Matahari telah terbangun dari tidurnya,
burung-burungpun hendak bersaut paut didahan, sejuknya embun pun mulai menambah
kenikmatan di pagi hari. Namun di pagi itu terasa sangat memilukan bagi anak
laki-laki yang masih tertidur pulas didalam ranjangnya, ia masih menikmati
mimpinya seolah-olah ia ingin terus bermain-main dalam mimpinya itu.
“ Oka.. oka....” Teriak wanita yang sudah
berumur 5 abad.
Anak laki-laki yang dipanggil itu hanya terdiam
dalam ranjangnya, tak ada suara sedikitpun dalam bibirnya itu.
“Okaaa..” panggil wanita itu lagi.
Namun alhasil suara itu tak mampu membuat mimpi anak
laki-laki itu terganggu, ia masih terlihat semakin pulas.
“ Astaga anak ini,” gerutu wanita yang memanggil
anak laki-laki tersebut.
Wanita itu segera mendekati pintu kamar anak
laki-laki itu dan membuka pintu kamarnya.
“ Oka...” membangunkannya dengan lembut sambil
menunggu respon dari anak laki-laki tersebut
Tenyata anak itu tak meresponnya juga, dengan
sengaja wanita itu membuka jendela dengan lebar. Alhasil usaha wanita itu tak
sia-sia untuk membangunkan anak laki-laki itu, mimpinya terganggu oleh silaunya
sinar cahaya matahari yang mulai beranjak datang kembali.
“ emm ...” ucap oka seperti entah mengulet atau
menyayangkan mimpinya itu yang mulai hilang.
Memang benar mimpi anak laki-lakai itu sudah
terganggu oleh cahaya matahari dari balik jendela kamarnya yang sudah
terbentang lebar.
“ Ayo bangun, kamu memang tidak ingin pergi
kesekolah? ” tanya wanita itu yang sedang merapihkan kamar anak laki-laki
sematawayangnya.
Oka mencoba membuka matanya, namun sangat sulit
untuk membukanya. Mungkin sudah terlalu lama ia bermain dalam mimpinya sehingga
saat ini ia sangat sulit untuk membuka matanya.
Ia menjawab pertanyaan mamanya dalam keadaan masih
setengah ngantuk “ emm... iya mah. Aku mau siap-siap kesekolah” bergegas bangun
dan memaksakan diri untuk membuka matanya dan berjalan menuju kamar mandi meski
masih belum terkumpul semua nyawanya.
“ yasudah, mama tunggu di meja makan. Jangan
lama-lama nanti kamu terlambat kesekolah ”
Tangannya meraba ke
arah handuk “ siap bos! ” ucapnya singkat
Wanita itu hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat anak laki-lakinya itu, kemudian
ia pun bergegas meninggalkan kamar putranya.
Oka pun mengeluarkan
kemampuan extra cepatnya dalam mandi dan memakai seragam sekolahnya, disamping
itu mamanya sudah menunggu Oka sejak tadi di meja makannya. Tak beberapa lama
kemudian Oka keluar dari kamarnya dengan menggunakan seragam yang rapih dan
menghampiri mama yang sudah menunggu lama.
Mencium pipi mamanya “
Pagi mah, hehee..”
“ pagi, hmm... Oka..Oka.
Kalau mama tidak ada dirumah pasti kamu bangunnya siang.” Keluh mamanya
“ yah gak akan, kalau
mama gak ada dirumah kan ada bibi Munah yang bangunin aku. Betul gak bi,”
Bibi munah yang sedang
mengeringkan piring-piringnya hanya tersenyum saja.
“ bibi juga bangunin
kamu kwalahan, toh kamu tidurnya angles banget. Buktinya tadi dibangunin
susahnya minta ampun”
“ heheheee... maaf mah,
tadi tuh aku lagi mimpii yang indaaaahh banget”
“mimpi apa memangnya?”
Menghabiskan susu
putihnya “ hmm.. aku tadi mimpi bertemu papa, papa tadi terlihat ganteng
banget. Terus aku ajak aja papa main sama seperti dulu waktu aku masih kecil,
yah hitung-hitung sambil melepas rindu.” Ucapnya polos
“ngawur, pasti bukan
itu” ledek mamanya
“serius, yasudah kalau
gak percaya.” Memasang muka cemeberut.
“iya deh mama percaya,”
mencubit pipi anak laki-lakinya “ oya nak, kamu sudah siap semua untuk berangkat
kesekolah?” tanya mama untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
“tenang, semua sudah
lengkap jadi sudah siap untuk berangkat sekolah”
“yakin?” setengah ragu
Oka hanya menjawab
dengan anggukan pelan dan senyuman tipis.
