" Pedih rasanya saat kebenaran itu terungkap semuanya secara tiba-tiba dan tidak terduga, air mata yang sudah terlanjur jatuhpun takkan mampu menghapus semua rasa
sakit ini. Semua karena hadirnya sebuah undangan itu yang mengantarkan aku kepada titik kehancuran dan bahkan hati dan perasaan ini remuk dibuatnya. Jujur, seharusnya aku yang bersanding dengannya bukan perempun yang pernah aku kenal itu ,
aku yang pertama menemukannya kembali. Andai saja mereka tahu bagaimana rasanya sakit
yang ku alami saat ini setelah melihat 2 undangan dan harus mendatangi acara pernikahan
keduanya, mereka orang yang kukenal dan kusayang namun dalam waktu yang
bersamaan mereka telah menghancurkan semuanya.
AKU BENCI DENGAN KENYATAAN INI
!!! ” keluh Dinda yang ia tulis dalam buku Diarynya pada hari itu.
Sejak kedatangan dua undangan yang tak terduga dari orang yang ia
sayang sampai saat ini air mata Dinda
tetap masih mengalir seakan tak ingin berhenti.
Tiba-tiba pintu kamar Dinda terbuka, Dindapun melihat kearah pintu
kamarnya dan langsung menghapus air matanya. Tak beberapa kemudian seseorang
yang bertubuh mungil masuk kekamar Dinda, gadis kecil ini masih terlihat polos
dan belum pernah merasakan permasalahan sedikitpun, yang ia pancarkan saat ini adalah wajah ceria
yang telah berhadapan langsung di wajah Dinda.
“ Tante, temani aku main lagi ya? ” Pinta anak kecil itu
Dinda mendengar permintaan dari keponakannya hanya menghela nafas dan
memasang senyum selebar-lebarnya, entah ia senang dan menuruti permintaan
keponakannya dengan senang hati ataukah sebaliknya dan menyesali mengapa anak
kecil ini yang memanggil dirinya tante tak mengerti akan situasi yang ia hadapi
saat ini.
Mengelus rambut anak kecil yang berada dihadapannya dengan lembut
“ Theo sayang, maaf ya tante sedang tidak bisa menemani kamu main hari
ini ” ucap Dinda lembut
Theo menatap mata tantenya dengan rasa penasaran, Dindapun tak tahu
kalau keponakannya saat ini sedang memperhatikan raut wajahnya saat ini.
Dengan lugunya Theo bertanya “ Tante kenapa matanya? ”
Dindapun terkejut mendengar ucapan Theo, ia khawatir keponakannya tau
kalau ia habis menangis dan pasti anak kecil ini akan mengadu pada seisi rumah
dan membuat mamanya khawatir.
“ gak apa-apa koq sayang ”
Setelah menjawab pertanyaan dari keponakannya, Dinda pun langsung
berusaha menyembunyikan ekspresi sedih di wajahnya saat ini dengan langsung
kembali ceria.
“ Tante, bohong itu dosa loh. Bunda sering bilang kalau kita gak
boleh berbohong, nanti Allah S.W.T marah sama kita”
Dindapun diam terpaku mendengar ucapan keponakannya itu, ia merasa
tersudut oleh ucapan keponakannya tadi. Tanpa banyak bicara lagi ia langsung
bangkit dari kasurnya dan mengambil kacamata tanpa ukuran min ataupun plus
untuk menutupi pemandangan yang tidak indah dari matanya dan ia juga berfikir
mungkin dengan memakai kacamata ini seisi rumah tak mengetahui apa yang telah
terjadi dengan matanya, mungkin saat ini ia enggan menjelaskan hal ini bila
keluarganya tau.
“ Baiklah tante akan menemanimu main. Tapi kita mainnya di halaman
belakang saja ya dan tidak lama-lama.”
“ kenapa koq kita tidak main di halaman luar ”
“ Tante lagi sakit mata, tante gak mau nanti dilihat orang banyak.
Oya, kalau teman-teman theo menunggu di halaman depan ajak saja mereka
kehalaman belakang kita main disana.”
Thoepun menganggukan ucapan tantenya tadi
“yasudah sekarang kamu ajak teman-teman kamu sana, nanti tante
menyusul. Tante mau merapihkan kamar dulu ”
“ Oke ” dengan wajah ceria, Theopun beranjak dari kamar Dinda dan
memanggil teman-temannya sesuai dengan pesan tantenya tadi.
Tak beberapa lama Dinda sudah berada diarea dapur untuk meminta
dibuatkan jus jambu merah (jambu biji) dan diantarkan kehalaman belakang,
setelah itu ia langsung berjalan menuju halaman belakang, tak terasa langkah
kaki terhenti setelah ia tak sengaja melihat radio antik ini tergeletak di meja
dapur.
“ Bi, ini radio siapa? Bentuknya antik ” tanyanya pada sang bibi yang
sedang memotong dadu buah jambu merah
Melihat kearah benda yang dituju “ Oh itu, radio itu punya mang Danu.
Sepertinya ia baru saja membeli radio itu di tukang barang antik-antik gitu non
”
Memegang radio antik milik mang Danu seolah ia terpikat dan menyukai
bentuk radio itu
“ bi, aku boleh pinjam radio ini gak. Yah setidaknya biar tidak bosan
menemani Theo main jadi aku bisa denger radio ”
“ silahkan non, pakai saja”
“oke, makasih ya bi. Oya, tapi nanti kalau mang Danu nanyain radionya
dimana bilang saja lagi dipinjam aku sebentar di halaman belakang”
“siap non ”
Dinda hanya membalas senyuman dan langsung beranjak menuju halaman
belakang. Sambil berjalan, tangan dan
mata Dinda sedang melihat dan mencoba memutar-mutar tombol untuk mencari gelombang
dan chanel radio saat ini yang sedang memutar lagu yang cocok saat ini.
“ Theo, kamu koq duduk disini
kenapa gak main sama temen-temen kamu ? ”
“ aku tunggu tante datang kesini ”
“ oh, yasudah sekarang tantekan sudah ada disini kamu main sana.
Tante duduk di tepi kolam ikan hias ya ”
“ iya, sekarang aku main sama Cill dan Call. Bye tante..”
Dinda hanya mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Theo yang
sudah berlari menghampiri Cill dan Call kedua temannya yang sejak tadi sudah
berman terlebih dahulu.
Sudah cukup lama ia memutar-mutar gelombang frekuensi radio fm, namun
belum juga menemukan yang pas, karna banyak lagu yang sedang diputar tidak
sesuai dengan isi hatinya saat ini. Tak beberapa lama kemudian Hp Dinda
berbunyi, sebelum mengangkat ia melihat nama yang mucul dilayar Hp-nya.
Mengerutkan jidatnya “ Ane ? ” ucapnya yang kemudian memencet tombol
hijau
“ ya halo, ada apa ne?! ” ucapnya singkat seolah ia hari ini tak ingin
banyak bicara
“ wesss.. santai dong. Ini gw cuma mau mastiin aja lu sore ini jadi
gak dateng ke acara pameran? Karna gw mesti cek data biar lebih kelihatan
banyak yang siap datang.”
“oh, itu. Gw juga belum mastiin
dateng apa gaknya, tapi kalau jadi sore gw sms lu deh dan gw bawa mobil
sendiri kesana kalaupun jadi. Oya, emang acaranya hari ini ya? gw kira minggu
depan.”
“ ya hari inilah, gimana si lu. Bagus gw telepon lu nih jadi secara
gak langsung gw ingetin lu”
“iya, thanks”
“ eh, nanti kita sekalian jalan ya habis dari pameran. Kapan lagi
coba kita bisa kumpul dan jalan bareng
sama anak-anak, mungkin setelah dari acara pameran anak-anak ada yang
sebagian ikut mobil lu. Gak apa-apa kan?”
“ iya, gak masalah. Lagian gw sendiri di mobil, hitung-hitung gw ada
yang nemenin dalam perjalanan nanti.”
“oke. Oh ya, tadi gw habis dari acara penika..haaan.. si.. emmm..
