Powered By Blogger

MP3

Rabu, 12 Maret 2014

Jangan Tinggalkan Aku



Matahari telah terbangun dari tidurnya, burung-burungpun hendak bersaut paut didahan, sejuknya embun pun mulai menambah kenikmatan di pagi hari. Namun di pagi itu terasa sangat memilukan bagi anak laki-laki yang masih tertidur pulas didalam ranjangnya, ia masih menikmati mimpinya seolah-olah ia ingin terus bermain-main dalam  mimpinya itu.
“ Oka.. oka....” Teriak wanita yang sudah berumur  5 abad.
Anak laki-laki yang dipanggil itu hanya terdiam dalam ranjangnya, tak ada suara sedikitpun dalam bibirnya itu.
“Okaaa..” panggil wanita itu lagi.
Namun alhasil suara itu tak mampu membuat mimpi anak laki-laki itu terganggu, ia masih terlihat semakin pulas.
“ Astaga anak ini,” gerutu wanita yang memanggil anak laki-laki tersebut.
Wanita itu segera mendekati pintu kamar anak laki-laki itu dan membuka pintu kamarnya.
“ Oka...” membangunkannya dengan lembut sambil menunggu respon dari anak laki-laki tersebut
Tenyata anak itu tak meresponnya juga, dengan sengaja wanita itu membuka jendela dengan lebar. Alhasil usaha wanita itu tak sia-sia untuk membangunkan anak laki-laki itu, mimpinya terganggu oleh silaunya sinar cahaya matahari yang mulai beranjak datang kembali.
“ emm ...” ucap oka seperti entah mengulet atau menyayangkan mimpinya itu yang mulai hilang.
Memang benar mimpi anak laki-lakai itu sudah terganggu oleh cahaya matahari dari balik jendela kamarnya yang sudah terbentang lebar.
“ Ayo bangun, kamu memang tidak ingin pergi kesekolah? ” tanya wanita itu yang sedang merapihkan kamar anak laki-laki sematawayangnya.
Oka mencoba membuka matanya, namun sangat sulit untuk membukanya. Mungkin sudah terlalu lama ia bermain dalam mimpinya sehingga saat ini ia sangat sulit untuk membuka matanya.
Ia menjawab pertanyaan mamanya dalam keadaan masih setengah ngantuk “ emm... iya mah. Aku mau siap-siap kesekolah” bergegas bangun dan memaksakan diri untuk membuka matanya dan berjalan menuju kamar mandi meski masih belum terkumpul semua nyawanya.
“ yasudah, mama tunggu di meja makan. Jangan lama-lama nanti kamu terlambat kesekolah ”
Tangannya meraba ke arah handuk “ siap bos! ” ucapnya singkat
Wanita itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat anak laki-lakinya itu, kemudian ia pun bergegas meninggalkan kamar putranya.
Oka pun mengeluarkan kemampuan extra cepatnya dalam mandi dan memakai seragam sekolahnya, disamping itu mamanya sudah menunggu Oka sejak tadi di meja makannya. Tak beberapa lama kemudian Oka keluar dari kamarnya dengan menggunakan seragam yang rapih dan menghampiri mama yang sudah menunggu lama.
Mencium pipi mamanya “ Pagi mah, hehee..”
“ pagi, hmm... Oka..Oka. Kalau mama tidak ada dirumah pasti kamu bangunnya siang.” Keluh mamanya
“ yah gak akan, kalau mama gak ada dirumah kan ada bibi Munah yang bangunin aku. Betul gak bi,”
Bibi munah yang sedang mengeringkan piring-piringnya hanya tersenyum saja.
“ bibi juga bangunin kamu kwalahan, toh kamu tidurnya angles banget. Buktinya tadi dibangunin susahnya minta ampun”
“ heheheee... maaf mah, tadi tuh aku lagi mimpii yang indaaaahh banget”
“mimpi apa memangnya?”
Menghabiskan susu putihnya “ hmm.. aku tadi mimpi bertemu papa, papa tadi terlihat ganteng banget. Terus aku ajak aja papa main sama seperti dulu waktu aku masih kecil, yah hitung-hitung sambil melepas rindu.” Ucapnya polos
“ngawur, pasti bukan itu” ledek mamanya
“serius, yasudah kalau gak percaya.” Memasang muka cemeberut.
“iya deh mama percaya,” mencubit pipi anak laki-lakinya “ oya nak, kamu sudah siap semua untuk berangkat kesekolah?” tanya mama untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
“tenang, semua sudah lengkap jadi sudah siap untuk berangkat sekolah”
“yakin?” setengah ragu
Oka hanya menjawab dengan anggukan pelan dan senyuman tipis.