“ Ok, kalau begitu. Sekarang kamu bawa bekal
yang sudah mama siapkan, tadi kamukan hanya minum susu dan tidak sempat
sarapan.”
Oka yang sedang membetulkan sepatunya hanya
mengangkat jempol sebelah kanannya seperti menunjukkan kalau ia meng-iyakan
ucapan mamanya.
“inget, jangan lupa dimakan.” Ucap mamanya
“Iya mama.., aku pasti makan.” Melihat alrojinya
menunjukan pukul 06:10 “ Aku
pamit mah udah siang nih.”
Oka pun salaman kepada mamanya dan ia juga membawa
kotak bekal yang sudah disiapkan, lalu mereka berjalan keluar menuju halaman depan
rumah.
“ Pak Tito..” panggil wanita itu
Bergegas menghampiri suara majikannya “njee buu.” Ucap pak Tito
“ Antar Oka ke sekolah pak, nanti siang juga jangan
lupa jemput oka.”
“njee buu” sahut patu pak Tito terhadap majikannya
“ingat jemputnya jangan sampai telat.” Ucap wanita
itu untuk mewanti-wanti supirnya
Sebelum pak Tito menjawab pertanyaan majikannya, Oka
langsung lebih dulu menjawab pertanyaan
mamanya yang sejak tadi over protektif “iya
mama, pak tito juga tidak pernah jemput telat. Jadi mama tak perlu khawatir,
betul gak pak?”
Mengaggukan kepala “ Njee den.” Sambil memberi
sedikit senyuman kepada majikannya
Pak tito membuka pintu mobilnya “ mari den saya
antar” dengan sopan ia mempersilahkan majikan kecilnya.
Oka pun masuk kedalam dan kemudian ia membuka kaca
mobilnya “ assalamualaikum, bye mama.” Melambaikan tangan.
“waalaikumsalam, hati-hati” membalas lambaian tangan
anak laki-lakinya
Setelah mobilnya sudah mulai keluar dari pagar rumah
oka kembali menutup kaca mobilnya.
Kemungkinan jalanan nanti macet, ia langsung sibuk
mencari CD di dalam box untuk diputarnya agar suasana dalam mobil tidak suntuk
karena akan harus menunggu lama untuk sampai ke sekolahnya.
Pak Tito yang sejak tadi fokus terhadap kemudinya,
ia akhirnya mencoba melirik majikan kecilnya itu yang sejak tadi sibuk sendiri
entah ia sedang mencari apa.
“ Cari apa toh den? Dari tadi saya lihat sibuk
sekali” tanya pak Tito
“emm.. ini, saya lagi mencari CD pak. Tapi belum
ketemu”
“ oh..” ucap pak Tito singkat kemudian ia langsung
kembali fokus pada kemudinya
“Nah, ini dia” Ucap Oka pelan seperti ia sedang
monolog
Oka pun langsung memutar lagu Ada Band yang berjudul
Ayah ( Yang Terbaik Bagimu ), seperti biasa ia memutar lagu itu berkali-kali
dalam perjalanannya. Kadang sesekali ia terhanyut dalam buaian irama musik dan
lagunya, kadang sesekali pula ia ikut bernyanyi.
Okapun semakin sedih dan ia mulai merasa sakit
kerongkongannya seolah ia tak bisa mengeluarkan suaranya untuk berbicara,
sepertinya saat ini hanya air matanya yang ingin berbicara namun tertahan
karena ia tak ingin menunjukannya kalau ia sedang sedih. Saat ini ia ingin
melampiaskan benak-benak dalam dirinya namun ia tak tahu kepada siapa ia harus
mengurainya, yang ia tahu saat ini adalah hanya melalui lagu ini ia dapat
meluapkan seluruh isi hatinya. Suara musiknya kali ini sudah mulai usai, Oka
pun kembali memutar lagunya dan menyanyikan lagu itu seolah ia sedang
mempersembahkan lagu itu untuk seseorang yang ia sayangi dan ia damba-dambakan
saat ini.
Pak Tito yang melihat majikan kecilnya tak berani
berbicara dan berbuat apa-apa. Ia merasa iba dengan nasib anak itu, ia
membiarkan anak itu untuk meluapkan semuanya kemungkinan pak Tito mengerti isi
hati kecil anak majikannya itu.
Dengan sedikit suara bergetar ia memaksakan untuk
bernyanyi
“ Teringat
masa kecilku Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar
harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta
harapanmu
Kau ingin ku menjadi yang terbaik
bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkinku lakukan dalam waktuku
beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelunggu
jatuh danterinjak
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta
sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati
pintanya
AYAH dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi mau mu
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih
dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang mungkin
terlewati
Terlintas Oka langsung teringat oleh pesan papa nya
yang dulu
( “ Oka, kamu adalah satu-satunya harapan papa. Maaf
kalau papa selama ini mendidikmu dengan keras, papa melakukan itu semata-mata
papa ingin kamu lebih baik lagi, berfikir dewasa, dan supaya kamu tidak
melakukan kesalahan yang sama, juga agar kamu selalu ingat dan tidak akan mengulangnya
kembali.