(Ane langsung mengurungkan
niatnya kembali yang ingin ia ucapkan saat ini pada
Dinda)”
Dinda langsung mengerti “ Ia gapapa, lu sebutin aja namanya. Lagi
pula gw gak tau mau dateng atau gak kesana, sepertinya hasrat gw kurang untuk
beranjak kesana. Makanya gw belum
mutusi mau pergi kemana hari ini, masih
bingung”
“oh, gitu. Ya udah deh, kalau udah fix lu mau pergi keacara yang mana
kasih kabar ke gw ya”
“ Ok, eh udah dulu ya. gw lagi jaga keponakan gw main”
“ok, see ya”
Dinda langsung mematikan panggilan teleponnya lalu ia pun dengan
isengnya memainkan gemericik air kolam
dengan menggunakan kakinya. Tak lama tatapan Dinda kini berubah menjadi kosong
dan menerawang jauh meski orang lain tak
bisa mengetahui hal yang sebenarnya namun mereka yang melihat hanya menilai
kalau Dinda sedang mengamati bebatuan yang tersusun rapih dikolam-kolam ini.
Menyentuh pundak Dinda “ Non,” panggil bibi yang membuyarkan
terawangannya tadi
Menoleh kebelakang “ eh.. iya bi. Ada apa?”
“ ini jusnya, dari tadi bibi panggil-panggil sama kasih tau jusnya
ada disamping si non gak menjawab ucapan bibi”
“ oh ya, maaf ya bi. Saya lagi gak konsen”
“ iya kelihatannya si non serius banget lihat batu-batu yang ada di
kolam sampai gak denger bibi
tadi ngomong”
Dinda hanya tersenyum
“ non lagi gak ada masalahkan, bibi khawatir kalau non kayak gini”
“ ah.. si bibi ini, aku gak apa-apa koq. oya makasih ya bi jusnya”
“ iya sama-sama, jangan melamun lagi non nanti kesambet loh. Oya, ini
jusnya jangan sampai kesenggol nanti tumpah soalnya bibi taro di sebelah non”
“ iya.. sekali lagi makasih bi”
“yasudah saya masuk kedalam dulu ya non, mau ngelanjutin pekerjaan”
Tak lama bibi yang mengentarkan jus beranjak menuju dalam rumah. Sebelum
tubuh sang bibi masuk kedalam rumah Dinda memanggilnya lagi
“ bi..”
Langkah sang bibi terhenti dan membalikkan badan kemudian menghampiri
sang majikan
“ ada apa non?”
“ aku mau tanya. Orang-orang dirumah pada kemana, koq sepi si dari
tadi?”
“oh, anu non. Nyonya sama Non Nella pergi kepesta undangan yang
undangannya itu mirip sama kayak undangan milik non Dinda waktu itu. Tadi sih
Nyonya sama non Nella mau ajak non Dinda tapi katanya kamar non Dinda sepi dan
gak ada suara di panggilin dari tadi, disangka non udah pergi dari tadi.”
“oh, begitu. Lalu Rico sekarang ada dimana, koq gak ikut temenin
adiknya main sekarang?”
“ Den Rico ikut non sama nyonya dan non Nella”
“ Kira-kira mama sama mba Nella pulangnya jam berapa ya bi? Soalnya
kemungkinan nanti saya mau pergi. Si Theo kasian nanti cuma bertiga sama bibi
dan mang Danu”
“ kurang tau ya non, soalnya nyonya sama non Nella gak bilang pulang
jam berapa?”
“oh yasudah, nanti aku sms mama sama mba Nella aja. Makasih ya bi?”
“iya” bibi pun langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Dinda yang
masih duduk di tepi kolam halaman belakang
Dinda kemudian melanjutkan mencari saluran gelombang frekuensi radio
yang ia inginkan. Tak sengaja pencariannya terhenti di chanel 75,3 fm.
“ Baiklah
sobat gaul kita masih bertemu kembali di 75,3 fm , sebagai awal pembuka
pertemuan kita siang ini kita akan mendengarkan lagu-lagu dari Agnes monica
dengan judul Matahariku lalu juga kita putarkan lagu Raisa dengan judul Apalah
( Arti Meunggu ) juga D’massive dengan judul Apasalahku dan yang terakhir Naiff
dengan judul Benci untuk Mencinta. Oya, bagi kalian yang ingin salam-salam
kepada siapa atau mau request lagu silahkan kirimkan nama penyanyi dan judul
lagunya melalui sms ke no 081699478853. Sambil menunggu sms dari kalian mari
sama-sama kita dengarkan lagu dari Agnes Monica dengan judul Matahariku,
selamat menikmati lagunya...”
Dinda langsung memutar volume suara
radionya dengan full
Tertutup
sudah pintu, pintu hatiku
Yang pernah dibuka waktu hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Kuharus relakanmu walau aku tak mau...
Berjuta
warna pelangi didalam hati
Sejenak luluh bergeming menjauh pergi
Tak ada lagi cahaya suci
Semua telah beranjak aku terdiam sepi..
Dengarlah matahariku, suara tangisanku
Ku bersedih karna panah cinta menusuk
jantungku..uu
Ucapkan matahariku puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu manaklukan waktu......
...........................................................................................
(
Agnes Monica – Matahariku )
Kini air mata Dinda menetes kembali dan jiwanya terhenyut dalam syair
lagu yang ia dengar dalam radio itu, dengan tatapan kosong kembali ia teringat
kejadian yang lalu. Kejadian dimana ia masih baik-baik saja dan sampai pada
akhirnya ia bisa merasakan sesakit ini.
“ Win, lu tahukan Reza yang tempo lalu gw ceritain sama lu?”
“ iya, kenapa?”
“ gw habis jalan sama dia kemarin”
“oya, masa sih? Koq lu baru cerita sekarang.”
“ iya maaf, ehh dia ternyata orangnya baik banget. Sopan, perhatian,
asik diajak ngobrol duuuhh tipe gw banget deh”
“ terus..terus...” ucapnya
yang masih penasaran
“ yaudah kita jalan aja dan sambil ngobrol-ngobrol gitu
“ cie yang lagi falling in love ” goda Wina
“ iihh.. apaan si lu, jangan kayak anak SD deh. Eh iya gw ada kartu
namanya nih, lu mau lihat gak?”
“ gak ah, gak penting buat gw. Lebih baik gw lihat orangnya sekalian,
jadi penasaran seperti apa si dia sampai-sampai lu puji-puji dia terus. Yah
kali aja gw ikut kecantol sama dia..”
“ iihh.. apa si Wina..”
“ haahaa.. cie.. cemburu. Ck! Udah malem ni Din, lu cerita terus dari
tadi emangnya lu gak mau tidur apa? Dan emangnya lu gak mau mimpiin dia dalam
tidurlu..?” Goda Wina lagi
“ledekin aja terus..”ucapnya kepada wina sambil memasang muka
cemberut
“ yaudah gw gak ngeledekin lu
lagi. Gw udah ngantuk nih, ceritanya dilanjut nanti lagi aja ya? bye gw mau
tidur”
Wina pun langsung mematikan lampu kamar dan kemudian menarik
selimutnya kemudian Dinda ikut menyusul wina beranjak tidur.
Memori Dinda kali ini tidak hanya terhenti
disitu saja ia juga masih mengingat yang lain.
" Dimana sih wina, koq jam segini belum datang juga?" gerutunya yang sejak tadi sudah menunggu sekitar 20 menit yang lalu
Tak lama kemudian Dinda mengeluarkan Hp dari dalam tasnya dan mengetik sms untuk manyakan keberadaan wina.
" Wi lu dimana, gw udah sampai nih. Bls cepet!"
Dinda menunggu balasan sms dari wina, tak beberapa lama kemudian wina
membalas.
" Sorry din, gw lupa bilang sama lu kalau hari ini gw gak bisa datang. dirumah mendadak lagi kedatangan tamu, kata nyokap sih rekan kerjanya papa yang udah lama gak ketemu, udah dulu ya Din. bye..
oya, salam buat Reza."
Berjalan menghampiri Reza di tempat janjian
“ Reza...” teriak Dinda sambil melambaikan
tangan
“ Hai, Din..” sahutnya
“ Sorry ya telat. Udah nunggu lama ya..?”
