang diberika oleh wina tadi. Setelah dinda dapat menenangkan diri ia mulai membuka mulutnya dan berbicara dihadapan Reza alias Fando juga Wina.
“ inti yang pertama gw mau ucapin selamat kepada kalian berdua semoga langgeng. Yang kedua Dia kini telah bersama dengan yang lain win, yang selamanya gak akan mungkin menjadikan dia jadi milik gw. Seharusnya gw tau sejak awal, intinya sejak awal gw gak ada perasaan apa-apa sama dia. Tapi dia selalu membuat perasaan gw menjadi seperti ini, lu pahamkan win maksud gw. Lu ingetkan kajadian dimana gw sama lu ada di kamar lu, waktu gw nginep. Ini jawabannya, semoga elu menemukan jawabannya”
“ apa maksud lu dan ini apa sih, jawaban apa sih? Gw gak ngerti yang sebanarnya, pasti Reza sms yang macem-macem ya?”
Fando yang mendengar ucapan wina terakhir mulai deg-degan dan semakin campur aduk perasaannya. 
Dinda tak menggubris ucapan yang terakhir sahabatnya tadi, sebetulnya saat ini ia ingin memberikan kartu nama yang tempo lalu ingin ia tunjukkan kepada sahabatnya kalau semua ini ada hubungannya antara Reza, Fando dan Undangan untuk lebih meyakinkannya lagi. Namun sayangnya ia tak sampai hati dantega harus merusak kebahagiaan sahabatnya yang akan segera berlangsung beberapa hari lagi.
“ coba lu inget kejadian malam itu dikamar lu pas gw  nginep dirumah lu, setelah lu mengingatnya coba lu cari dan rangkai sendiri dari apa yang telah lu buat dan bagikan saat ini. Dia adalah dia, masalah janji yang tadi untuk memperkenalkan lu sama dia mungkin tak akan pernah terjadi. Karna mungkin lu telah dapat mengenalnya lebih dulu”
“kapan?”
“entah kapan, tapiii sudahlah”
Setelah mendengar ucapan Dinda tadi, Wina mulai mencoba berfikir keras dan mencoba mengingat siapa saja yang pernah ia kenal lebih dulu
“ Din..” ucap Fando
Wina menoleh kearah Fando tanpa rasa curiga terhadap pasangannya, mungkin wina memang tidak terlalu peka dalam hal ini.
“ Gw rasa udah cukup, gw mau pulang. Hari ini cukup melelahkan, gw selalu mendo’akan lu win. Gw harap kalian langgeng dan hidup bahagia”
Dinda beranjak bangkit, wina pun mengikuti gerak tubuh Dinda. Dinda memegang pundak wina seolah memberi kode kalau ia tak boleh mengikuti dirinya dan harus tetap berada disini, agar semua tak dapat terabah oleh Wina, Dinda langung memeluk sahabatnya dan seakan ingin memberi tahu kalau saat ini hatinya sakit karena mereka berdua.

Setelah kejadian dibutik siang tadi Fando atau Reza merasa bersalah pada dinda dan dengan rasa beralahnya itu jam 10 malam ia datang kerumah Dinda dengan tujuan utamanya dia ingin meminta maaf lalu kemudian ia ingin memberikan undangan untuk Dinda yang telah ia persiapkan, lalu yang terakhir ia juga akan menjelaskan semuanya.

"Toktoktok..."
terdengar pintu kamar Dinda diketok
"siapa?"
"Mba Nella"
"oh, ada apa mba?"
"ada tamu tuh, gw gak tau siapa. gw suruh masuk dianya malah mau nunggu di halaman depan"
"oh,"
"yaudah cepet temuin dia gih.."
"iyaa.. aku keluar nanti"
"ok. gw balik kekamar ya, kasihan anak gw ditinggal lagi dibacain buku cerita"
"yaa.."
tak lama kemudian mba Nella bergegas kembali kekamarnya, disamping itu Dinda saat ini sedang merapihkan dirinya agar tidak kelihatan terlalu kucal. sudah terasa cukup rapih ia kemudian pergi menuju halaman depan rumah.
terdengar pintu dibuka, Fando alias Rezapun menoleh kearah pintu
" hai," sapanya pelan
Dinda hanya membalas senyuman sambil tangannya menutup pintu kembali agar pembicaraannya tidak terdengar oleh orang rumah.