Papa ingin kamu dapat berfikir dalam bertindak, mengapa
harus seperti itu? Karena kamu sebentar
lagi akan beranjak dewasa, papa sangat sayang sama kamu nak. Jangan pernah
berfikir kalau papa galak, papa membencimu. Ingatlah tak ada satupun orang tua
memarahi anaknya tanpa sebab. Orang tua marah karena ingin anaknya menjadi
lebih baik, jangan kau membenci kemarahan orang tuamu. Mungkin saat ini kau belum
mengerti, papa yakin suatu saat nanti kau dapat mengerti apa maksud papa, suatu
saat nanti mama papamu akan pergi jauh meninggalkanmu meski bukan mamamu yang
pergi terlebih dahulu. Kamu tak selamanya hidup bersama kami, kalau kamu tidak
kami tegur dengan kesalahan yang sudah kamu perbuat mungkin kamu akan selalu
mengulang kesalahan kembali atau kesalahan lainnya.
Setelah papa pergi mungkin sedikit demi sedikit kau dapat
berfikir dan mulai mudah menerima kemarahan papa mu. Oka anak papa, kalau papa
pergi nanti jaga dirimu baik-baik, jaga mama jangan sakiti hatinya, jadilah
anak yang baik, anak yang patuh terhadap orang tua, anak yang membahagiakan
orang tua anak yang sholeh, anak yang mandiri, anak yang sopan, anak yang tegar
dan anak yang memiliki pendirian teguh. Kamu anak laki-laki yang papa mama miliki satu-satunya, papa pergi
meninggalkan kalian bukan semata-mata papa ingin menjauh dari kalian. Papa
pergi karena sudah kehendak yang ditakdirkan, jangan salahkan takdir ini.
Jalani saja semua yang telah digariskan, jangan banyak mengeluh.
Kalau kamu rindu papa, percayalah nak. Papa selalu ada dihati dan fikiranmu untuk
selalu menjaga dan menyayangimu. Papa akan selalu merindukan kamu dan mama,
semoga suatu saat nanti hingga waktunya tiba kita dapat bertemu dan berkumpul
kembali di dunia yang kekal nanti.”)
Tuhan tolonglah sampai sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati
pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku
mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi mau
mu....”
Tak terasa air mata Oka menetes dari pelupuk matanya
dan dengan rasa getirnya juga ia tanpa sadar mengucap “ Papa ”
Tak berapa lama ia langsung tersadar dari lamunannya
dan langsung menghapus air mata yang jatuh tadi.
“ Sebentar lagi sampai den” ucap pak Tito yang segera
membuyarkan semuanya
“iya pak, nanti sampai pintu gerbang saja” ucap Oka
“ yasudah, nanti pulangnya mau di jemput jam berapa?”
“Jam dua siang aja pak.”
“ loh, memang hari ini tidak ada kelas tambahan toh
den?”
“saya sedang tidak ingin masuk kelas tambahan pak,
mungkin besok saya akan ikut kelas tambahan lagi”
“ oh.. yasudah”
“ tapi jangan bilang sama mama ya pak.”
“ Siap den. Nah sekarang sudah sampai di SMP Kartini
In-ter-na-ti-o-nal eSCeHOOL”
Tertawa geli mendengar lafal pak Tito tadi “ SMP
Kartini International School kali pak”
“ heheheee.... loh tulisannya begitu, ya saya
bacanya ngikutin tulisannya. Wong saya tidak tahu cara bacanya yang betul
seperti apa, maklum den orang kampung.”
Menggeleng-geleng kepala sambil tertawa kembali “
Hahahaa... Yasudah tidak apa-apa, nanti saya ajari cara bacanya. Terimakasih ya
pak” ucapnya kemudian turun dari mobil
“njee den, sama-sama. Saya langsung pulang yo” pamit
pak Tito
“iya, hati-hati pak. Jangan lupa jam dua siang”
menutup pintu mobil.
Oka pun
langsung bergegas masuk kedalam sekolah. Sebelum menaiki tangga ia tiba-tiba di
panggil oleh salah satu guru.
“ Oka..” panggil guru tersebut
Langkah kaki Oka terhenti kemudian ia menoleh dan
mencari-cari arah sumber suara tersebut
“ Oka.. Come here.”
Terdengar suara itu lagi, namun kali ini suaranya
sangat ia kenal. Kemudian ia menemukan arah sumber suaranya yang sangat pasti.