  “ Ok, kalau begitu. Sekarang kamu bawa bekal yang sudah mama siapkan, tadi kamukan hanya minum susu dan tidak sempat sarapan.”
Oka yang sedang membetulkan sepatunya hanya mengangkat jempol sebelah kanannya seperti menunjukkan kalau ia meng-iyakan ucapan mamanya.
“inget, jangan lupa dimakan.” Ucap mamanya
“Iya mama.., aku pasti makan.” Melihat alrojinya menunjukan pukul 06:10            “ Aku pamit mah udah siang nih.”
Oka pun salaman kepada mamanya dan ia juga membawa kotak bekal yang sudah disiapkan, lalu mereka berjalan keluar menuju halaman depan rumah.
“ Pak Tito..” panggil wanita itu
Bergegas menghampiri suara majikannya  “njee buu.” Ucap pak Tito
“ Antar Oka ke sekolah pak, nanti siang juga jangan lupa jemput oka.”
“njee buu” sahut patu pak Tito terhadap majikannya
“ingat jemputnya jangan sampai telat.” Ucap wanita itu untuk mewanti-wanti supirnya
Sebelum pak Tito menjawab pertanyaan majikannya, Oka langsung  lebih dulu menjawab pertanyaan mamanya yang sejak tadi over protektif  “iya mama, pak tito juga tidak pernah jemput telat. Jadi mama tak perlu khawatir, betul gak pak?”
Mengaggukan kepala “ Njee den.” Sambil memberi sedikit senyuman kepada majikannya
Pak tito membuka pintu mobilnya “ mari den saya antar” dengan sopan ia mempersilahkan majikan kecilnya.
Oka pun masuk kedalam dan kemudian ia membuka kaca mobilnya “ assalamualaikum, bye mama.” Melambaikan tangan.
“waalaikumsalam, hati-hati” membalas lambaian tangan anak laki-lakinya
Setelah mobilnya sudah mulai keluar dari pagar rumah oka kembali menutup kaca mobilnya.
Kemungkinan jalanan nanti macet, ia langsung sibuk mencari CD di dalam box untuk diputarnya agar suasana dalam mobil tidak suntuk karena akan harus menunggu lama untuk sampai ke sekolahnya.
Pak Tito yang sejak tadi fokus terhadap kemudinya, ia akhirnya mencoba melirik majikan kecilnya itu yang sejak tadi sibuk sendiri entah ia sedang mencari apa.
“ Cari apa toh den? Dari tadi saya lihat sibuk sekali” tanya pak Tito
“emm.. ini, saya lagi mencari CD pak. Tapi belum ketemu”
“ oh..” ucap pak Tito singkat kemudian ia langsung kembali fokus pada kemudinya
“Nah, ini dia” Ucap Oka pelan seperti ia sedang monolog
Oka pun langsung memutar lagu Ada Band yang berjudul Ayah ( Yang Terbaik Bagimu ), seperti biasa ia memutar lagu itu berkali-kali dalam perjalanannya. Kadang sesekali ia terhanyut dalam buaian irama musik dan lagunya, kadang sesekali pula ia ikut bernyanyi.
Okapun semakin sedih dan ia mulai merasa sakit kerongkongannya seolah ia tak bisa mengeluarkan suaranya untuk berbicara, sepertinya saat ini hanya air matanya yang ingin berbicara namun tertahan karena ia tak ingin menunjukannya kalau ia sedang sedih. Saat ini ia ingin melampiaskan benak-benak dalam dirinya namun ia tak tahu kepada siapa ia harus mengurainya, yang ia tahu saat ini adalah hanya melalui lagu ini ia dapat meluapkan seluruh isi hatinya. Suara musiknya kali ini sudah mulai usai, Oka pun kembali memutar lagunya dan menyanyikan lagu itu seolah ia sedang mempersembahkan lagu itu untuk seseorang yang ia sayangi dan ia damba-dambakan saat ini.
Pak Tito yang melihat majikan kecilnya tak berani berbicara dan berbuat apa-apa. Ia merasa iba dengan nasib anak itu, ia membiarkan anak itu untuk meluapkan semuanya kemungkinan pak Tito mengerti isi hati kecil anak majikannya itu.
Dengan sedikit suara bergetar ia memaksakan untuk bernyanyi
Teringat masa kecilku Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkinku lakukan dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelunggu jatuh danterinjak
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
AYAH dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi mau mu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang mungkin terlewati
Terlintas Oka langsung teringat oleh pesan papa nya yang dulu
( “ Oka, kamu adalah satu-satunya harapan papa. Maaf kalau papa selama ini mendidikmu dengan keras, papa melakukan itu semata-mata papa ingin kamu lebih baik lagi, berfikir dewasa, dan supaya kamu tidak melakukan kesalahan yang sama, juga agar kamu selalu ingat dan tidak akan mengulangnya kembali.