" ngapain kamu kesini?" tanya Dinda dengan ekspresi seperti sedang tidak ada sesuatu, sepertinya saat ini ia mencoba untuk bersikap tenang dan biasa saja seperti seolah memang sedang tidak terjadi apa-apa.
“ aku kesini ingin meminta maaf atas semuanya”

“gak ada yang perlu dimaafkan, karena semuanya sungguh sangat sulit untuk dimaafkan meksi aku harus dengan terpaksa untuk mencoba mengikhlaskan semua” ucap Dinda yang tak ingin menatap wajah Reza
Reza pun mendekati Dinda
“ Din” panggilnya sambil memegang tangan Dinda
Kali ini ia menoleh kearah Reza dan melepaskan pegangan tangannya Reza
“ Gak baik calon pengantin datang kerumah wanita lain malam-malam dan memegang tangan wanita lain” ucapnya
“ Din, aku harus melakukan apa agar kamu mau memaafkan aku. Sungguh Din, aku gak bermaksud untuk menyakitimu dan sebetulnya aku sudah ada rencana untuk menceritakan semua ini jauh sebelum pertemuan kita dibutik tadi. Kamu masih ingatkan waktu terakhir kali kita ketemu dan pada saat itu aku yang menjemput kamu disini, pada saat itulah aku ingin menceritakan semua. Jujur memang awalnya aku menganggap kamu sahabat, tapi lama-kelamaan entah kenapa setelah sering kali kita jalan bersama aku jadi merasakan hal yang beda pada. Aku akui aku sudah mulai suka sama kamu, mungkin itu sebabnya aku gak bisa mencari sela untuk memulai darimana menceritakan ini semua kepadamu aku takut kamu marah atau malah pergi meninggalkan ku”
Mendengar penjelasan Reza mata dindapun mulai berkaca-kaca, entah ia harus merasa senang kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan atau sedih dan kecewa karena ia telah menjadi orang bodoh diantara Wina dan Reza alias Fando calon suami sahabatnya itu.
“ cukup! jangan diteruskan kembali. Aku rasa penjelasanmu ini sia-sia, kamu itu sebentar lagi akan menjadi suami sahabatku. Seharusnya kamu gak pantas berbicara seperti itu kepada sahabat calon istrimu sendiri, aku hargai semuanya yang terjadi malam ini. Aku juga akan mendo’akan semampuku untuk kebahagiaan kalian juga aku pinta satu hal untuk jangan hubungi aku dan mencari-cari aku kembali, tolong hargai keputusanku. Dan satu lagi anggap saja semua ini gak pernah terjad dan kita juga gak pernah kenal satu sama lain juga jaga Wina baik-baik meski secara tidak sengaja ia telah sedikit melukai hati dan perasaan ini.”
“ Din, kamu sahabat yang baik. Tapi tolonglah jangan bersikap seperti itu”
“ terlambat, aku sudah menutup lambaran itu. Jadi memang sudah tidak ada lagi antara aku, kamu dan dirinya yang dulu pernah menjadi sahabatku, oya udah sangat larut gak baik bertamu sampai larut seperti ini. Aku harap kamu pulang”
“ baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan mu. Oya sebelum aku pergi aku mau memberikan undangan ini, aku harap kamu datang mungkin itu akan menjadi perpisahan terakhir antara Aku, Kamu dan Sahabatmu Wina”
“ aku gak janji, berdo’alah dan jangan berharap lebih”
“ yasudah aku pulang, selamat malam”
“ ya..”
Dindapun kemudian langsung bergegas masuk kedalam rumah sambil memegang undangan yang diberikan oleh Reza tadi.
Setelah kejadian itu Dinda menutup akses telepon dari Wina dan Reza alias Fando, ia mengganti no telepon dan hanya memberi tahu kepada orang-orang yang tak bermasalah pada dirinya kecuali Wina dan Fando. Ia tak mau hatinya tambah sakit lagi, ia merasa cukup atas kejadian beberapa hari yang lalu. Teman-teman atau kerabat yang mengenal Wina ataupun Fando alias Reza dan memiliki no Dinda saat ini mereka berjanji untuk tidak memberitahukan no Dinda yang baru kepada Wina dan Fando alias Reza.