“ Oka, sini..”
Berlari menghampiri guru itu “ Yes Sir, What can I
do for you?”
“ Ya, something ”
“What is that?” tanya Oka penasaran
“ sudahlah sekarang kita berbicar menggunakan bahasa
Indonesia, kita belum ada masuk jam sekolah jadi masih bebas” ucap guru
tersebut
Tersipuh malu “iya pak, maaf.”
“tak apa. Oya, nanti tolong beritahu teman-temanmu
kalau seusai pulang sekolah nanti kita tidak ada kelas tambahan, untuk
sementara diliburkan dahulu”
Hati Oka pun sangat bahagia, akhirnya nanti Ia tak
perlu repot-repot mencari alasan untuk menghindar dari kelas tambahan. Wajah
Oka sedikit terlihat senang.
“ Oya pak, memang kenapa kelas tambahan di liburkan?”
“karena seusai pulang sekolah nanti bapak akan pergi
untuk menghadiri sebuah acara yang wajib bapak datangi.”
“Rapat guru?”
“ Ya semacam itu,”
“ Baik pak, nanti akan saya sampaikan”
“ tapi ingat liburnya hanya hari ini ya, besok
kembali seperti semula”
“ Yes Sir, I am understand.”
Merekapun meninggalkan tempat perbincangan tadi, Oka
kembali menaiki tangga dan segera masuk kedalam kelas. Tak beberapa lama
kemudian suara bel masuk berbunyi, jam pelajaran pun sudah dimulai.
Oka mengikuti
pelajaran dengan hikmat dan serius, ia selalu mendengarkan penjelasan dari
gurunya. Di setiap pelajaran ia tak pernah sedikitpun melewatkan penjelasan
yang diberikan oleh gurunya begitu saja, untuk selalu mengingat setiap
penjelasan yang diberikan oleh gurunya ia selalu mencatat kedalam bukunya yang
menurutnya penting untuk dicatat, tak heran kalau ia suka terpilih menjadi
murid teladan dan berprestasi dikelasnya.
Tak hanya itu, ia juga disenangi oleh teman-temannya
karena sifatnya yang baik, ramah, lucu dan nyeleneh dengan gayanya itu menjadi
pusat perhatian bagi dirinya. Ia selalu terlihat bahagia disekitar
lingkungannya, bahkan ia tak ingin memperdulikan hatinya entah itu sedang sedih
atau tidak.
Jam sudah menunjukkan angka 2, jam belajar mengajar
pun telah usai. Semua murid bersiap untuk pulang, disamping itu juga ia sudah
menyampaikan pesan dari gurunya kalau hari ini kelas tambahan sedang
diliburkan.
Oka berjalan menuju halaman sekolah bersama
teman-temannya, tak beberapa kemudian mobil jemputan Oka sudah berada di depan
gerbang lalu Pak Titopun juga segera berdiri di depan pintu mobil, Oka segera
mempercepat langkahnya untuk menghampiri pak Tito.
“Siang den” sapa pak Tito sambil tersenyum
“ Siang Pak,” membalas sapa
Pak Tito segera membuka pintu mobilnya, kemudian di
ikuti Oka yang segera masuk kedalam mobil.
“ hmm... panas banget ya pak hari ini.”
“iya den, puanasee santer tenan.” Ucapnya sambil
mengendarai kemudinya
“yasudah nanti kita mampir ke swalayan ya, kita beli
minuman yang segar-segar. Sekalian kita mampir ke Petshop, saya mau beli
makanan untuk Gembel”
“siap den,”
Suasana mobilpun terasa sunyi, tiba-tiba handphone
Oka berbunyi..
Kriiiinggg.... kriiiingg...
Oka melihat handphonenya “MAMA”, ia segera
mengangkat telephonnya.
“ Hallo, Assalamualaikum.” Ucap Oka
“ Waalaikumsalam, kamu lagi ada dimana?”
“ Lagi dijalan mau pulang mah sama pak Tito, tapi
nanti aku ke Petshop dulu mau beli makanan Gembel”
“ kamu gak ada jadwal kelas tambahan nak?”
“ gak mah, tadi Sir Edward Hua yi bilang ke aku dia
hari ini tidak bisa mengajar kelas tambahan karena ada acara yag wajib ia
hadiri. Makanya tadi aku disuruh untuk menyampaikan ketemen-teman kelasku”
“oh yasudah kalau seperti itu, kamu dan Pak Tito hati-hati
dijalan. Oya nak nanti mama pulang malem sekali, kamu jangan lupa makan dan
jangan lupa kerjakan pr.”
“iya mah, yasudah sekarang sudah sampai di petshop
nih mah. Udah dulu ya, bye.. assalmualaikum”
“ waalaikumsalam”
Oka langsung mematikan jaringan telepon dari
mamanya.