Papa ingin kamu dapat berfikir dalam bertindak, mengapa harus seperti itu? Karena  kamu sebentar lagi akan beranjak dewasa, papa sangat sayang sama kamu nak. Jangan pernah berfikir kalau papa galak, papa membencimu. Ingatlah tak ada satupun orang tua memarahi anaknya tanpa sebab. Orang tua marah karena ingin anaknya menjadi lebih baik, jangan kau membenci kemarahan orang tuamu. Mungkin saat ini kau belum mengerti, papa yakin suatu saat nanti kau dapat mengerti apa maksud papa, suatu saat nanti mama papamu akan pergi jauh meninggalkanmu meski bukan mamamu yang pergi terlebih dahulu. Kamu tak selamanya hidup bersama kami, kalau kamu tidak kami tegur dengan kesalahan yang sudah kamu perbuat mungkin kamu akan selalu mengulang kesalahan kembali atau kesalahan lainnya.
Setelah papa pergi mungkin sedikit demi sedikit kau dapat berfikir dan mulai mudah menerima kemarahan papa mu. Oka anak papa, kalau papa pergi nanti jaga dirimu baik-baik, jaga mama jangan sakiti hatinya, jadilah anak yang baik, anak yang patuh terhadap orang tua, anak yang membahagiakan orang tua anak yang sholeh, anak yang mandiri, anak yang sopan, anak yang tegar dan anak yang memiliki pendirian teguh. Kamu anak laki-laki yang  papa mama miliki satu-satunya, papa pergi meninggalkan kalian bukan semata-mata papa ingin menjauh dari kalian. Papa pergi karena sudah kehendak yang ditakdirkan, jangan salahkan takdir ini. Jalani saja semua yang telah digariskan, jangan banyak mengeluh.
Kalau kamu rindu papa, percayalah nak.  Papa selalu ada dihati dan fikiranmu untuk selalu menjaga dan menyayangimu. Papa akan selalu merindukan kamu dan mama, semoga suatu saat nanti hingga waktunya tiba kita dapat bertemu dan berkumpul kembali di dunia yang kekal nanti.”)
Tuhan tolonglah sampai sejuta  sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi mau mu....”
Tak terasa air mata Oka menetes dari pelupuk matanya dan dengan rasa getirnya juga ia tanpa sadar mengucap “ Papa ”
Tak berapa lama ia langsung tersadar dari lamunannya dan langsung menghapus air mata yang jatuh tadi.
“ Sebentar lagi sampai den” ucap pak Tito yang segera membuyarkan semuanya
“iya pak, nanti sampai pintu gerbang saja” ucap Oka
“ yasudah, nanti pulangnya mau di jemput jam berapa?”
“Jam dua siang aja pak.”
“ loh, memang hari ini tidak ada kelas tambahan toh den?”
“saya sedang tidak ingin masuk kelas tambahan pak, mungkin besok saya akan ikut kelas tambahan lagi”
“ oh.. yasudah”
“ tapi jangan bilang sama mama ya pak.”
“ Siap den. Nah sekarang sudah sampai di SMP Kartini In-ter-na-ti-o-nal eSCeHOOL”
Tertawa geli mendengar lafal pak Tito tadi “ SMP Kartini International School kali pak”
“ heheheee.... loh tulisannya begitu, ya saya bacanya ngikutin tulisannya. Wong saya tidak tahu cara bacanya yang betul seperti apa, maklum den orang kampung.”
Menggeleng-geleng kepala sambil tertawa kembali “ Hahahaa... Yasudah tidak apa-apa, nanti saya ajari cara bacanya. Terimakasih ya pak”  ucapnya kemudian turun dari mobil
“njee den, sama-sama. Saya langsung pulang yo” pamit pak Tito
“iya, hati-hati pak. Jangan lupa jam dua siang” menutup pintu mobil.
 Oka pun langsung bergegas masuk kedalam sekolah. Sebelum menaiki tangga ia tiba-tiba di panggil oleh salah satu guru.
“ Oka..” panggil guru tersebut
Langkah kaki Oka terhenti kemudian ia menoleh dan mencari-cari arah sumber suara tersebut
“ Oka.. Come here.”
Terdengar suara itu lagi, namun kali ini suaranya sangat ia kenal. Kemudian ia menemukan arah sumber suaranya yang sangat pasti.