“ udah gapapa, aku juga nunggunya gak terlalu lama
koq. Oya temen kamu mana? Katanya kamu mau ajak dia juga hari ini”
“ nah itu dia permasalahannya, dari tadi aku tuh
nungguin dia makanya aku kesini telat. Karena lama banget akhirnya aku sms dia,
eh tau-taunya dia gak dateng dan katanya sih dirumah dia mendadak sedang kedatangan tamu”
“ oh, begitu yasudahlah. Kalau gitu kita
langsung cari tempat makan yuk, udah siang nih belum makan”
“ ok, oya kamu dapet salam tadi dari sahabat aku”
“ ya salam balik. Eh enaknya hari ini kita makan
apa ya?”
“ emm.. terserah aja deh, aku si ikut aja dan gak
masalah yang penting makan. heheee..”
“ ok.. berangkat ”
Mobil yang dikendarain Rezapun sudah melesat
jauh dari tempat yang tadi.
Pukul 07.30 pagi..
Dinda memencet bel rumah Wina.
" NEEEEETTTTTT....! "
mendengar bel rumahnya berbunyi Wina segera membuka pintu
“ Hai, Din. Tumben lu
pagi-pagi udah kerumah gw”
“hee.. iya nih win, gw mau cerita sama lu”
“ cerita apa? ... sini masuk yuk. Emm.. pasti
soal Reza ya.”
“ Koq lu tau ?!”
“ ckckck.. selain dia, lu mau cerita tentang
siapa lagi?”
“ yee.. elu. Seolah-olah tema cerita gw tentang
dia terus.” Jawab dinda cemberut
“ emang,” sahut wina singkat
Kemudian wina menarik tangan Dinda
“ Udah ayo kita masuk kedalam, entar dilalerin kalau terus diluar”
ucap wina sambil tersenyum melihat wajah Dinda masih cemberut
Dinda yang sejak tadi ditarik tangannya oleh
wina ia tak membantah ataupun berkomentar ia masih mengikuti langkah wina dari
belakang, tak beberapa lama ekspresi ia berubah menjadi heran mengapa ia dibawa
keruangan ini.
“ehh... win, koq lu ajak gw kesini sih?” ucap
Dinda heran
Wina mengeluarkan senyum sinisnya
“ hah, lu tanya gw. Kenapa gw ajak lu kesini!”
ucap wina sambil menahan tawa
“apaan si lu, serius gak lucu tau gak?”
“ emang gak lucu, lu kira gw lagi ngelawak.
Harusnya lu tau dong kenapa gw ajak lu kesini, gw
ajak lu kesini mau sandra lu!
Puas lu!” ucapnya sambil menahan ingin ketawa melihat sahabatnya yang sedang ia
kerjain
“ sakit lu!”
“emang gw sakit, kenapa baru tau? Ha..!”
“ lepasin gw, gw mau pulang!”
“ sorry, sayangnya lu gak bisa pulang. Daripada
lu banyak tanya mending lu masuk kedalam sini dari pada nyawa lu melayang”
Muka Dinda kali ini pucat dan ketakutan ia tak
menyangka kalau Wina sahabatnya ingin mencelakainya, tanpa pikir panjang dan
karna takut nyawanya hilang ia mengikuti perintah wina dan Dindapun masuk
kedalam ruangan yang dituju.
“ din, muka lu gak usah pucet gitu juga kali.
Masa iya gw mau sandra lu, oon banget si lu”
“ iihh.. gak lucu tau!” jawabnya kesal
“ udah gak usah marah, gw kan cuma mau ngerjain
lu doang”
“ bodo!”
“ yee... yaudah kalau marah”
“ lu ngapain si ajak gw ke gudang, tapi koq
gudangnya beda yah gak berantakan” ucap Dinda sambil melihat isi sekitarnya
yang tersusun rapih
“ oh.. gw ngajak lu kesini buat nemenin gw
disini sekalian gw juga mau ambil barang-barang yang udah lama gak gw ambil dan
udah lama juga gak gw letakan ketempat yang seharusnya mereka berada.”
“ Maksudnya?!” tanya Dinda heran
“ udah deh gak usah nanya lagi, nanti juga lu
tau dan gw akan menjelaskan semuanya tapi intinya lu maukan bantuin gw. Soalnya
banya banget nih barang-barangnya..”
“oke, oya win emang gudang lu harus rapih kayak
gini ya?”
“gak, kata siapa?”
“ nih, buktinya”
“dirumah gw ada dua gudang, yang satu gudang
yang biasa untuk menyimpan barang-barang yang mungki bisa dikatakan tidak
terlalu penting dan yang ini gudang untuk menyimpan barang yang masih dianggap
penting makanya kondisi didalam gudang ini terlihat rapih, karna masih ada
barang- barang berharga” ucap wina sambil mengotak-atik kunci lemari dan laci
di dalam gudang
“oh..” ucap dinda sambil melihat-lihat namun
kali ini matanya tertuju pada sebuah kotak
Wina langsung menengok kearah Dinda
“ Kenapa? Masih terpesona sama barang- barang
yang ada disini?”
Dinda membalikkan badan dan memegang sebuah
kotak yang entah isinya apa
“ entahlah, mungkin bisa jadi. Oya ini kotak
apa?”
Wina mengambil kotak itu dari tangan Dinda sambi
tersenyum
“ini, kotak ini diluarnya aja sangat sederhana.
Tapi isinya sangat penting dan berharga untuk gw”
Dinda hanya mengerutkan jidatnya saja
“ini adalah kenangan gw, kenangan yang hampir
ingin gw kubur pada waktu itu. Setiap gw lihat kotak ini hati gw selalu sedih,
ya.. sedih akan sebuah perpisahan bersama orang itu. Namun entah kenapa
beberapa minggunya orang itu mengirim gw sebuah surat, jadi pas bokapnya ngirim
dan titipin surat kontrak kerjanya ke bokap gw untuk teman kantornya yang lain,
dia juga ngirim surat ini untuk gw.”
Sebelum melanjutkan cerita Wina membuka surat
duplikat dan memberikan kepada Dinda, Dinda mengambil surat yang diberi Wina
dan melihat bentuk tulisan tangannya.
“inti dari surat ini adalah dia akan balik
kesini pada saat kami sudah mau memasuki umur 23 dan pada taggal 23
itupula dia sudah berada disini, sayangnya pada surat itu dia tidak
mencantumkan pada bulan apa ia akan kembali kesini. Pada saat itulah gw
mengurungkan niat untuk mengubur semuanya, bahkan surat aslinyapun masih ada
dan tersimpan rapih didalam kotak ini. Setelah membaca surat itu akhirnya gw
memutuskan untuk menunggu bahkan sampai detik ini gw menunggu dan gw berharap
semoga dia gak lupa dengan janjinya, dalam penantian itu gw selalu memohon dan
berdoa kepada Tuhan agar gw cepat berumur 23.
Jujur ya Din, setiap menunggu-nunggu waktunya
untuk cepat-cepat tiba gw tuh ngerasa penantian gw terlalu lama, karena waktu
berjalan terlalu lamban sehingga penantian gw cukup melelahkan. Hingga pada
akhirnya gw memutuskan untuk meletakkan kotak ini didalam gudang dan gw akan
mengambil kotak ini kembali pada saatnya nanti bersama yang lainnya, lalu akan
gw letakkan pada tempat yang seharusnya.”
“ oh, gitu. Jadi ini yang lu maksud” ucapnya
dengan tatapan kosong seolah ia sedang membayangkannya
Melirik Dinda dan Wina hanya tersenyum, kemudian
ia melanjutkan ceritanya lagi
“ Dan sekarang gw udah berumur 23. huh.. rasanya
gw kayak orang gila din, karna setelah gw umur 23 setiap kalender ditiap
bulannya gw melinggkari tanggal 23 itu sangkin semangatnya dan sekarang gw
tinggal menunggu entah dibulan apa. Sekarang sudah bulan ke -6 tanggal 20 namun
detik ini dia belum kasih kabar ke gw. Belakangan hati gw jadi terasa kacau
balau, gw bingung apakah gw harus bahagia karena sebentar lagi bisa bertemu dia
lagi atau sebaliknya”
“ positif thinking win, dia pasti balik kesini
dan harusnya lu seneng dong akhirnya penantian lu sudah mendekati endingnya
meski panjang tapi intinya gak sia-sialah.”
“ semoga saja, thanks ya”
“iya, sama-sama. Oya BTW, nama orang itu siapa?”