Setelah mencari tempat parkir, Pak Tito segera
membuka pintu mobilnya.
Setelah turun dari mobi “ Pak Tito ikut saya masuk
kedalam yuk, sekalian pilih minumannya dan temani saya ke petshop disamping
swalayan ini”
“saya gak perlu beli minuman den, saya tidak haus.”
Ucapnya sungkan
“ sudah tidak apa-apa, ayo pak sini”
Akhirnya Pak Tito pun mengikuti ajakan anak itu, pak
Tito pun mengambil salah satu minuman yang ada di swalayan. Setelah selesai
membeli minuman, mereka langsung menuju ke petshop yang letaknya tidak jauh
dari swalayan.
“selamat siang” ucap salah satu pegawai petshop
dengan ramah
Oka hanya membalas senyum, dan pak Tito yang
mengikuti dibelakangnya juga tersenyum.
“Mau pilih makanan apa ade?” tanya salah satu
pegawai
“ saya mau beli makanan kucing, untuk ukuran yang
sedang ini berapa harganya mba?”
“oh yang ini harganya Rp 25.000,-”
“ kalau yang besar?”
“yang besar Rp 40.000,-”
“ yasudah, saya pilih yang besar saja.”
“ baik, akan saya ambilkan. Ada lagi yang ingin
dipilih?”
“sudah, tidak ada hanya ini saja”
Mengangguk “ yasudah silahkan ke kasir untuk
transaksi pembayarannya, untuk makanan yang besarnya akan saya antar ke kasir”
Okapun menuju ke kasir,
“ mba saya ingin membayar makanan kucing yang ukuran
besar.”
“ ya tunggu sebentar, harganya Rp 40.000,-”
Oka mengambil uang disakunya, dan memberi uangnya di
kasir. Tak beberapa lama makanan kucing pun di berikan oleh pegawai
swalayannya, setelah selesai ia langsung menuju rumah. Setelah sampai dirumah
Bi Munah segera membuka pintu rumah.
“siang den” sapa bi Munah
“siang bi” jawabnya sambil melepas sepatu.
“ cape ya den, habis pulang”
“iya nih bi, oya si Gembel ada dimana?”
“ bibi kurang tahu den, mungkin lagi tidur di
halaman belakang dekat kolam. Oya den minumannya sudah bibi siapkan dimeja”
“iya terimakasih bi,” ucap Oka lalu ia segera masuk
kedalam dan mencari kucing peliharaannya itu
‘Gembeell.. ckckck...” panggilnya sambil membunyikan
kantung makanan yang baru ia beli tadi
“ Gembeeel.. dimana kamu?” ucap oka sambil
mencari-cari disudut ruang
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara sautan
dari kucingnya “ Meeoooongg..” seolah ia mengerti majikannya telah pulang dan
mencarinya
“ Gembel..” panggilnya lagi
Kucingnya pun lari menghampiri Oka, dan ia
memutar-mutari dibawah kaki Oka. Seolah ia ingin bermanja-manja dengan
majikannya itu,
Menggendong kucing kesayangannya “ hai ndut, kamu
tadi dimana? Udah makan belum?” ucapnya sambil berjalan menuju tempat makan
Gembel
“ nih aku udah beli makanan untuk kamu” menurunkan
kucingnya dari gendonganya “tunggu sebentar ya, aku mau menuangkan makanan ini
untuk kamu” Oka segera menuangkan makanan kucingnya di mangkuk makanan Gembel.
Setelah selesai menuangkan makanan, oka memberikan
mangkuk makanannya kepada kucing kesayangannya itu. Gembel pun langsung memakan
dengan lahap, melihat kucingnya sedang makan ia langsung duduk dekat disamping
kucingnya.
“ Mbel, jadi kamu enak yah.” Sambil mengelus tubuh
kucingnya yang sedang asik makan
“hari ini aku sedang sedikit sedih, aku kangen
banget sama papa. Aku juga sedih karena mama suka pulang malam akhir-akhir ini,
ya aku tau si mama kerja dikantor lembur karena banyak kerjaan yang harus
diselesaikan. Tapi aku kesepian mbel, mungkin kalau tidak ada kamu aku
benar-benar tambah lebih kesepian. Terimakasih ya kamu selama ini selalu
nemenin aku dirumah, kamu memang teman yang selalu ada dihari-hariku”
Menghela nafas yang sangat berat “ hmmm...aaaahhh...