“ Oka, sini..”
Berlari menghampiri guru itu “ Yes Sir, What can I do for you?”
“ Ya, something ”
“What is that?” tanya Oka penasaran
“ sudahlah sekarang kita berbicar menggunakan bahasa Indonesia, kita belum ada masuk jam sekolah jadi masih bebas” ucap guru tersebut
Tersipuh malu “iya pak, maaf.”
“tak apa. Oya, nanti tolong beritahu teman-temanmu kalau seusai pulang sekolah nanti kita tidak ada kelas tambahan, untuk sementara diliburkan dahulu”
Hati Oka pun sangat bahagia, akhirnya nanti Ia tak perlu repot-repot mencari alasan untuk menghindar dari kelas tambahan. Wajah Oka sedikit terlihat senang.
“ Oya pak, memang kenapa kelas tambahan di liburkan?”
“karena seusai pulang sekolah nanti bapak akan pergi untuk menghadiri sebuah acara yang wajib bapak datangi.”
“Rapat guru?”
“ Ya semacam itu,”
“ Baik pak, nanti akan saya sampaikan”
“ tapi ingat liburnya hanya hari ini ya, besok kembali seperti semula”
“ Yes Sir, I am understand.”
Merekapun meninggalkan tempat perbincangan tadi, Oka kembali menaiki tangga dan segera masuk kedalam kelas. Tak beberapa lama kemudian suara bel masuk berbunyi, jam pelajaran pun sudah dimulai.
 Oka mengikuti pelajaran dengan hikmat dan serius, ia selalu mendengarkan penjelasan dari gurunya. Di setiap pelajaran ia tak pernah sedikitpun melewatkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya begitu saja, untuk selalu mengingat setiap penjelasan yang diberikan oleh gurunya ia selalu mencatat kedalam bukunya yang menurutnya penting untuk dicatat, tak heran kalau ia suka terpilih menjadi murid teladan dan berprestasi dikelasnya.
Tak hanya itu, ia juga disenangi oleh teman-temannya karena sifatnya yang baik, ramah, lucu dan nyeleneh dengan gayanya itu menjadi pusat perhatian bagi dirinya. Ia selalu terlihat bahagia disekitar lingkungannya, bahkan ia tak ingin memperdulikan hatinya entah itu sedang sedih atau tidak.
Jam sudah menunjukkan angka 2, jam belajar mengajar pun telah usai. Semua murid bersiap untuk pulang, disamping itu juga ia sudah menyampaikan pesan dari gurunya kalau hari ini kelas tambahan sedang diliburkan.
Oka berjalan menuju halaman sekolah bersama teman-temannya, tak beberapa kemudian mobil jemputan Oka sudah berada di depan gerbang lalu Pak Titopun juga segera berdiri di depan pintu mobil, Oka segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri pak Tito.
“Siang den” sapa pak Tito sambil tersenyum
“ Siang Pak,” membalas sapa
Pak Tito segera membuka pintu mobilnya, kemudian di ikuti Oka yang segera masuk kedalam mobil.
“ hmm... panas banget ya pak hari ini.”
“iya den, puanasee santer tenan.” Ucapnya sambil mengendarai kemudinya
“yasudah nanti kita mampir ke swalayan ya, kita beli minuman yang segar-segar. Sekalian kita mampir ke Petshop, saya mau beli makanan untuk Gembel”
“siap den,”
Suasana mobilpun terasa sunyi, tiba-tiba handphone Oka berbunyi..
Kriiiinggg.... kriiiingg...
Oka melihat handphonenya “MAMA”, ia segera mengangkat telephonnya.
“ Hallo, Assalamualaikum.” Ucap Oka
“ Waalaikumsalam, kamu lagi ada dimana?”
“ Lagi dijalan mau pulang mah sama pak Tito, tapi nanti aku ke Petshop dulu mau beli makanan Gembel”
“ kamu gak ada jadwal kelas tambahan nak?”
“ gak mah, tadi Sir Edward Hua yi bilang ke aku dia hari ini tidak bisa mengajar kelas tambahan karena ada acara yag wajib ia hadiri. Makanya tadi aku disuruh untuk menyampaikan ketemen-teman kelasku”
“oh yasudah kalau seperti itu, kamu dan Pak Tito hati-hati dijalan. Oya nak nanti mama pulang malem sekali, kamu jangan lupa makan dan jangan lupa kerjakan pr.”
“iya mah, yasudah sekarang sudah sampai di petshop nih mah. Udah dulu ya, bye.. assalmualaikum”
“ waalaikumsalam”
Oka langsung mematikan jaringan telepon dari mamanya.