“ Rizky Erfando Zasky. Eh iya katanya lu mau cerita
tentang Reza ke gw, kenapa sama dia?” tanya wina sambil meletakkan
barang-barang yang ia inginkan ke dalam kardus termasuk kotak tadi.
“ Gak jadi, udahlah lupain aja. Cuma kemarin dia
hanya bercerita tentang masalalunya, yaa.. kayak lu tadi cerita masalalu elu
sama gw”
“ maksudnya ceritanya sama?”
“ yah gak lah, elu kan sama dia beda. Gimana si
lu? Kecuali Reza yang ini bagian dari masalalunya elu.”
“ ya kalii.. eh terus?”
“ terus gimana, yaa.. intinya satu hari full itu
gw jadi pendengar setianya dia. Kaya lu tadi gw jadi pendengar setia lu, mana
banyak banget lagi ceritanya”
“ yaelah diin.. segitunya lu sama gw. Kan baru
ini gw cerita banyak sama lu, perhitungan banget si sama sahabat sendiri”
“siapa yang perhitungan, gw sih gak masalah ya jadi
pendengar setia buat sahabat gw. Tapiii.. masa iya lu tega dari tadi gw gak
dikasih minum, cerita si boleh-boleh aja tapi jangan biarin kerongkongan kering
dong tega banget si”
“ hahahaa... Astaga gw lupa, sorry ya din.
Sepertinya barang-barang yang gw cari juga udah terkumpul semua kalau gitu kita
pindah keruang tamu yu atau gak kita kekamar gw sambil merebahkan badan
sebentar.”
“ boleh, oya terus barang-barangnya ditaro sini
aja”
“ gak, nanti mang Asep yang bawa ke kamar gw. Sekarang dia lagi ngerjain tugas
dia dulu.”
“ yasudah”
“eh, lu mau minum apa nih?” ucapnya sambil
berjalan menuju dapur
“ apa aja deh, yang penting yang seger-seger
deh”
Menuang minuman dingin “ siap bos. Eh sekali lagi
thanks ya Din” ucapnya kemudian memberi minuman kepada Dinda
Tanpa lama-lama Dinda langsung meneguk air yang
diberi Wina dan Dinda juga tak menjawab ucapan wina tadi karena sangkin
hausnya. Wina yang melihat Dinda kehausan seperti itu hanya tersenyum dan
menggeleng-gelengkan kepala.
23 Juni, 10 : 25
a.m
“ Kriiiing...kriiing...”
Tangan Dinda meraba kearah meja dan mengambil
handphonenya yang sejak tadi berbunyi
“ haloo..” sapanya dengan suara masih serak
“ hei, anak gadis. Jam segini belum bangun,
males banget si lu nanti jodoh sama rezeki lu dipatok ayam loh kalau suka
bangun siang”
“hmm... apaan sih win, masih pagi tau. Ngantuk
nih gw”
“enak aja masih pagi, lihat jam di dinding lu
sekarang udah jam berapa?”
“hmm.. ada apa lu telepon gw, tumben jam segini
udah telepon-telepon. Kangen yaa sama gw, hehee” ucapnya sambil membuka jendela
kamar
“ enak aja kangen sama lu, liat muka lu aja
bosen gw. Hahhaa....”
“hehee.. kurang ajar, kalau kyak gini telepon
pasti ada something.”
“tau aja, iya nih ada something. Tadi jam 7 pagi
gw dilamar”
Mendengar kabar dari Wina mata Dinda melotot sanking
terkejutnya.
“Apa?! Serius lu? Wah bercanda dan mulai ngigo
lu.”
“seriuuss... ngapain gw bercanda”
“yakin nih kabarnya bukan hoax”
“iyaaa Dindaa.... ngapain gw bohong sii..”
“ lu dilamar sama siapa? Lu kan gak punya pacar
dan gak pacaran. Sampai detik inipun gw gak tau siapa dan bagaimana pacar
ataucalon suami lu”
“ yealah Din, masih aja kayak gitu. Jodoh itu
gak perlu dikejar kalau sudah takdir dan jodohnya gak bakal lari kemana-mana
pasti datang dengan sendirinya atas kehendak Sang Maha Pencipta, kita kan
sebagai umatnya gak tau apa rencana yang telah disusun oleh Tuhan. Semuanya
serba rahasia dan sangat tidak terduga”
“iya si gw tau, tapi lu dilamar sama siapa?
Penasaran nih gw..”
“lu taukan tempo lalu yang gw cerita digudang
sama lu?”
“oh, lu dilamar sama dia. Cieee... selamat yaa..
kapan ketemunya?”
“ baru aja tadi gw ketemu sama dia pas lamaran,
iihh.. seneng banget gw. Pokoknya hari ini rasanya campur aduk deh”
“ baru ketemu?” gumamnya sendiri
“ haloo din, lu denger gw gak si?”
“ahh... iya gw masih denger lu koq. eh gw mau
tanya deh, lu kan baru ketemu hari ini koq lu bisa tau-tauan dilamar gitu si?
Masih heran gw”
“oh itu, gw juga tadi shok banget. Gw juga gak tau
kalau mau dilamar sama dia, jadi ceritanya gini lu inget ga waktu gw gak jadi
pergi sama lu dan Reza”
“oh iya, kata lu kan ada temen bokap lu ya yang
mendadak datang main kerumah lu”
“ nah itu dia, ternyata mereka datang kerumah gw
bukan cuman silaturahim mereka juga udah ada niatan untuk mau ngelamar gw.
Semuanya udah diatur begitu aja, gw kira juga kemarin temen bokap gw dateng itu
siapa.. eh tau-taunya orang tua si Fando gw si gak eungeh sama muka orang
tuanya karna gw lupa, kan gak pernah ketemu setelah perpisahan waktu itu.”
“ pantes aja lu gak jadi pergi sama gw dan Reza,
berarti waktu pertemuan itu lu udah ketemu dong sama dia”
“ justru itu, pas acara pertemuan itu dia gak
ikut hadir. Yang dateng cuma orang tuanya doang, gw sih gak ada feel kesitu.
Dan yang lebih mengejutkan tadi ternyata mereka udah pindah ke Jakarta sekitar 2 minggu yang lalu, gila gak tuh.”
“ gila hari ini betul-betul surprise banget ya
buat lu”
“Banget diiin.. dan yang lebih parahnya lagi
orang tua gw gak cerita sama sekali kalau gw hari ini mau resmi dilamar plus
sekalian tunangan. Pas malemnya nyokap gw kasih gw baju kebaya dan suruh gw
bangun pagi katanya sih kita satu keluarga mau pergi untuk menghadiri acara
temen nyokap gw yang mau tunangan. Eh tau-taunya pas pagi malah gw yang di
lamar dan langsung tunangan”
“ seneng banget jadi lu, tapi gw tetep ikut
bahagia koq. Sekali lagi selamat yaa.. tinggal gw deh yang nyusul. Oya terus
kapan lu nikah?”
“ iya nih tinggal elo, emm.. kalau masalah nikah
katanya si orang tua kita udah ngomongin dan sepakatin untuk di tanggal 23 bulan depan. Astaga ini hal paling bersejarah
banget dalam hidup gw. Oya din, nanti tanggal 18 bulan depan lu temenin gw untuk cobain baju pernikahan yang terakhir
yaa.. sekalian gw mau kenalin calon suami gw ke elo”
“ok, gw dateng. Nanti lu smsin aja ya alamatnya,
gak sabar nih gw mau lihat lu dipelaminan”
“ iya nanti gw smsin, oya tanggal 18 juga gw sekalian mau kasih undangannya ke elo.
Tapi undangan yang untuk lu gw bedain karna lu tamu yang paling spesial buat gw
bukan cuma lu si yang gw kasih undangan berbeda, kak Nella dan nyokap lu juga gw
kasih undangan yang berbeda dari tamu-tamu yang lainnya. Intinya khusus elu dan
keluarga lu gw kasih undangan yang spesial, lu nanti jangan lupa hadir yaa.
Pokoknya lu harus hadir, gw gak mau tau!”
“iya baweeelll... masa sahabatnya sendiri nikah gak hadir sii.”
“ok gw tunggu ya nanti di tanggal 23 bulan depan”
“ Eh acara hari ini lu udah selesai?”