lelah sakali rasanya” keluhnya
“ den, mau makan gak?” tanya bibi munah
Menengok kebelakang “ eh, bibi. Iya nanti aku ambil
sendiri, bi aku kekamar dulu ya mau mandi dan ganti baju. Panas banget hari
ini”
“iya den”
Mengelus kucingnya “ mbel aku kekamar dulu ya, mau
mandi. Bye Gembel” ucap oka kepada kucing peliharaannya
Oka berjalan ke kamar, setelah sampai di kamar ia
meletakkan tasnya dan langsung ke kamar mandi. Setelah selesai mandi ia langsung
mengerjakan pr, sudah satu setengah jam
Oka berada di kamar menyibukkan dirinya dengan mengerjakan tugas
sekolah. Tiba- tiba terdengar suara keroncongan dari perutnya, ia baru tersadar
kalau ia belum makan sejak tadi. Akhirnya ia keluar kamar menuju tempat makan,
ia mengambil makan siangnya.
Waktu menunjukkan pukul 16:20, setelah selesai makan
Oka kembali ke kamar kali ini ia masuk kekamar bersama kucing kesayangannya.
Kali ini ia hendak beristirahat sambil menunggu mamanya pulang kerja, akhirnya
ia mulai tertidur lelap.
Tiiiiiiinnnn....
Tiiiiiinnn....
Suara klakson mobil, oka pun terbangun dari tidurnya
dan melihat arlojinya 20:30. Ia begegas keluar kamar dan menyambut mamanya.
“ assalamualaikum” ucap mamanya
“ waalaikumsalam” oka menghampiri mamanya dan
bersalaman
“ kamu sudah makan nak?”
Sambil berjalan menuju ruang keluarga “sudah”
ucapnya singkat
“Sudah mengerjakan Pr?” tanya mamanya lagi
Oka hanya menjawab dengan melalui anggukan
Duduk di sofa “ mama besok hari liburkan?”
Menyeruput teh yang sudah disiapkan oleh bibinya “
iya, ada apa? Memang besok kamu mau pergi keluar?”
“iya aku mau ke pemakaman papa, aku kangen sama
papa.”
“ oh yasudah kamu kesana”
“ mama gak mau ikut sama aku, untuk ke makam papa?”
“ bukan mama gak mau ikut nak, maaf banget mama
banyak banget file-file yang musti mama selesaikan. Kamu lihatkan sekarang mama
bawa file-file ini kerumah.”
“ kok mama gitu sih, jadi lebih penting kerjaan mama
dari pada ikut aku ke makam papa! Memang mama gak kangen sama papa!” ucap Oka
kesal
“ Bukan begitu sayang, mama bukan mementingkan
pekerjaan. Dan mama bukan tidak kangen sama papa mu, mama juga kangen. Tapi
waktunya saja sayang belum pas, kamu mau ke makam papa mu tapi disisi lain
mamamu sedang tidak bisa ikut pergi bersama”
“ sudahlah,” jawab oka kesal
“ tolonglah nak, mengerti mama sedikit saja”
Dengan nada terbata-bata dan sedikit kecewa “yasudah,
aku mengerti mama” Ucapnya singkat dan langsung bergegas meninggalkan mamanya
“ Oka, kamu mau kemana nak?” tanya mama
Oka hanya jalan terus, tak ada niatan sedikitpun
untuk menghentikan langkahnya. Ia juga tak menjawab pertanyaan mamanya, hati
oka saat ini sedikit kacau ia juga sengaja meninggalkan mamanya karena ia tidak
ingin berdebat dengan mamanya karena ia tak ingin menambah sakit yang ada di
hati mamanya, ia juga tahu saat ini mamanya baru saja pulang.
Oka berjalan menuju halaman yang ada dibelakang
kamarnya, ia duduk terpaku. Entah saat ini harus berbuat apa, namun air matanya
saat ini memaksa keluar dan mewakilkan untuk berbicara tentang apa yang ia
rasakan saat ini.
“andai papa ada disini” ucapnya yang terasa getir
(terlintas ia teringat kenangan yang ia masih ingat
bersama papanya dulu,) kenangan itu mulai bermain-main dalam benak Oka disisi itu
juga air mata Oka mulai mengalir seakan semua terasa telah menjadi satu, sangat
sulit baginya untuk menjelaskannya namun yang ia tahu saat hanya dia yang dapat
merasakannya.
Tanpa disadari Oka, ternyata mamaya sudah berada di
belakangnya dengan berjarak 2 meter dari dirinya. Mamanya tak berani berbuat
apa-apa, ia juga ikut menangis melihat putranya itu.
“ Maafkan mama, oka” ucap wanita itu dengan pelan
Tak tega melihat anak laki-lakinya, ia segera pergi
meninggalkan Oka sendiri di halaman belakang kamarnya. Wanita itu pergi ke
kamarnya untuk menenangkan fikirannya juga.
Tak terasa hari sudah mulai pagi, waktu menunjukkan
pukul 07:30. Ternyata ia sejak semalam tertidur di halaman, mamanya pun juga ta
membangunkannya. Ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke makam
papa-nya, setelah usai bersiap ia menuju keruang makan untuk sarapan. Disana ia
melihat mamanya yang sedang mengolesi roti dengan selai kacang kesukaannya, Oka
pun tetap diam dan berjalan menuju meja makan.
Setelah sampai di meja makan, mereka tidak bertegur
sapa. Saat ini suasana semakin sunyi dan dingin diantara keduanya, bi munah pun
yang melihat hanya terdiam dan bingung harus berbuat apa dengan suasan seperti
ini.
Oka mengambil susu putihnya kemudian duduk di kursi.
Ia tak mengambil roti yang dibuat mamanya tadi, ia membuat roti yang baru dan
dengan selai yang berbeda pula untuk ia makan.
Melihat perlakuan anaknya, wanita itu terdiam sedih
dan merasa bersalah. Ia ingin mulai berbicara namun terasa sulit untuk
mengucapkannya.
“bi, pak Tito sekarang ada dimana?” tanya Oka pada
bi Munah
Bi Munah menghampiri majikan kecilnya itu “ Ada den,
ia sedang siap-siap. Mau saya panggilkan?”
“Tidak usah bi, oya pak Tito sama bibi sudah
sarapan?”
“ sudah den” jawab bi munah
“ bohong, pasti belum sarapan. Nih aku ada roti ajak
Pak Tito untuk sarapan juga, bibi juga jangan tidak sarapan nanti sakit kalau
sudah seperti itu repot nanti tidak ada yang bisa urus semuanya. Kalau andalkan
mama juga percuma, mamakan sibuk dengan urusan kantor dan aku meski hanya
sesempat waktu mama.” ucap oka sambil memberi roti yang dibuat mamanya tadi
cukup banyak.
Bi Munah tak memperhatikan kalimat ucapan Oka, yang
ia tahu saat ini adala ia sedang heran melihat tingkat majikan kecilnya itu bersikap
berbeda, namun bi munah juga tak dapat membantah perintah majikannya itu dalam
keadaan seperti ini. Ia menerima saja roti pemberian dari majikan kecilnya itu.
Setelah menerima roti dari Oka, bi Munah bergegas
membawa roti itu kehalaman dengan membawa teh hangat untuk dimakan bersama
dengan Pak Tito.
Mamanya yang melihat sikap anak laki-lakinya sejak
tadi menjadi jera.
“ Sudah cukup Oka!” ucap mama kesal yang sejak tadi
tak dianggap hanya bagaikan patung dan juga mulai menyindir dirinya
Oka tak merespon sedikitpun ucapan mamanya, ia masih
saja asik dengan susu dan rotinya.
“ Oka, mama minta maaf atas kejadian semalam” ucap
mamanya lembut
Sekali lagi ia juga tak merespon ucapan mamanya
“ Hari ini mama ikut kamu ke makam papa, sekarang
mama sudah rapih” jelas wanita itu agar Oka kembali luluh
(mulai menatap mamanya) Oka menghentikan makanannya
sejenak. Kali ini ia merespon ucapan mamanya, namun ia hanya merespon dengan
senyuman. Mamanya juga membalas senyuman dari anaknya, kali ini hati mamanya sudah mulai sedikit
lega ia berfikir anak laki-lakinya ini sudah mulai membaik emosinya. Namun
tanpa dugaan mamanya itu salah jawaban Oka masih ½ kesal dan menyindir mamanya,
meski kali ini ia menjawab dengan nada yang santai dan tidak membentak.
Menelan roti yang dikunyah “ mama, lebih baik jangan
paksain diri mama untuk ikut sama Oka pergi ke makam papa, Oka tidak masalah
kalau harus pergi ke makam sendiri. Oka ngerti mama koq, mama kan sibuk
ngerjain tugas kantor.” Ucap oka santai sambil melihat roti yang ia pegang
“ tidak nak, bukan begitu. mama ikut kamu ke makam
papa sekarang ya? Masalah tugas-tugas mama dikantor, sudah mama selesaikan
semalam.” Jelas mamanya
“ sudahlah mah! tak perlu memaksakan diri.” Ucapnya
sedikit tidak terkontrol
“ Maaf. (menarik nafas) mama dengar Oka, mama semalaman begadang dan
belum tidurkan? Mending lebih baik, sekarang mama habiskan sarapan mama dan
pergi istirahat di kamar. Besok mama sudah mulai kerja, nanti kalau sakit mama
tidak bisa kekantor” jelas Oka, kemudian ia menghabiskan roti di tangannya dan
menghabiskan susunya.
Tak ada respon sedikitpun dari mamanya, oka
berlanjut akan pamit.
“ Oka berangkat dulu mah, assalamualaikum” ucap oka
singkat dan langsung pergi meninggalkan mamanya tanpa salaman
Sedikit
tersenyum “ waalaikumsalam” ucap mamanya sangat pelan
Oka berjalan
menuju ke luar rumah dan duduk kembali di depan teras.
“den, sudah mau berangkat?” tanya Pak Tito
Menggelengkan kepala “ nanti dulu pak, bapak tunggu
saja di dalam mobil” ucap Oka yang
sedang ingin menenagkan diri sejenak.
“ Baik den” jawab pak Tito dan langsung masuk
kedalam mobil
Menghela nafas “ Papa maaf kan aku, Ya ALLAH maafkan
hambamu ini atas sikap ku tadi terhadap mama” ucapnya dengan perasaan menyesal
Teringat dengan ucapan mamanya ingin ikut dan meminta
maaf kepadanya seperti tadi membuat ia bersalah akan sikapnya, ia ingin kembali
kedalam dan menjemput mamanya untuk ikut pergi ke makam.
Akhirnya ia bangun dari tempat duduknya dan mulai
berjalan perlahan, tiba-tiba terhenti sejenak. Ia teringat kembali kalau
mamanya semalam tidak tidur dan ia menjadi khawatir akan kesehatan mamanya
kalau nanti ia memaksakan mamanya untuk ikut. Oka semakin bimbang harus berbuat
apa, tidak ingin berlarut-larut merasakan hal seperti ini Okapun bergegas
menuju mobil.
Membuka belakang pintu mobil “ pak..!” dengan nada
terkejut
Menoleh kebelakang
“ iya den, ada apa?” tanya pak Tito
“ i-i.. ini bunga dari siapa? Perasaan saya belum
beli bunga untuk ke makam papa.” Ucap Oka bingung
“ oh itu ibu yang siapkan tadi den, ibu memesan
bunga untuk ke makam bapak”
Oka terdiam terpaku
“oya ibu mana den?” tanya Pak Tito kembali
Tanpa berfikir panjang lagi, ia lari kedalam rumah
dan tidak menghiraukan lagi pertanyaan pak Tito. Setelah sampai di ruang makan
ia terhenti dan melihat mamanya yang sejak tadi belum beranjak dari tempat
duduknya, namun kali ini posisi duduk mamanya sangat berbeda. Ia langsung
beranjak menghampiri mamanya dan memastikan mamanya tidak apa-apa. Setelah
dilihat ternyata berbeda dengan apa yang ia khawatirkan.
“mama” membangunkan mamanya dengan panik
Tak ada jawaban satupun, kemudian ia memeriksa nafas
dan denyut nadinya. Ternyata masih berfungsi, ia segera memangil pak Tito yang
masih berada di dalam mobil.
“Pak Titoo..” teriak Oka panik
Mendengar teriakan itu pak Tito segera keluar dari
mobil dan menghampiri Oka
“ada apa den? Panik sekali.” Tanya pak Tito heran
“mama.. angkat mama sekarang kedalam mobil. Antar
kami kerumah sakit”
“ba...baik den” pak Tito pun segera masuk kedalam
rumah dan mereka membawa masuk kedalam mobil untuk di bawa kerumah sakit
Setelah sampai di rumah sakit, pak Tito membawa
majikannya kedalam rumah sakit. Sedangkan Oka memanggil salah satu suster untuk
meminta mamanya untuk dibaringkan diruang periksa. Setelah di periksa, mama Oka
terkena penyakit jantung dan kemudian di bawa ke UGD. Mendengar pernyataan dari
dokter ia merasa bersalah atas sikapnya tadi dan ia menangis tiada hentinya
seakan takut kehilangan mamanya.
“ Ya ALLAH jangan ambil nyawa mamaku, maafkan aku”
pintanya dalam keadaan lebih menyesal dan sedih
“mama.. jangan tinggalin Oka mah, cukup papa saja
yang ninggalin Oka.” Menangis dengan terseduh.
“Oka mohon mah, Oka mohon..., demi Oka mah.”
Pintanya lagi dari balik pintu UGD
Tak beberapa lama ia terbangun dari tidurnya dengan
rasa panik “ astaga, tidak mungkin!”
Untuk memastikan dengan yakin sekarang ia melihat
arlojinya ternyata masih jam 7:30 pagi. Ternyata ia masih berada di dalam kamar
dan masih memakai pakaian yang semalam ia kenakan, kemudian untuk lebih
memastikannya kembali ia segera keluar dari kamar dalam keadaan baru bangun
tidur dan ia melihat wanita yang ia khawatirkan ternyata ia masih ada di dalam
rumah ini dan sedang menyiapkan sarapan.
-
TAMAT -