Setelah mencari tempat parkir, Pak Tito segera membuka pintu mobilnya.
Setelah turun dari mobi “ Pak Tito ikut saya masuk kedalam yuk, sekalian pilih minumannya dan temani saya ke petshop disamping swalayan ini”
“saya gak perlu beli minuman den, saya tidak haus.” Ucapnya sungkan
“ sudah tidak apa-apa, ayo pak sini”
Akhirnya Pak Tito pun mengikuti ajakan anak itu, pak Tito pun mengambil salah satu minuman yang ada di swalayan. Setelah selesai membeli minuman, mereka langsung menuju ke petshop yang letaknya tidak jauh dari swalayan.
“selamat siang” ucap salah satu pegawai petshop dengan ramah
Oka hanya membalas senyum, dan pak Tito yang mengikuti dibelakangnya juga tersenyum.
“Mau pilih makanan apa ade?” tanya salah satu pegawai
“ saya mau beli makanan kucing, untuk ukuran yang sedang ini berapa harganya mba?”
“oh yang ini harganya Rp 25.000,-”
“ kalau yang besar?”
“yang besar Rp 40.000,-”
“ yasudah, saya pilih yang besar saja.”
“ baik, akan saya ambilkan. Ada lagi yang ingin dipilih?”
“sudah, tidak ada hanya ini saja”
Mengangguk “ yasudah silahkan ke kasir untuk transaksi pembayarannya, untuk makanan yang besarnya akan saya antar ke kasir”
Okapun menuju ke kasir,
“ mba saya ingin membayar makanan kucing yang ukuran besar.”
“ ya tunggu sebentar, harganya Rp 40.000,-”
Oka mengambil uang disakunya, dan memberi uangnya di kasir. Tak beberapa lama makanan kucing pun di berikan oleh pegawai swalayannya, setelah selesai ia langsung menuju rumah. Setelah sampai dirumah Bi Munah segera membuka pintu rumah.
“siang den” sapa bi Munah
“siang bi” jawabnya sambil melepas sepatu.
“ cape ya den, habis pulang”
“iya nih bi, oya si Gembel ada dimana?”
“ bibi kurang tahu den, mungkin lagi tidur di halaman belakang dekat kolam. Oya den minumannya sudah bibi siapkan dimeja”
“iya terimakasih bi,” ucap Oka lalu ia segera masuk kedalam dan mencari kucing peliharaannya itu
‘Gembeell.. ckckck...” panggilnya sambil membunyikan kantung makanan yang baru ia beli tadi
“ Gembeeel.. dimana kamu?” ucap oka sambil mencari-cari disudut ruang
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara sautan dari kucingnya “ Meeoooongg..” seolah ia mengerti majikannya telah pulang dan mencarinya
“ Gembel..” panggilnya lagi
Kucingnya pun lari menghampiri Oka, dan ia memutar-mutari dibawah kaki Oka. Seolah ia ingin bermanja-manja dengan majikannya itu,
Menggendong kucing kesayangannya “ hai ndut, kamu tadi dimana? Udah makan belum?” ucapnya sambil berjalan menuju tempat makan Gembel
“ nih aku udah beli makanan untuk kamu” menurunkan kucingnya dari gendonganya “tunggu sebentar ya, aku mau menuangkan makanan ini untuk kamu” Oka segera menuangkan makanan kucingnya di mangkuk makanan Gembel.
Setelah selesai menuangkan makanan, oka memberikan mangkuk makanannya kepada kucing kesayangannya itu. Gembel pun langsung memakan dengan lahap, melihat kucingnya sedang makan ia langsung duduk dekat disamping kucingnya.
“ Mbel, jadi kamu enak yah.” Sambil mengelus tubuh kucingnya yang sedang asik makan
“hari ini aku sedang sedikit sedih, aku kangen banget sama papa. Aku juga sedih karena mama suka pulang malam akhir-akhir ini, ya aku tau si mama kerja dikantor lembur karena banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Tapi aku kesepian mbel, mungkin kalau tidak ada kamu aku benar-benar tambah lebih kesepian. Terimakasih ya kamu selama ini selalu nemenin aku dirumah, kamu memang teman yang selalu ada dihari-hariku”
Menghela nafas yang sangat berat “ hmmm...aaaahhh... lelah sakali rasanya” keluhnya
“ den, mau makan gak?” tanya bibi munah
Menengok kebelakang “ eh, bibi. Iya nanti aku ambil sendiri, bi aku kekamar dulu ya mau mandi dan ganti baju. Panas banget hari ini”
“iya den”
Mengelus kucingnya “ mbel aku kekamar dulu ya, mau mandi. Bye Gembel” ucap oka kepada kucing peliharaannya
Oka berjalan ke kamar, setelah sampai di kamar ia meletakkan tasnya dan langsung ke kamar mandi. Setelah selesai mandi ia langsung mengerjakan pr, sudah satu setengah jam  Oka berada di kamar menyibukkan dirinya dengan mengerjakan tugas sekolah. Tiba- tiba terdengar suara keroncongan dari perutnya, ia baru tersadar kalau ia belum makan sejak tadi. Akhirnya ia keluar kamar menuju tempat makan, ia mengambil makan siangnya.