“acara gw udah selesai dari jam 10 pagi
tadi. Nyokap gw sama nyokap dia pada langsung jalan ke tempat katering sama
tempat sewa gedung untuk acara bulan depan nanti. Sedangkan bokapnya sama Fando
pulang, katanya sih Fando lagi mau ketemuan sama temennya. Mungkin mau kasih
kabar ketemen-temennya kali, kayak gw sama lu sekarang ini”
Setelah mendengar kata Ketemuan yang diucapkan
wina tadi membuat ia tersadar kalau hari ini dia mau bertemu dengan Reza jam 1 siang nanti. Kemudian ia pun langsung bergegas
melihat jam di dinding.
“ Astaga, gw hampir lupa!”
“ kenapa din?”
“ gara-gara lu nih, gw keasikan ngobrol. Gw jadi
lupakan sebentar lagi gw mau jalan sama Reza”
“ ciee.. yang mau jalan sama Reza. lu mau ketemuan dimana?”
“ dirumah, dia mau jemput gw dulu dirumah habis itu kita jalan deh. gw siap-siap dulu ya.. udah jam 12 : 10 siang nih, nanti kita lanjutin lagi deh..”
“ eh jangan di matiin dulu, gw mau tanya nih
sama lu. Lu udah jadian sama Reza?”
“ belum. Gw sama dia gantung win, akhir-akhir
ini perasaan gw ke dia aneh. Kadang gw suka kadang gw enggak suka dan anggap
dia biasa-biasa aja, gak tau nih kenapa. Gw si gak mau ambil pusing, tapi
intinya yang gw tau emm.. sepertinya gw naksir dia. Tapi gak tau deh, dia ke gw
bagaimana?”
“jangan putus asa, positif thinking aja. Sama
seperti lu pernah bilang sama gw untuk positif thinking.”
“ iya gw juga positif thinking, tapi gw juga
berhati-hati takut disangka kepedean. Tapi dianya gitu si suka kasih kode atau
signal-signal gitu ke gw, yahh.. kayak perhatian, peduli, baik, dll deh
pokoknya. Gw si mencoba untuk bersikap biasa aja setiap dia bertingkah seperti
itu bahkan sampai detik ini pun sikapnya dia masih sama dan gw jg sampai detik
inipun yang mendapat perlakuan seperti itu mencoba untuk bersikap biasa-biasa
aja meski dalam hati gw seneng banget, tapi coba lu fikir deh cewe mana yang
gak bakal lumer kalau tiap hari diperlakukan seperti itu”
“iya juga sih, emang sifat cowo mah susah
ditebak. Suka kayak gitu, aneh. Oya, katanya lu mau siap-siap. Yaudah gih sana
lu dandan yang cantik, have fun yaa.. bye”
“ oke, bye..”
25 hari kemudian
Pukul 09.00 Hp Dinda berbunyi, Dinda yang sejak
tadi sedang menunggu sms dari sahabatnya langsung bergegas mengambil handphone
setelah mendengar nada deringnya berbunyi.
“ Halo, win. Mana katanya lu mau smsin
alamatnya”
“ mending lu catet aja deh alamatnya, gw takut
lupa sms. Jln. kedoya baru no. 14 kav. F 5-6 nama butiknya Busana T. Fashion gw
tunggu lu disana jam 11 siang ya. jangan sampai telat habis dari sana kita
sekalian makan siang bareng, oya kalau bisa lu ajak Reza ya.. jadi kita kan
bisa sekalian doubel date dan juga kita bisa saling ngenalin pasangan
masing-masing”
“ gw kan belum jadian bahkan atau bisa dikatakan
gak jadian sama dia, pakai acara doubel date segala. Gak ah, mending gw aja
yang dateng. Lagi pula dia kayanya hari ini sibuk deh, gak usah ajak dia deh.
Kalau mau kenalan nanti aja kapan-kapan gw kenalin tapi gak sekarang.”
“oh, gitu. Yaudah kapan-kapan yaa..”
“ ok, kita ketemu di butik nanti. See...”
Dindapun langsung bersiap-siap untuk bergegas
menuju alamat yang dikasih temannya tadi.
“ halo selamat siang. Pak saya pesan taksi ke
alamat kompleks Taman Indah no. 19 Jl. Perhutanan raya jakarta. Sekarang ya,
terimakasih”
“ Din..” panggil mamanya yang sudah berada di
dalam kamar Dinda
“ apa mah ”ucapnya santun dan tangannya juga tak
berhenti memoles wajahnya
“ kamu mau pergi kemana, tumben jam segini udah
siap-siap”
“iya nih mah, aku mau pergi ke butik. Ituloh si
wina kan mau nikah nanti tanggal 23”
“wina mau nikah?! cepet banget, koq mama gak
denger kabarnya si.”
“ iya, pokoknya ceritanya panjang deh mah. Aku
gak bisa ceritain sekarang, buru-buru. Oya mama juga nanti dapat undangan dari
Wina, eemm.. mah nanti kalau ada yang kasih undangan banyak jangan kaget ya itu
dari Wina semua.”
“ iya, nanti mama simpan punya mu dimeja dekat
tempat tidur ya”
“ ok,”
Tok..tok..tookk..
“ non, taksi pesanannya udah datang”
“iya
tunggu sebentar” teriaknya sambil memakai sepatu wedges
“ udah ya mah aku pergi, takut macet nih dijalan.
Ok bye mama... assalamuallaikum”
“waalaikumsallam, hati-hati dijalan” melihat
anaknya sudah keluar dari kamar
Dinda bergegas menuruni anak tangga dan menuju
halaman depan dimana taksi pesanannya sudah berada disana.
Bergegas masuk kedalam taksi “ pak nanti kita ke
alamat ini yang ada di kertas ini ya”
“baik mba”
Kini taksi yang ditumpangi Dindapun langsung
berjalan menuju tempat tujuan, sementara di tempat lain Wina sudah sampai di
tempat butik bersama calon suaminya.
“ hai mba wina” sapa pemilik busana
“ hai, sis”
“oya, ini busananya yang terakhir. Silahkan
dicobain dulu”
“emm.. aku nanti aja deh, soalnya aku lagi
nunggu sahabat aku.”
“ yaudah kalau begitu Masnya aja duluan”
Wina
mengangguk dengan cepat dan akhirnya Fando pun yang lebih dahulu mencoba
pakaian pengantinnya. Sambil menunggu, Wina menanyakan kabar Dinda yang sekarang
sedang berada dimana? Melalui sms. Tak beberapa lama kemudia Hp Wina berbunyi
tanda sms balasan dari Dinda.
" Sabar jalanan macet nih. paling sekitar 10 menit lagi gw sampai. tunggu aja ya."
“
Win,” panggil fando
“ ah
ya.. ada apa?”
“ kamu
lagi ngapain sih?”
“ ini,
aku lagi sms sahabatku. Aku tanya ke
dia sekarang lagi ada dimana, koq belum sampai”
“oh..,
oya gimana baju yang ini”
“emm..
bagus, pas lagi sama kamu”
“
iyalah sis, kan kalian udah berapa kali bolak-balik ketempat ougut. Jadi
ukurannya hapal dan pas lah dibuatnya” lugas pemilik busana
Wina
dan Fando saling melirik satu sama lain dan kemudian tersenyum mendengar ucapan
pemiliknya yang udah mulai akrab dengan mereka berdua.
“ oke,
yang ini kelihatannya gak ada cacat ya..
nah, sekarang cobain baju yang selanjutnya” ucap pemilik busana
Fando
pun langsung mengikuti sang pemilik busana untuk masuk keruang ganti dan
mencoba satu baju lagi.
Wina
yang baru aja duduk kembali tak lama ia melihat seseorang yang tak asing
baginya baru turun dari taksi.
“
permisi..” ucapnya seteleh membuka pintu butik
“ hei,
din.” Panggil Wina di sudut sebelah kanan yang sejak tadi sudah menunggu
“ gak
susahkan cari alamatnya,”
“gak,
oya udah lama lu disini.”
“yaa..
lumayan, lu mau pesen minum apa”
“emannya
disini ada kafe ya?” ucapnya heran dalam hati
“emang
elu mau pesan minum dimana? Udahlah nanti aja kasihan lu suruh orang jauh-jauh
untuk cariin gw minum” ucapnya polos
“
ckck.. din, makanya kalau jalan lu perhatiin sekitar dong. Sekarang lu ikut gw”
Dinda
pun mengikuti langkah wina, tenyata gak jauh dari tempat yang mereka duduk tadi
ada kafe kecil namun tempatnya sangat tidak terduga bagi para pengunjung baru
seperti Dinda
“disini
bukan cuma melayani tempat pembelian atau pemesanan baju, kata pemilik butiknya
sih dia sengaja bikin kafe disini buat orang-orang yang lagi nunggu teman atau
sanak saudaranya lagi cari atau cobain baju pastinya kan butuh waktu yang lama.
Dari pada kita yang nunggu boring mending kita pesen mnuman dan cemilan aja.
Jadi sekarang lu mau pesen minum apa?”
“
samain aja deh kayak lu .......”
“mba
pesan orange juice ya satu lagi, nanti tolong anterin ketempat yang tadi”
Merekapun
berjalan ketempat duduk yang pertama
“eh
mana calon suami lu, penasaran gw mau lihat”
“tuh,
sedang cobain baju satu lagi diruang ganti”
“ oh,
eh toilet dimana ya win. Gw mau ke toilet dulu nih”
“ lu
dari sini lurus aja lewatin tempat tadi terus belok kanan masuk nah disitu
toilet cewe di bagian kiri”
Tak
lama Dinda berjalan menuju toilet, Fando pun keluar dari ruang ganti yang tak
jauh dari tempat tunggu wina dan tak
sengaja mata Fando tertuju kearah perempuan yang berjalan menuju toilet,
mungkin itu orang yang ia kenal.
“Tapi
mana mungkin ia kesini, lagipula untuk apa ia kesini?” Fando pun mulai
bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“ hei,
Fan”
“ah..
ya.”
“ kamu
kenapa si, koq dari tadi liatnya kearah sana”
“ gak
apa-apa, oya ini pakaian terakhir yang akan kita gunakan nantikan di acara
pernikahan kita”
“iya..”
“ahh..syukurlah”
“koq,
syukur?”
“iyalah,
aku cape banget gonta ganti bajunya. Belum hari H nya aja udah kaya gini”
“huss..
gak boleh ngeluh. Pernikahan itu seumur hidup sekali, kebahagiaannya juga
terpancar di acara pernikahan nanti. Apa salahnya berkorban demi mewujudkan
pernikahan yang indah, bagus nan elok bahkan yang diharapkan kalian pada malam
itu dapat memukau para tamu” celoteh pemilik busana
“ oke,
udah ya ganti baju” ucap Fando yang udah mulai males mendengar celotehan
pemilik busana ini yang sejak tadi bawel terus mulutnya
“yuk,
cus. Oya habis ini yey ya Win”
Wina
hanya menganggukkan kepala
Tak
beberapa lama kemudian Dinda kembali ketempat duduknya dan menemani wina.
“ oya
bentar lagi gw gantian cobain baju pengantin gw, nih undangan buat lu”
“ok,
thanks ya”jawabnya dan kemudian memasukan undangannya kedalam tas
“Gw
masuk keruang ganti ya”
“ok,”
Sambil
menunggu wina ia meminum jus jeruk yang dipesan tadi sambil memainkan handphone
didalam tas yang ia bawa, tak lama Fando keluar dari ruang ganti dan menuju
toilet. Wajah dinda kali ini terhalang oleh rambut panjangnya sehingga, tak dikenali
oleh siapapun. Tak lama Wina keluar dari ruang ganti.
“Din,”
Mengangkat
kepalanya “wah cantik banget lu Win”
“terimakasih,
eh lu udah ketemu sama calon gw si Fando”
Dinda
hanya menggeleng-geleng kepala.
“ koq
bisa, dia udah keluar dari tadi loh. Masa si gak ketemu?”
“gak,
gw gak lihat siapa-siapa? Lagi pula sekalipun dia keluar mana ngenalin gw, kan
kita belum kenal”
“oh
iya ya, yaudah habis ini deh gw kenalin. Tapi sekarang Fando kemana ya?”
“udah
gak usah khawatir, paling dia masih disekitar sini. Gak mungkin dia ninggalin
elu kan?”
“ iya
si, ya udah gw ganti baju dulu ya”
“ lu
gak coba baju satu lagi” tanya dinda
“ gak,
pakaian gw yg 3 udah duluan. Nah yang ini pakaian ke-4 gw nanti yang akan gw
kenakan”
“ckckckk..
gile lu mau fashion show atau mau nikah. Banyak banget sampai gonta-ganti baju”
“mau
jualan baju gw, sekarang gw jadi modelnya. Kalau gw yang jadi modelnya kali aja
laku bajunya”
“
paling ga ada peminatnya, orang modelnya masih amatir. Hahaa..”
“hahaa...
kurang ajar, udah ah gw mau ganti baju dulu”
Kali
ini Dinda menunggu tidak ditempat tadi, karena minumannya sudah habis. Ia
memesan lagi soft drink dan sedikit cemilan, sekarang posisi duduk Dinda berada
di tempat meja minibar dan membelakangi tempat tunggu yang tadi. Ternyata Fando
sudah sejak tadi keluar dari toilet sekarang ia membawa pesanannya sendiri,
ternyata mereka belum menyadari satu sama lain. Mungkin wajar, karna Dinda
selalu menyibukkan diri dengan mendengarkan musik dan memasang satu headset di
telinganya agar ia tetap bisa mendengar dikala wina memanggilnya dan juga ia sekarang
sedang main games di handphone nya.
“ jadi
besok yey udah gak kesini ya, ini pakaian eike antar ketempat nanti satu hari sebelum
hari H” ucap sis pemilik butik
“iya,
kan besok udah dipingit beberapa hari untuk gak keluar rumah. Thanks ya sis
udah bantu”
Fando
menghampiri wina yang sudah keluar dari ruang ganti
“
tinta ampar-ampar boo... sampai ketemu lagi ya, eh meski yey udah menikah kalau
mau main atau mampir kesini aja gapapa koq.”
“ok,
nanti ya. sekali lagi makasih ya”
“
jangan lupa promo-promo”
“ok”
“eh
Fando nanti kalo udah jadi suami, jaga istri baik-baik jangan sakitin dia.
Jangan kayak kebanyakan zaman masa kini, suami garang-garang sama istri padahal
istrinya baik dan patuh” pesan sis pemilik butik
Fando
tersenyum dan menganggukan kepala mendengar pesan sis pemilik butik
“
jangan angguk-angguk aja kaya burung, eike gak suka deh kalau sampai kejadian
kayak kasus kebanyakan”
“iya
sis, tenang.”
“
seneng deh eike lihatnya, ya udah ougut masuk kedalam ruang kerja lagi ya.
sorry gak bisa nemenin, masih ada kerjaan.”
“iya
gapapa”
“bye..”
Sis
pemilik butikpun berjalan masuk kedalam ruangan kerjanya kembali, sekarang yang
ada di area ini hanya karyawan-karyawan butik, wina, dinda dan Fando.
“Fan,
kamu udah ketemu sama sahabat aku belum?”
“Belum,
dia juga kayaknya belum datang.”
“ kata
siapa, dia udah datang dari tadi. Dari pas kamu cobain baju pengantin terakhir
tadi”
“ oya,
aku gak lihat tuh”
“ coba
ya, aku tanya salah satu karyawan disini. Kamu duduk aja dulu”
Fando
pun kembali duduk sedangkan Wina mencari sahabatnya di ruangan butik.
“Win,
nyari gue”
“eh
elu dicariin, yuk sini gw kenalin sama calon gw”
Wina
menarik tangan Dinda dan menghampiri Fando dari belakang
“Fan,
nih kenalin sahabat aku”
Fando
membalikkan badan, kini sekarang wajah Fando dan Dinda terkejut dan mereka pun
saling diam terpaku seakan tak menyangka.
“ hei
kalian koq diam”
Dinda
dengan berat hati langsung menjulurkan tangannya untuk berjabat dengan Fando
alias Reza yang ia kenal lebih dulu sebelum pertemuan ini.
“
Dinda..” dengan ucapan yang santai
“mm..f..f..f..fa..fando”
Dinda
mencoba tersenyum meski matanya sedang berkaca-kaca saat ini, ia sedang mencoba
akting untuk menutupi semuanya yang terjadi meski hatinya terus bekecamuk setelah kejadian ini.
Fando
hanya diam seribu bahasa, dia bingung entah harus berkata apa.
“
kenapa jadi begini, astaga.. aku merasa bersalah kepada Dinda juga pada Wina”
ucapnya dalam hati
Wina
tersenyum dan memaklumi situasi seperti ini karna sahabat dan calon suaminya
belum mengenal baik satu sama lain, ia mencoba untuk mencairkan suasana.
Sesekali ia melontarkan celotehan yang lucu dan sesekali juga Dinda
menertawakan cerita wina meski ia terasa buyar juga hampa, tidak hanya itu
sepertinya saat ini ia mulai tidak konsen berada diantara keduanya. Tak lama
kemudian Dinda membuka tasnya dan mengambil kartu nama yang pernah diberikan
oleh Reza alias Fando tempo lalu, saat ini matanya sedang mencuri perhatian ke
dalam tas untuk ingin menyamakan antara kartu nama yang tempo lalu dengan surat
undangan yang baru saja di berikan oleh sahabatnya itu.
Pertama
ia melihat undangan yang diberikan oleh sahabatnya
“
Rizky Erfando Zasky” gumamnya pelan
Setelah
melihat undangan tadi ia langsung melihat kartu naman yang pernah diberikan oleh
Reza atau Fando tempo lalu.
“Rizky
Erfando Zasky” gumamnya lagi
“tapi
kenapa namanya jadi Reza” ucapnya dalam hati
Sekali
lagi ia melihat kembali tulisan nama yang ia baca tadi dan mencoba mencari
jawabannya, setelah beberapa lama ia mencoba mencari akhirnya ia menemukan
jawabannya. Ternyata nama Reza diambil dari singkatan nama panjangnya R diambil dari nama depan yaitu Rizky sedangkan E diambil dari nama tengah yaitu Erfando dan yang terakhir Za diambil dari nama paling akhir yaitu Zasky.
“astaga,
kenapa gw bodoh sekali? Kenapa gw baru menyadarinya? Juga kenapa gw baru lihat
nama lengkap Reza, padahal gw udah lama punya kartu namanya” ucapnya dalam hati
Tak beberapa lama kemudian air mata Dinda tak
dapat tertahan lagi dan mulai menetes.
Fando
sejak dari berjabat tangan tadi ia tak berani melirik bahkan menatap kearah
Dinda, ia selalu menatap ke arah wina yang sejak tadi bercerita meski ia harus
pura-pura untuk antusias dan ingin menyenangkan perasaan wina.
Tak
sengaja Wina melirik kearah sahabatnya, melihat Dinda menundukkan kepala sambil
menitihkan air mata secara diam-diam dan entah dari kapan ia seperti itu wina
pun langsung menghentikan ceritanya dan beralih kearah Dinda.
“
Din,” panggil Wina lembut ia bingung kenapa dengan sahabatnya
Dinda
masih saja diam
“ lu
kenap din, koq jadi banyak mengeluarkan air mata?”
Saat
ini mulut Dinda sangat sulit untuk bersuara dan berbicara, namun dengan
beratnya ia tetap memaksakan kali ini ia mengeluarkan suara sesegukkan sangkin
beratnya ia ingin mengutarakan semuanya.
Fando
yang sejak tadi tak berani melihat Dinda, kini ia menatap dalam-dalam kearah
Dinda dan ia merasa lebih bersalah.
“Nih
lu minum air mineral dulu biar lu tenang dan bisa cerita dengan jelas”
Dinda
mencoba meminum air mineral yang diberika oleh wina tadi. Setelah dinda dapat
menenangkan diri ia mulai membuka mulutnya dan berbicara dihadapan Reza alias
Fando juga Wina.
“ inti
yang pertama gw mau ucapin selamat kepada kalian berdua semoga langgeng. Yang
kedua Dia kini telah bersama dengan yang lain win, yang selamanya gak akan
mungkin menjadikan dia jadi milik gw. Seharusnya gw tau sejak awal, intinya
sejak awal gw gak ada perasaan apa-apa sama dia. Tapi dia selalu membuat
perasaan gw menjadi seperti ini, lu pahamkan win maksud gw. Lu ingetkan
kajadian dimana gw sama lu ada di kamar lu, waktu gw nginep. Ini jawabannya,
semoga elu menemukan jawabannya”
“ apa
maksud lu dan ini apa sih, jawaban apa sih? Gw gak ngerti yang sebanarnya,
pasti Reza sms yang macem-macem ya?”
Fando
yang mendengar ucapan wina terakhir mulai deg-degan dan semakin campur aduk
perasaannya.
Dinda tak menggubris ucapan yang terakhir sahabatnya tadi, sebetulnya saat ini ia ingin memberikan kartu nama yang tempo lalu ingin ia tunjukkan kepada sahabatnya kalau semua ini ada hubungannya antara Reza, Fando dan Undangan untuk lebih meyakinkannya lagi. Namun sayangnya ia tak sampai hati dantega harus merusak kebahagiaan sahabatnya yang akan segera berlangsung beberapa hari lagi.
“ coba
lu inget kejadian malam itu dikamar lu pas gw
nginep dirumah lu, setelah lu mengingatnya coba lu cari dan rangkai
sendiri dari apa yang telah lu buat dan bagikan saat ini. Dia adalah dia,
masalah janji yang tadi untuk memperkenalkan lu sama dia mungkin tak akan
pernah terjadi. Karna mungkin lu telah dapat mengenalnya lebih dulu”
“kapan?”
“entah
kapan, tapiii sudahlah”
Setelah
mendengar ucapan Dinda tadi, Wina mulai mencoba berfikir keras dan mencoba
mengingat siapa saja yang pernah ia kenal lebih dulu
“
Din..” ucap Fando
Wina
menoleh kearah Fando tanpa rasa curiga terhadap pasangannya, mungkin wina
memang tidak terlalu peka dalam hal ini.
“ Gw
rasa udah cukup, gw mau pulang. Hari ini cukup melelahkan, gw selalu mendo’akan
lu win. Gw harap kalian langgeng dan hidup bahagia”
Dinda
beranjak bangkit, wina pun mengikuti gerak tubuh Dinda. Dinda memegang pundak
wina seolah memberi kode kalau ia tak boleh mengikuti dirinya dan harus tetap
berada disini, agar semua tak dapat terabah oleh Wina, Dinda langung memeluk
sahabatnya dan seakan ingin memberi tahu kalau saat ini hatinya sakit karena
mereka berdua.
Setelah kejadian dibutik siang tadi Fando atau Reza merasa bersalah pada dinda dan dengan rasa beralahnya itu jam 10 malam ia datang kerumah Dinda dengan tujuan utamanya dia ingin meminta maaf lalu kemudian ia ingin memberikan undangan untuk Dinda yang telah ia persiapkan, lalu yang terakhir ia juga akan menjelaskan semuanya.
"Toktoktok..."
terdengar pintu kamar Dinda diketok
"siapa?"
"Mba Nella"
"oh, ada apa mba?"
"ada tamu tuh, gw gak tau siapa. gw suruh masuk dianya malah mau nunggu di halaman depan"
"oh,"
"yaudah cepet temuin dia gih.."
"iyaa.. aku keluar nanti"
"ok. gw balik kekamar ya, kasihan anak gw ditinggal lagi dibacain buku cerita"
"yaa.."
tak lama kemudian mba Nella bergegas kembali kekamarnya, disamping itu Dinda saat ini sedang merapihkan dirinya agar tidak kelihatan terlalu kucal. sudah terasa cukup rapih ia kemudian pergi menuju halaman depan rumah.
terdengar pintu dibuka, Fando alias Rezapun menoleh kearah pintu
" hai," sapanya pelan
Dinda hanya membalas senyuman sambil tangannya menutup pintu kembali agar pembicaraannya tidak terdengar oleh orang rumah.
" ngapain kamu kesini?" tanya Dinda dengan ekspresi seperti sedang tidak ada sesuatu, sepertinya saat ini ia mencoba untuk bersikap tenang dan biasa saja seperti seolah memang sedang tidak terjadi apa-apa.
“ aku kesini ingin meminta maaf atas semuanya”
“gak ada yang perlu dimaafkan, karena semuanya
sungguh sangat sulit untuk dimaafkan meksi aku harus dengan terpaksa untuk
mencoba mengikhlaskan semua” ucap Dinda yang tak ingin menatap wajah Reza
Reza pun mendekati Dinda
“ Din” panggilnya sambil memegang tangan Dinda
Kali ini ia menoleh kearah Reza dan melepaskan
pegangan tangannya Reza
“ Gak baik calon pengantin datang kerumah wanita
lain malam-malam dan memegang tangan wanita lain” ucapnya
“ Din, aku harus melakukan apa agar kamu mau
memaafkan aku. Sungguh Din, aku gak bermaksud untuk menyakitimu dan sebetulnya
aku sudah ada rencana untuk menceritakan semua ini jauh sebelum pertemuan kita
dibutik tadi. Kamu masih ingatkan waktu terakhir kali kita ketemu dan pada saat
itu aku yang menjemput kamu disini, pada saat itulah aku ingin menceritakan
semua. Jujur memang awalnya aku menganggap kamu sahabat, tapi lama-kelamaan
entah kenapa setelah sering kali kita jalan bersama aku jadi merasakan hal yang
beda pada. Aku akui aku sudah mulai suka sama kamu, mungkin itu sebabnya aku
gak bisa mencari sela untuk memulai darimana menceritakan ini semua kepadamu aku
takut kamu marah atau malah pergi meninggalkan ku”
Mendengar penjelasan Reza mata dindapun mulai berkaca-kaca,
entah ia harus merasa senang kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan atau sedih
dan kecewa karena ia telah menjadi orang bodoh diantara Wina dan Reza alias Fando
calon suami sahabatnya itu.
“ cukup! jangan diteruskan kembali. Aku rasa penjelasanmu
ini sia-sia, kamu itu sebentar lagi akan menjadi suami sahabatku. Seharusnya kamu
gak pantas berbicara seperti itu kepada sahabat calon istrimu sendiri, aku hargai
semuanya yang terjadi malam ini. Aku juga akan mendo’akan semampuku untuk kebahagiaan
kalian juga aku pinta satu hal untuk jangan hubungi aku dan mencari-cari aku kembali,
tolong hargai keputusanku. Dan satu lagi anggap saja semua ini gak pernah terjad
dan kita juga gak pernah kenal satu sama lain juga jaga Wina baik-baik meski secara
tidak sengaja ia telah sedikit melukai hati dan perasaan ini.”
“ Din, kamu sahabat yang baik. Tapi tolonglah jangan
bersikap seperti itu”
“ terlambat, aku sudah menutup lambaran itu. Jadi
memang sudah tidak ada lagi antara aku, kamu dan dirinya yang dulu pernah menjadi
sahabatku, oya udah sangat larut gak baik bertamu sampai larut seperti ini. Aku
harap kamu pulang”
“ baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan mu.
Oya sebelum aku pergi aku mau memberikan undangan ini, aku harap kamu datang mungkin
itu akan menjadi perpisahan terakhir antara Aku, Kamu dan Sahabatmu Wina”
“ aku gak janji, berdo’alah dan jangan berharap lebih”
“ yasudah aku pulang, selamat malam”
“ ya..”
Dindapun kemudian langsung bergegas masuk kedalam
rumah sambil memegang undangan yang diberikan oleh Reza tadi.
Setelah
kejadian itu Dinda menutup akses telepon dari Wina dan Reza alias Fando, ia
mengganti no telepon dan hanya memberi tahu kepada orang-orang yang tak
bermasalah pada dirinya kecuali Wina dan Fando. Ia tak mau hatinya tambah sakit
lagi, ia merasa cukup atas kejadian beberapa hari yang lalu. Teman-teman atau
kerabat yang mengenal Wina ataupun Fando alias Reza dan memiliki no Dinda saat
ini mereka berjanji untuk tidak memberitahukan no Dinda yang baru kepada Wina
dan Fando alias Reza.
Tak
terasa waktu sudah menjelang sore, siaran radio yang ia dengar sejak tadi pun
sudah tak memutar lagu-lagunya. Mungkin tema acaranya sudah berubah sesuai
jadwal, Dinda segera mengusap air matanya yang sejak tadi mengalir kembali dan
segera mematikan radio.
“
Theo..” panggilnya
Theo
dan kedua temannya pun menghampiri Dinda
“ apa
tante,”
“
sekarang udah mau sore, mainnya udah ya. tuh lihat badannya berkeringat
sekarang waktunya mandi, besok main lagi ya”
Cill
dan Cal pun pamit pulang, mereka diantar oleh bibi sampai kerumahnya sedangkan
Dinda dan Theo berada di dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian Mama dan mba Nella
pulang.
“tanteee,
omah sama bunda pulang” ucapnya dengan penuh gembira
Dinda
hanya tersenyum.
Ibu
dan kakaknya sudah kedalam rumah kemudian duduk di ruang yang sama dimana Dinda
berada, dinda melihat mereka pulang hanya diam dan tak berkata apapun.
“Theo,
kamu belum mandi” tanya Bundanya
“
belum bunda, aku baru saja selesai main sama Cill dan Cal” ucapnya
“ din,
kamu gak datang keacara pernikahan Wina? Tadi Wina sama suaminya nanyain kamu
loh? Katanya kamu kemana, koq belum datang. Terus juga katanya sekarang kamu
koq jadi susah dihubungin” ucap mba Nella
Dinda
tetap saja diam dan tak menjawab ucapa kakaknya itu.
“
Dinda mau pergi cari angin mungkin nanti pulangnya larut malam. Oya, pintu
jangan dikunci”
“ kenapa
kamu din, kamu koq gak mau datang keacara sahabatmu”
“
kenapa kak! Kakak butuh penjelasan apa dari Dinda! Mending kakak urus aja
urusan kakak yang sebentar lagi mau sidang sama Mas Ferry”
“
DINDA ! apa maksudmu bicara seperti itu di depan keponakanmu!” Nada Bicara
Nella kini mulai meninggi
“ Gak
ada maksud apa -apa! Hanya saja aku ingin mengingatkan ke kakak akan hal yang
seharusnya kakak selesaikan terlebih dahulu sbelum mengurusi orang lain.”
“ asal
kamu tau ya din! Sidang ceraiku ini bukan dia yang menceraikan aku, tapi aku
yang sudah tak ingin lagi bersamanya dan ingin cerai darinya. sebentar lagi juga selesai perceraianku dengan Ferry.”
“sudah,
jangan bertengkar. Nella, biarkan saja
adikmu. Dia sudah dewasa, sudah mengerti mana yang lebih penting dan mana yang
lebih baik. Dan kamu juga din, seharusnya kamu bisa jaga sikap kamu bukan
anak-anak lagi. Mama rasa tak pantas atas sikap kalian di hadapan cucu-cucu
mama.”
Nella
terdiam dan merasa ada sesuatu yang kurang pas dengan adiknya.
Setelah
mendengar ucapan mamanya Dinda pergi meninggalkan ruangan tadi.
Dengan
rasa sedikit khawatir atas sikap Dinda yang mulai tak terkontrol seperti ini,
nada bicara mamanya kali ini sedikit melunak.
“
Dinda, kamu gak mandi nak. Yakin kamu mau pergi dengan seperti itu”
“ gak
mah, aku lagi males. Mungkin aku hanya cuci muka, sikat gigi dan sisiran dengan
rapih”
“
hati-hati ya kamu dijalan baca do’a dan sepanjang perjalanan ingat terus akan
Tuhan Yang Maha Esa”
“iya,
mah”
Setelah Dinda bersiap, ia langsung membawa handphone, dompet dan kunci
mobil. Kemudian ia bergegas mengendarai mobil honda jazz merahnya keluar dari
garasi rumah dan dengan cepatnya ia sudah berada jauh dari area tempat tinggalnya. Mungkin saat
ini ia tak tau akan menuju kemana, tapi ia akan mengikuti hati dan fikiran
bahkan juga akan mengikuti gerakan tangan yang akan mengarah dengan sendirinya
tanpa ia inginkan bahkan prediksikan. Yang ada difikirannya saat ini ialah ia
dapat menghilangkan seluruh rasa penat dalam dirinya.
- Sekian ( Tamat ) -