Tak terasa waktu sudah menjelang sore, siaran radio yang ia dengar sejak tadi pun sudah tak memutar lagu-lagunya. Mungkin tema acaranya sudah berubah sesuai jadwal, Dinda segera mengusap air matanya yang sejak tadi mengalir kembali dan segera mematikan radio.
“ Theo..” panggilnya
Theo dan kedua temannya pun menghampiri  Dinda
“ apa tante,”
“ sekarang udah mau sore, mainnya udah ya. tuh lihat badannya berkeringat sekarang waktunya mandi, besok main lagi ya”
Cill dan Cal pun pamit pulang, mereka diantar oleh bibi sampai kerumahnya sedangkan Dinda dan Theo berada di dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian Mama dan mba Nella pulang.
“tanteee, omah sama bunda pulang” ucapnya dengan penuh gembira
Dinda hanya tersenyum.
Ibu dan kakaknya sudah kedalam rumah kemudian duduk di ruang yang sama dimana Dinda berada, dinda melihat mereka pulang hanya diam dan tak berkata apapun.
“Theo, kamu belum mandi” tanya Bundanya
“ belum bunda, aku baru saja selesai main sama Cill dan Cal” ucapnya
“ din, kamu gak datang keacara pernikahan Wina? Tadi Wina sama suaminya nanyain kamu loh? Katanya kamu kemana, koq belum datang. Terus juga katanya sekarang kamu koq jadi susah dihubungin” ucap mba Nella
Dinda tetap saja diam dan tak menjawab ucapa kakaknya itu.
“ Dinda mau pergi cari angin mungkin nanti pulangnya larut malam. Oya, pintu jangan dikunci”
“ kenapa kamu din, kamu koq gak mau datang keacara sahabatmu”
“ kenapa kak! Kakak butuh penjelasan apa dari Dinda! Mending kakak urus aja urusan kakak yang sebentar lagi mau sidang sama Mas Ferry”
“ DINDA ! apa maksudmu bicara seperti itu di depan keponakanmu!” Nada Bicara Nella kini mulai meninggi
“ Gak ada maksud apa -apa! Hanya saja aku ingin mengingatkan ke kakak akan hal yang seharusnya kakak selesaikan terlebih dahulu sbelum mengurusi orang lain.”
“ asal kamu tau ya din! Sidang ceraiku ini bukan dia yang menceraikan aku, tapi aku yang sudah tak ingin lagi bersamanya dan ingin cerai darinya. sebentar lagi juga selesai perceraianku dengan Ferry.”
“sudah, jangan bertengkar. Nella, biarkan  saja adikmu. Dia sudah dewasa, sudah mengerti mana yang lebih penting dan mana yang lebih baik. Dan kamu juga din, seharusnya kamu bisa jaga sikap kamu bukan anak-anak lagi. Mama rasa tak pantas atas sikap kalian di hadapan cucu-cucu mama.”
Nella terdiam dan merasa ada sesuatu yang kurang pas dengan adiknya.
Setelah mendengar ucapan mamanya Dinda pergi meninggalkan ruangan tadi.
Dengan rasa sedikit khawatir atas sikap Dinda yang mulai tak terkontrol seperti ini, nada bicara mamanya kali ini sedikit melunak.
“ Dinda, kamu gak mandi nak. Yakin kamu mau pergi dengan seperti itu”
“ gak mah, aku lagi males. Mungkin aku hanya cuci muka, sikat gigi dan sisiran dengan rapih”
“ hati-hati ya kamu dijalan baca do’a dan sepanjang perjalanan ingat terus akan Tuhan Yang Maha Esa”
“iya, mah”
 Setelah Dinda bersiap, ia langsung membawa handphone, dompet dan kunci mobil. Kemudian ia bergegas mengendarai mobil honda jazz merahnya keluar dari garasi rumah dan dengan cepatnya ia sudah berada jauh dari area tempat tinggalnya. Mungkin saat ini ia tak tau akan menuju kemana, tapi ia akan mengikuti hati dan fikiran bahkan juga akan mengikuti gerakan tangan yang akan mengarah dengan sendirinya tanpa ia inginkan bahkan prediksikan. Yang ada difikirannya saat ini ialah ia dapat menghilangkan seluruh rasa penat dalam dirinya.


-  Sekian ( Tamat )  -