Waktu menunjukkan pukul 16:20, setelah selesai makan Oka kembali ke kamar kali ini ia masuk kekamar bersama kucing kesayangannya. Kali ini ia hendak beristirahat sambil menunggu mamanya pulang kerja, akhirnya ia mulai tertidur lelap.
Tiiiiiiinnnn.... Tiiiiiinnn....
Suara klakson mobil, oka pun terbangun dari tidurnya dan melihat arlojinya 20:30. Ia begegas keluar kamar dan menyambut mamanya.
“ assalamualaikum” ucap mamanya
“ waalaikumsalam” oka menghampiri mamanya dan bersalaman
“ kamu sudah makan nak?”
Sambil berjalan menuju ruang keluarga “sudah” ucapnya singkat
“Sudah mengerjakan Pr?” tanya mamanya lagi
Oka hanya menjawab dengan melalui anggukan
Duduk di sofa “ mama besok hari liburkan?”
Menyeruput teh yang sudah disiapkan oleh bibinya “ iya, ada apa? Memang besok kamu mau pergi keluar?”
“iya aku mau ke pemakaman papa, aku kangen sama papa.”
“ oh yasudah kamu kesana”
“ mama gak mau ikut sama aku, untuk ke makam papa?”
“ bukan mama gak mau ikut nak, maaf banget mama banyak banget file-file yang musti mama selesaikan. Kamu lihatkan sekarang mama bawa file-file ini kerumah.”
“ kok mama gitu sih, jadi lebih penting kerjaan mama dari pada ikut aku ke makam papa! Memang mama gak kangen sama papa!” ucap Oka kesal
“ Bukan begitu sayang, mama bukan mementingkan pekerjaan. Dan mama bukan tidak kangen sama papa mu, mama juga kangen. Tapi waktunya saja sayang belum pas, kamu mau ke makam papa mu tapi disisi lain mamamu sedang tidak bisa ikut pergi bersama”
“ sudahlah,” jawab oka kesal
“ tolonglah nak, mengerti mama sedikit saja”
Dengan nada terbata-bata dan sedikit kecewa “yasudah, aku mengerti mama” Ucapnya singkat dan langsung bergegas meninggalkan mamanya
“ Oka, kamu mau kemana nak?” tanya mama
Oka hanya jalan terus, tak ada niatan sedikitpun untuk menghentikan langkahnya. Ia juga tak menjawab pertanyaan mamanya, hati oka saat ini sedikit kacau ia juga sengaja meninggalkan mamanya karena ia tidak ingin berdebat dengan mamanya karena ia tak ingin menambah sakit yang ada di hati mamanya, ia juga tahu saat ini mamanya baru saja pulang.
Oka berjalan menuju halaman yang ada dibelakang kamarnya, ia duduk terpaku. Entah saat ini harus berbuat apa, namun air matanya saat ini memaksa keluar dan mewakilkan untuk berbicara tentang apa yang ia rasakan saat ini.
“andai papa ada disini” ucapnya yang terasa getir
(terlintas ia teringat kenangan yang ia masih ingat bersama papanya dulu,) kenangan itu mulai bermain-main dalam benak Oka disisi itu juga air mata Oka mulai mengalir seakan semua terasa telah menjadi satu, sangat sulit baginya untuk menjelaskannya namun yang ia tahu saat hanya dia yang dapat merasakannya.
Tanpa disadari Oka, ternyata mamaya sudah berada di belakangnya dengan berjarak 2 meter dari dirinya. Mamanya tak berani berbuat apa-apa, ia juga ikut menangis melihat putranya itu.
“ Maafkan mama, oka” ucap wanita itu dengan pelan
Tak tega melihat anak laki-lakinya, ia segera pergi meninggalkan Oka sendiri di halaman belakang kamarnya. Wanita itu pergi ke kamarnya untuk menenangkan fikirannya juga.
Tak terasa hari sudah mulai pagi, waktu menunjukkan pukul 07:30. Ternyata ia sejak semalam tertidur di halaman, mamanya pun juga ta membangunkannya. Ia bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke makam papa-nya, setelah usai bersiap ia menuju keruang makan untuk sarapan. Disana ia melihat mamanya yang sedang mengolesi roti dengan selai kacang kesukaannya, Oka pun tetap diam dan berjalan menuju meja makan.
Setelah sampai di meja makan, mereka tidak bertegur sapa. Saat ini suasana semakin sunyi dan dingin diantara keduanya, bi munah pun yang melihat hanya terdiam dan bingung harus berbuat apa dengan suasan seperti ini.
Oka mengambil susu putihnya kemudian duduk di kursi. Ia tak mengambil roti yang dibuat mamanya tadi, ia membuat roti yang baru dan dengan selai yang berbeda pula untuk ia makan.
Melihat perlakuan anaknya, wanita itu terdiam sedih dan merasa bersalah. Ia ingin mulai berbicara namun terasa sulit untuk mengucapkannya.
“bi, pak Tito sekarang ada dimana?” tanya Oka pada bi Munah
Bi Munah menghampiri majikan kecilnya itu “ Ada den, ia sedang siap-siap. Mau saya panggilkan?”
“Tidak usah bi, oya pak Tito sama bibi sudah sarapan?”
“ sudah den” jawab bi munah
“ bohong, pasti belum sarapan. Nih aku ada roti ajak Pak Tito untuk sarapan juga, bibi juga jangan tidak sarapan nanti sakit kalau sudah seperti itu repot nanti tidak ada yang bisa urus semuanya. Kalau andalkan mama juga percuma, mamakan sibuk dengan urusan kantor dan aku meski hanya sesempat waktu mama.” ucap oka sambil memberi roti yang dibuat mamanya tadi cukup banyak.
Bi Munah tak memperhatikan kalimat ucapan Oka, yang ia tahu saat ini adala ia sedang heran melihat tingkat majikan kecilnya itu bersikap berbeda, namun bi munah juga tak dapat membantah perintah majikannya itu dalam keadaan seperti ini. Ia menerima saja roti pemberian dari majikan kecilnya itu.
Setelah menerima roti dari Oka, bi Munah bergegas membawa roti itu kehalaman dengan membawa teh hangat untuk dimakan bersama dengan Pak Tito.
Mamanya yang melihat sikap anak laki-lakinya sejak tadi menjadi jera.
“ Sudah cukup Oka!” ucap mama kesal yang sejak tadi tak dianggap hanya bagaikan patung dan juga mulai menyindir dirinya
Oka tak merespon sedikitpun ucapan mamanya, ia masih saja asik dengan susu dan rotinya.
“ Oka, mama minta maaf atas kejadian semalam” ucap mamanya lembut
Sekali lagi ia juga tak merespon ucapan mamanya
“ Hari ini mama ikut kamu ke makam papa, sekarang mama sudah rapih” jelas wanita itu agar Oka kembali luluh
(mulai menatap mamanya) Oka menghentikan makanannya sejenak. Kali ini ia merespon ucapan mamanya, namun ia hanya merespon dengan senyuman. Mamanya juga membalas senyuman dari anaknya,  kali ini hati mamanya sudah mulai sedikit lega ia berfikir anak laki-lakinya ini sudah mulai membaik emosinya. Namun tanpa dugaan mamanya itu salah jawaban Oka masih ½ kesal dan menyindir mamanya, meski kali ini ia menjawab dengan nada yang santai dan tidak membentak.
Menelan roti yang dikunyah “ mama, lebih baik jangan paksain diri mama untuk ikut sama Oka pergi ke makam papa, Oka tidak masalah kalau harus pergi ke makam sendiri. Oka ngerti mama koq, mama kan sibuk ngerjain tugas kantor.” Ucap oka santai sambil melihat roti yang ia pegang
“ tidak nak, bukan begitu. mama ikut kamu ke makam papa sekarang ya? Masalah tugas-tugas mama dikantor, sudah mama selesaikan semalam.” Jelas mamanya
“ sudahlah mah! tak perlu memaksakan diri.” Ucapnya sedikit tidak terkontrol
“ Maaf. (menarik nafas)  mama dengar Oka, mama semalaman begadang dan belum tidurkan? Mending lebih baik, sekarang mama habiskan sarapan mama dan pergi istirahat di kamar. Besok mama sudah mulai kerja, nanti kalau sakit mama tidak bisa kekantor” jelas Oka, kemudian ia menghabiskan roti di tangannya dan menghabiskan susunya.
Tak ada respon sedikitpun dari mamanya, oka berlanjut akan  pamit.
“ Oka berangkat dulu mah, assalamualaikum” ucap oka singkat dan langsung pergi meninggalkan mamanya tanpa salaman
 Sedikit tersenyum “ waalaikumsalam” ucap mamanya sangat pelan
 Oka berjalan menuju ke luar rumah dan duduk kembali di depan teras.
“den, sudah mau berangkat?” tanya Pak Tito
Menggelengkan kepala “ nanti dulu pak, bapak tunggu saja di dalam mobil” ucap Oka yang  sedang ingin menenagkan diri sejenak.
“ Baik den” jawab pak Tito dan langsung masuk kedalam mobil
Menghela nafas “ Papa maaf kan aku, Ya ALLAH maafkan hambamu ini atas sikap ku tadi terhadap mama” ucapnya dengan perasaan menyesal
Teringat dengan ucapan mamanya ingin ikut dan meminta maaf kepadanya seperti tadi membuat ia bersalah akan sikapnya, ia ingin kembali kedalam dan menjemput mamanya untuk ikut pergi ke makam.
Akhirnya ia bangun dari tempat duduknya dan mulai berjalan perlahan, tiba-tiba terhenti sejenak. Ia teringat kembali kalau mamanya semalam tidak tidur dan ia menjadi khawatir akan kesehatan mamanya kalau nanti ia memaksakan mamanya untuk ikut. Oka semakin bimbang harus berbuat apa, tidak ingin berlarut-larut merasakan hal seperti ini Okapun bergegas menuju mobil.
Membuka belakang pintu mobil “ pak..!” dengan nada terkejut
Menoleh kebelakang  “ iya den, ada apa?” tanya pak Tito
“ i-i.. ini bunga dari siapa? Perasaan saya belum beli bunga untuk ke makam papa.” Ucap Oka bingung
“ oh itu ibu yang siapkan tadi den, ibu memesan bunga untuk ke makam bapak”
Oka terdiam terpaku
“oya ibu mana den?” tanya Pak Tito kembali
Tanpa berfikir panjang lagi, ia lari kedalam rumah dan tidak menghiraukan lagi pertanyaan pak Tito. Setelah sampai di ruang makan ia terhenti dan melihat mamanya yang sejak tadi belum beranjak dari tempat duduknya, namun kali ini posisi duduk mamanya sangat berbeda. Ia langsung beranjak menghampiri mamanya dan memastikan mamanya tidak apa-apa. Setelah dilihat ternyata berbeda dengan apa yang ia khawatirkan.
“mama” membangunkan mamanya dengan panik
Tak ada jawaban satupun, kemudian ia memeriksa nafas dan denyut nadinya. Ternyata masih berfungsi, ia segera memangil pak Tito yang masih berada di dalam mobil.
“Pak Titoo..” teriak Oka panik
Mendengar teriakan itu pak Tito segera keluar dari mobil dan menghampiri Oka
“ada apa den? Panik sekali.” Tanya pak Tito heran
“mama.. angkat mama sekarang kedalam mobil. Antar kami kerumah sakit”
“ba...baik den” pak Tito pun segera masuk kedalam rumah dan mereka membawa masuk kedalam mobil untuk di bawa kerumah sakit
Setelah sampai di rumah sakit, pak Tito membawa majikannya kedalam rumah sakit. Sedangkan Oka memanggil salah satu suster untuk meminta mamanya untuk dibaringkan diruang periksa. Setelah di periksa, mama Oka terkena penyakit jantung dan kemudian di bawa ke UGD. Mendengar pernyataan dari dokter ia merasa bersalah atas sikapnya tadi dan ia menangis tiada hentinya seakan takut kehilangan mamanya.
“ Ya ALLAH jangan ambil nyawa mamaku, maafkan aku” pintanya dalam keadaan lebih menyesal dan sedih
“mama.. jangan tinggalin Oka mah, cukup papa saja yang ninggalin Oka.” Menangis dengan terseduh.
“Oka mohon mah, Oka mohon..., demi Oka mah.” Pintanya lagi dari balik pintu UGD
Tak beberapa lama ia terbangun dari tidurnya dengan rasa panik “ astaga, tidak mungkin!”
Untuk memastikan dengan yakin sekarang ia melihat arlojinya ternyata masih jam 7:30 pagi. Ternyata ia masih berada di dalam kamar dan masih memakai pakaian yang semalam ia kenakan, kemudian untuk lebih memastikannya kembali ia segera keluar dari kamar dalam keadaan baru bangun tidur dan ia melihat wanita yang ia khawatirkan ternyata ia masih ada di dalam rumah ini dan sedang menyiapkan sarapan.

-         TAMAT     - 

Tidak ada komentar: