terdengar suara ketukan pintu
" Jenny...Jen.. Bangun sudah pagi!"
teriakan laki-laki yang usianya sudah beranjak 53 tahun.
Tak lama kemudian laki-laki itu masuk kedalam kamar anak perempuannya dan membangunkan sekali lagi.
" Jeny.." panggilnya sambil mengguncang-guncangkan badan anak perempuannya.
"Bangun, sekarang sudah jam 05.50 pagi. kamu tidak ingin kesekolah"
mendengar ucapan Ayahnya tadi, jennypun terkejut dan langsung membuka matanya lebar-lebar.
" Astaga, aku hampir kesiangan" ucap jenny resah
jenny pun langsung bergegas untuk siap-siap, sedangkan sang ayah hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat putrinya.
" Pagi Yah," sapa Dimas
" Pagi" sahut Ayahnya yang sedang menutup pintu kamar Jenny.
" Jenny baru bangun?" tanya Dimas sambil berjalan menuju meja makan
" yah, seperti biasalah. Adikmu itu, pasti dia gak pasang alarm lagi"
Dimas hanya tersenyum dan duduk di kursi makan
"kamu ada kuliah pagi"
"iya" ucapnya yang sedang mengambil sarapan.
"Kak Teo ada dimana Yah, kok gak kelihatan?"
"Dia sudah berangkat kerja duluan"
"Naik apa?"
"Naik mobil Ayah"
"Terus ayah berangkat kerja?"
"kebetulan hari ini Ayah akan berangkat kerja bareng sama rekan kerja. karena ayah sama rekan ayah, mau mampir ke pabrik."
"oh.."
"Pagi Ayah, pagi kak Dimas" sapa Jenny yang sudah rapih menggunakan seragam SMPnya
"Pagi" sahut Ayah dan Kak Dimas bersamaan
"cepat sarapan, nanti kesiangan" ucap ayah pada jenny
" iya, Ayah" jawab jenny
mereka pun menikmati sarapannya dengan tenang.
Sudah pukul 06:50, merekapun bergegas meninggalkan meja makan dan bersiap untuk berangkat melanjutkan kativitasnya masing-masing.Seperti biasa Jenny selalu diantar kak Dimas kesekolah menggunakan motor, sedangkan sang ayah sedang menunggu rekan kerjanya yang belum juga sampai untuk menjemput dirinya.
Diawal perjalanan Jenny dan kak Dimas tak banyak bicara karena lalu lintas pagi ini cukup memadati jalan, Dimaspun berkonsentrasi terhadap kemudinya dan mencari jalan alternatif agar tidak terjebak macet.
Dimas sudah menemukan jalan alternatif untuk menuju sekolah adiknya yang lumayan lancar dan tidak padat oleh pengguna lalu lintas.Sambil menikmati jalan yang lumayan lancar Jenny mangajak bicara kepada kakaknya.
" Kak.."
" ya,"
" aku punya undangan dari sekolah, tadi aku lupa kasih tau Ayah dan kakak dirumah"
" undangan apa?"
" Undangan pentas seni menyambut hari ibu?"
" hari ibu?"
" iya, besokkan taggal 22 Desember hari Sabtu"
" oh iya, kakak lupa.lalu?"
" kalau bisa kakak dan Ayah datang.undangan resminya juga ada kok, tapi aku simpan di rak buku"
" iya, nanti kakak usahakan datang."
" terimakasih ya kak. oya, nanti pulang sekolah kakak jemput aku gak?"
" hmm.. kurang tahu. Tapi kalau misal kakak bisa jemput, kakak akan kasih kabar ke kamu"
"ok."
"Udah sampai nih di depan gerbang"
Jenny pun langsung turun dari motor dan berpamitan pada kakaknya.
"sampai ketemu lagi kak"
"ya. Udah masuk sana,"
"iya. hati-hati dijalan ya kak" ucapnya sambil melambaikan tangan
Dimaspun langsung meninggalkan tempat sekolah adiknya, sedangkan Jennypu juga sudah berjalan masuk menuju kelasnya.
Sudah pukul 06:45 bel sekolahpun berbunyi, kegiatan belajar dan mengajar pun sudah dimulai. Kelas Jennypun sepi dan menikmati suasana belajar dengan tenang, hari ini mata pelajaran dikelasnya adalah SAINS,Bahasa Indonesia,dan diakhiri dengan pelajaran Seni Budaya.
Jenny menikmati mata pelajaran pertama dan mata pelajaran keduanya dengan serius dan sungguh-sungguh.
Tak terasa 2 mata pelajaran hari ini sudah dilewati dan bel istirahatpun tak lama berbunyi, jam belajarpun dihentikan sejenak.Siswa-siswi di kelaspun mulai keluar kelas dan berburu kantin ataupun toilet bahkan taman sekolah untuk menjernihkan lagi fikiran mereka.
"kamu gak ke kantin Jen?" tanya teman sebangkunya yang bernama Dessy
"enggak ah, aku mau duduk didalam kelas aja"
"sama dong aku juga. oh iya,bagaimana pentas seni besok?" ucap temannya lagi, yang kali ini duduk didepan dari meja Jenny yang bernama Resti.
"wah aku sudah gak sabar untuk menampilkan paduan suara dari kelas kita" jawab teman sebangku jenny
" aku juga sama, aku gak sabar untuk mempersembahkan lagu itu untuk mamaku" tambah jawaban dari teman yang menanyakan pertanyaan tadi
" kalau kamu jen?" tanya teman sebangkunya
" sama aku juga" jwabnya singkat sambil tersenyum
" besok keluargamu siapa saja yang hadir?" tanya Dessy kepada Resti
" Mama dan Papa aku dong, kemarin aku cerita sama Mama dan Papa tentang persiapan kelas kami. aku senang ternyata orangtua ku sangat antusias dan katanya gak sabar ingin cepat melihat kelas kami tampil. kalau kamu Des?"
" wah enak sekali Mama dan Papa kamu hadir. Kalau aku cuma kakak dan Bundaku yang bisa hadir, soalnya Ayahku lagi ada Dinas dan berhalangan untuk hadir. Tapi gak apa-apalah, soalnya kakakku pasti bawa Handycam untuk merekam semua acara dari sekolah kita. jadi ayahku bisa melihatnya walau terlambat dari hari H nya"
Jenny yang mendengar percakapan temannya sedih
" lalu kamu bagaimana Jen?" tanya Resti
" Aku.., kalau aku yang pasti datang Ayah dan ke-dua kakakku"
" lalu ibu mu? beliau tidak hadir?" tanya Desi
sebelum Jenny sempat menjawab, tiba-tiba Resti memotong jawaban Jenny.
" Pasti Ibu kamu sibuk ya Jen, sama seperti Ayah aku" ucap Resti
sebelum membuka jawaban, jenny memberi senyuman kepada kedua temannya
"Ah, gak juga. biarpun Ibuku sibuk sekarang ataupu nanti, beliau masih bisa melihat dan memantauku"
"wah, bagaimana caranya kok bisa?" tanya Resti penasaran
"bisa, beliau memantauku dari atas sana.Jauh dari langit dan kehidupan yang berbeda mungkin tempat yang sangat damai dan indah yang tak mungkin dapat kita lukiskan dan tak akan pernah kita tahu setakjub dan seindah apa, sebelum kita kembali."
"Kembali?" tanya Dessy
"iya, kembali. Kembali kealam yang semestinya, kealam tempat dimana kita dulu sebelum kita terlahir didunia ini." jelas Jenny sambil tersenyum
" maaf ya Jen, kami tidak bermaksud untuk menyinggung ataupun membuat kamu sedih?"
" tidak apa-apa. Aku memaklumi kalian, karena kalian tidak tahu." ucap jenny ramah
Tiba-tiba bel masukpun berbunyi, jam istirahatpun berakhir dan pembicaraan mereka terhenti karena jam belajar akan dimulai kembali. Semua siswa-siswi kembali kekelas dan ketempat duduk mereka masing-masing,jadwal
Tak terasa pelajaran Seni Budaya pun berakhir dan waktunya siswa-siswi bersiap-siap untuk menyudahi pelajaran mereka dihari ini. sebelum mereka keluar dari kelas, guru seni budayapun mengingatkan kepada murid-murid agar besok mereka tidak telat hadir dan tidak lupa pula orang tua mereka wajib hadir untuk mensupport penampilan dan meramaikan suasana.
Setelah mendengarkan penjelasan dari guru seni budaya tadi, merekapun pergi meninggalkan kelas dan jalan menuju pintu gerbang.
"Jenny, pulang bareng yuk."
"terimakasih atas tawarannya, tapi aku sudah di jemput sama kakak aku. dia sms katanya sudah di depan gerbang"
"oh, yasudah."
"lain kali saja ya"
"ok"
"nah, itu dia kakakku"
" yang mana?"
"itu disebrang sana." jelas jenny sambil menunjuk kearah kakaknya yang sudah menunggu dibawah teduhnya pepohonan
" oh, hati-hati ya jen"
"iya, sampai ketemu besok"
jennypun langsung meninggalkan temannya dan lari menuju kakaknya.
" Kak.."
kakaknya menoleh
" yuk jalan" ucap jenny sambil menaiki motor
Dimaspun langsung menstater motornya dan pergi menuju rumah mereka.
" Kak,nanti boleh mampir ketoko bunga gak?"
" Boleh.kamu mau ke makam ibu ya?"
" iya, aku kangen"
" oke"
Dimaspun langsung bergegas menuju tempat toko bunga dan menuju makam ibunya.
Setelah sampai ditempat taman pemakaman, mereka berdua langsung berjalan menuju tempat makam ibu mereka.
" Ibu,ini aku Dimas. aku datang kesini sama Jenny" ucap Dimas yang berbicara di makam ibunya lebih dahulu
" Ibu,lihat deh. aku bawa apa untuk ibu, aku bawa bunga kesukaan ibu. Tadi pas pulang sekolah aku mampir ketoko bunga untuk beli bunga lily putih kesukaan ibu, kata kak Dimas ibu suka bunga lily putih ini" ucap jenny kemudian sambil meletakkan bunga lily itu diatas makam ibunya
Seperti biasa ketika dimakam ibunya ia tak sanggup mengeluarkan uneg-uneg dan perasaan rindu yang teramat dalam kepada ibunya yang ia mampu adalah hanya sanggup berkata "Ia datang, dan Ia datang dengan siapa. Bahkan kalau sudah cukup selesai ia hanya bilang pamit undur diri"
" bu, Jenny dan kak Dimas kangen banget.Bukan hanya kami berdua saja yang kangen Ayah dan kak Teo pun juga sama,kami berempat kangen banget. maaf ya bu, baru kami berdua yang datang kemakam ibu. tapi lain kali pasti kami berempat datang bersama lagi, kita datang kesini juga tanpa direncanakan terlebih dahulu.
oh iya bu, besok disekolahku ada acara pentas seni untuk menyambut hari ibu loh. Dan pihak sekolah mengundang semua wali murid, semua orang tua teman-temanku hadir. hmm... coba saja ibu ada disini pasti ibu senang lihat kelasku tampil, eh tapi gak apa-apa meski ibu sudah tidak bersama kita disini tapi aku yakin ibu selalu hadir setiap hari disisi kita berempat dan terutama memantau aku, kak Teo dan kak Dimas dari kejauhan.
Besok lihat penampilanku ya bu, aku ingin persembahkan lagu yang ditampilkan nanti untuk ibu.
Aku juga kesini mau ucapin selamat hari ibu, kita semua Rindu ibu...
Entah kapan, aku percaya suatu saat kita bisa berkumpul kembali. Tunggu kami disana ya bu..
Selamat tinggal dan sampai jumpa, besok atau entah nanti Ayah, kak Teo, kak Dimas dan aku datang kemakam ibu lagi."
" Ibu, aku dan jenny pulang ya. karena sudah sore, kami pamit undur diri. Selamat tinggal"
Mereka pun langsung bergegas meninggalkan tempat pemakaman ibunya dan menuju rumah.
setelah sampai dirumah Jenny dan Dimas menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian mereka. Dimas yang sudah selesai mengganti pakaiannya kemudian ia mengetuk pintu kamar adiknya.
tok..tok..tok..!!
"Jen, makan siang bareng yuk."
"gak kak, aku masih kenyang. Aku mau istirahat dulu, nanti malam baru. sekalian kita makan sama Ayah dan kak Teo"
" yasudah, kakak makan siang dulu ya."
"oke"
Dimas pun langsung menuju meja makan dan mengambil makan sidang yang sudah disiapkan oleh bi Inah pekerja rumah tangga yang sudah lama bekerja bersama majikannya.
Sementara itu Jenny didalam kamar duduk termenung di kursi meja belajarnya yang menghadap kejendela dan kemudian ia mengambil buku catatannya. Untuk menulis semua kisah yang ia alami juga yang belum pernah ia ceritakan, mungkin saat ini ia sedang ingin menumpahkan semua keluh kesah melalui buku catatannya yang masih terlihat baru.
Aku Jenny Dzakwan Anjani, sekarang umurku 12 tahun dan masih duduk dibangku SMP. Di keluarga ini aku adalah anak perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara, dirumah ini aku tinggal bersama Ayah, kak Teo, kak Dimas dan bi Inah. Mereka semua adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku entah kemarin, hari ini bahkan besok dan mungkin besoknya lagi juga sampai seterusnya. Pasti kedengarannya aneh, tapi memang itulah kenyataannya.
Inilah Kisahku...
sebelum aku bercerita tentang diriku, aku akan menceritakan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku sampai sekarang ini.
Ayah, beliau adalah sosok orang yang penyabar, tegas, disiplin dan dia juga sosok seseorang yang mengerti bagaimana kondisi anak-anaknya. meski beliau sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia tidak pernah lupa perannya sebagai orang tua untuk selalu memperhatikan anak-anaknya terutama aku. aku selalu yang mendapat perhatian lebih diantara kakak-kakakku, mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya dan anak paling terakhir.
Selanjutnya kakakku yang pertama namanya kak Teo, dia adalah sosok orang yang sangat sibuk dengan dirinya sendiri juga dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Buktinya saja tadi pagi dia gak ikut sarapan bareng dan bahkan udah jalan berangkat kerja lebih dahulu. Kak Teo memiliki sifat yang sulit ditebak, dia sosok orang yang sangat pendiam dan gak terlalu banyak bicara. Meski begitu dia orang yang sangat baik dan perhatian terhadap adik-adiknya, dia juga suka bercanda loh pada saat kita memiliki waktu luang bersama (tapi kalau lagi sifat pendiamnya gak kumat lagi) dan kadang tak jarang aku sering jadi bahan kekonyolan dan lelucon kak Teo. Yang aku suka dari kakakku ini adalah pada saat dia tertawa bersama kami, aku melihat ada sesuatu yang beda saat dia tertawa lepas.
Kemudian kita beralih ke kakakku yang kedua namanya kak Dimas, kakakku yang satu ini sifatnya agak berbeda dari kak Teo meski ada kesamaannya juga. Kak Dimas juga orang yang pendiam tapi tidak separah kak Teo, kak Dimas diam pada saat tertentu aja. Mungkin pada saat suasana hatinya sedang tidak bagus atau mungkin ia sedang kangen sama Ibu, tapi menurut aku kak Dimas juga dia orang yang cukup bawel terhadap aku. Pokoknya kakakku yang satu ini is the best deh, mungkin tanpa kakakku yang ini aku pasti merasa sangat kesepian dirumah. Diantara Ayah, kak Teo dan kak Dimas, cuma kak Dimas lah yang sangat dekat dengan aku. Mungkin karena dari kecil aku sudah sama dia terus dan ia selalu perhatian. Kakakku yang ini cukup menggantikan posisi Ibu, disaat aku butuh sosok seorang Ibu. Oya kesamaan sifat kak Teo dan kak Dimas adalah mereka suka bercanda. Cuma kalau kak Dimas hampir semua waktu disaat aku bersama dia, dia selalu buat sesuatu yang lucu dan aku selalu terhibur olehnya. Tapi kak Dimas juga sosok orang yang sangat galak, apa lagi kalau lagi ajarin aku belajar. Aku gak bisa berkutik, mesti harus serius.
Dan yang terakhir adalah bi Inah, beliau adalah bibi yang sangat baik. Beliau juga sudah lama kerja dirumah ini yah kurang lebih sudah 24 tahun dia berada disini, kata Ayah sih bi Inah sudah kerja disini pada saat ibu sudah melahirkan kak Teo. Cukup lumayan lama juga ya bi Inah kerja dirumah ini, tugas khusus bi Inah adalah merawat dan membantu Ayah untuk menjaga kami bertiga. bi Inah selalu tau apa yang kita inginkan, mungkin beliau juga sudah paham dengan karakter masing-masing dari kami bertiga. Disini bi Inah sudah bukan seperti orang lain lagi, beliau sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Bukan hanya bi Inah saja, keluarga dari bi Inah juga sudah kami anggap seperti keluarga kami sendiri. Maka tak heran kalau liburan sekolah, cucu perempuan serta anak bi Inah suka berkunjung kerumah kami seperti layaknya kami dikunjungi oleh saudara, meski hanya menginap beberapa hari tapi aku sangat senang karena dirumah banyak orang dan bahkan umur cucunya bi Inah beda 2 tahun dari umurku loh. Kami sangat akrab dan kalau mereka berkunjung, cucunya bi Inah suka aku ajak tidur di kamarku.
Sekarang beralih ke aku.
Sebetulnya aku gak tau sifat dan karakter aku seperti apa, karena aku tidak bisa untu menilai diriku sendiri. Tapi yang aku tahu, aku sosok anak yang manja kepada Ayahnya jua manja kepada kedua kakaknya. Maklum karena aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya.
Sejujurnya aku iri dengan kedua kakak-kakakku, karena nasibku yang sangat berbeda dengan mereka berdua. Nasibku tidak seberuntung nasib kak Teo dan kak Dimas, mereka terlahir didunia ini pernah merasakan kasih sayang ibu. Meski aku pernah, tapi hanya sesaat ketika aku di dalam kandungan bukan ketika aku lahir. Aku kepingin sekali dapat merasakan belaian tangannya disaat hendak tidur, lalu dapat merasakan hangatnya dekapan ibu ketika pulang sekolah ataupun disaat kita hendak mencurahkan semua masalah yang sedang kita hadapi. Tidak hanya itu, aku juga ingin melihat pancaran sinar ketulusan diwajah Ibuku sendiri.
Aku sangat sedih, ketika memang kenyataannya aku tidak memiliki seorang Ibu. Setelah aku lahir, aku belum pernah merasakan apapun dari seorang Ibu dan yang lebih membuatku sangat sedih ketika aku tidak dapat memiliki kesempatan untuk memanggil Ibu dihadapan wanita yang telah melahirkan aku.
ah.. sayang, semua itu hanya harapan yang tak kunjung datang bagiku.
Aku pasrah dengan takdir yang sedang aku jalankan, meski kesedihanku tak kunjung usai. Aku akan tetap harus tersenyum bahagia karena aku masih memiliki keluarga yang setia untuk selalu ada. Juga aku harus membuktikan pada dunia meski tanpa kasih sayang ibu, aku bisa membuat orang disekelilingku bangga dengan prestasi nilai-nilaiku disekolah. Dengan begitu aku yakin Ibu yang sudah berada ditempat yang damai pasti akan bangga ketika aku tidak mengecewakan orang yang aku sayangi seperti Ayah, kak Teo dan kak Dimas. Karena kalian aku akan tegar menghadapi semua, juga karena kalian aku akan selalu berjalan kedepan dan tidak akan menyesali perjalananku yang telah dilalui.
Inilah janjiku....Setelah selesai menulis catatan pribadinya, Jenny melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 16:30. Waktu sudah cepat berganti sore,tanpa lama-lama Jenny langsung bergegas membersihkan dirinya.Kemudian ia keluar dari kamar dan menuju ruang TV, seperti biasa Jenny dan Dimas menonton Tv bersama sambil menunggu Ayah dan kakak pertama mereka pulang.
" Bagaimana rasanya mau tampil besok?" goda kak Dimas
" Biasa aja" jawab Jenny santai sambil menikmati acara kartun kesukaannya
" Yakin? ah, paling pas sudah harinya kamu dagdigdug" goda kak Dimas lagi
" so tau nih kak Dimas"
" Memang kakak tau kok" godanya lagi namun kali ini sambil mencubil pipi adiknya
" Besok kakak datang gak?" tanya jenny
" Gak ah males"
" iih.. kok gitu. Yasudah kalau males, masih ada kak Teo dan Ayah"
" Memangnya kamu mau banget kalau kak Dimas dateng?" goda kak Dimas
" Biasa aja tuh. Yah kalau kakak mau dateng sih syukur kalau gak mau juga gak apa-apa" jawab Jenny sedikit kecewa
" Habis kakak bosan sih lihat kamu terus. Tiap hari kamu lagi.. kamu lagi.." ledek kak Dimas
" Yakin bosen? nanti kalau aku gak ada dan pergi entah kemana jangan dicariin ya.."
" Gak dong, paling juga ujung-ujungnya pergi sama kak Teo. hahahaa.." ledek kak Dimas lagi
Jennypun langsung cemberut kesal, mendengar ledekan kakaknya.
Melihat adiknya cemberut, Dimaspun langsung mengakhiri ledekannya.
" Tenang saja, nanti juga kak Dimas datang ke acara sekolah kamu"
" gak tau" jawab jenny masih cemberut
" hmm.. lagi pula siapa sih yang bosan sama ade kakak yang lucu dan menggemaskan ini" ucap Dimas sambil mencubit pipi Jenny lagi
" ih.. kak Dimas apa sih, sakit tau pipiku dicubit terus" keluh Jenny sambil mengusap-usap pipinya
" oh iya, sampai merah pipinya. Sini kakak kasih minyak biar gak merah lagi" ledek kakaknya lagi
" gak mau, nanti dicubit lagi. udah tau pipiku tembem, dicubit kak Dimas tambah tembem lagi deh nih" keluh Jenny lagi
Mendengar celotehan Jenny dan melihat tingkah kesal adiknya yang masih memegangi pipi, Dimas senyum-senyum sendiri.
" ya sudah kalau gak mau kakak obatin, tapi saran kakak kita makan Ice cream yu. pasti merah bekas cubitannya langsung hilang" bujuk kak Dimas
" gak mau, aku masih kesel sama kakak"
" ya sudah"
disela percakapan Jenny dan Dimas tiba-tiba suara HP Dimas berbunyi. Ternyata itu pesan dari Ayahnya.
" Siapa kak"
" Ayah"
" Kenapa?"
" hari ini kak Teo dan Ayah pulang telat."
" kok gitu?"
" iya, tadi pagi mobil Ayah dipakai kak teo kerjas. Jadi setelah kak Teo pulang kerja, kak Teo jemput Ayah di kantor dan pulang bareng."
" terus alasan pulang telat?"
" katanya jemput seseorang di Bandara."
" Oh."
" Sekarang Jam berapa si dek?" tanya Dimas yang kali ini sedang mengganti channel TV
" jam 17:15"
" Berarti Ayah hari ini pulangnya masih lama. Tadi Ayah pesan katanya kita disuruh makan malam duluan, takutnya nunggu Ayah dan kak Teo kelamaan."
" yasudah."
Pembicaraan merekapun terhenti sejenak, karena Jenny sedang pergi kekamarnya untuk mengambil udangan dari pihak sekolah untuk acara besok.
" nih kak" ucap jenny sambil menyodorkan undangan
" undangan dari sekolah?"
" iya. tolong sampaikan ke Ayah dan kak Teo ya."
" Kamu gak makan malam?"
" Gak, lagi gak pingin"
" Yah, cuma gara-gara gitu aja gak mau makan. Nanti sakit dan gak bisa ikut acara sekolah loh?"
" Yaudah aku makan sekarang aja terus langsung kekamar lagi, aku mau ngerjain tugas dan menyiapkan untuk besok"
" Ok. jangan malam-malam ya tidurnya"
" Ya."
Pagi ini Jenny sudah sibuk menyiapkan dirinya untuk pentas nanti. Seperti biasa setiap pagi Ayahnya selalu datang kekamar untuk membangunkannya.
Disela kesibukannya pagi itu tak sengaja ia mendengar suara langkah kaki yang tak asing lagi baginya, mendengar suara itu ia tersenyum dan tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia diam-diam berdiri didepan pintu dan menghitung suara langkah kaki itu sampai berhenti diarah pintu kamarnya.
" ...3...2...1.." ucapnya pelan
setelah hitungan terakhir ia langsung membuka pintu kamar, yang tak sengaja ternyata pintu kamar jenny pas sekali terbuka ketika Ayahnya hendak mengetuk pintu kamarnya.
Melihat pintu kamar putrinya terbuka, wajah Ayah terkejut.
" Pagi Ayah" sapanya sambi tersenyum
" Pagi" jawab Ayahnya
" Sini masuk Yah" ucap jenny
" Jam dirumah gak ngaco kan Jen?" ledek Ayahnya
" huh.. Ayah, giliran aku jam segini udah rapih dengan kostumku malah diledekin"
" Ya habis tumben, biasanya juga gak pernah"
" Iya dong, sekarangkan hari spesial. Jadi,semua harus istimewa. Misalnya seperti jam segini yang biasanya aku masih tidur, sekarang sudah rapih"
" Tau deh yang mau pentas"
" Ayah, aku cantik gak kalau pakai bando aja"
" Anak Ayah selalu cantik pakai apa saja"
" hehe.. Terimakasih Ayah"
" Sudah yuk, kita sarapan. Sudah rapih semua kan?"
" tapi tadi aku sudah sarapan duluan Yah."
" Baiklah, kalau begitu ayo kita keluar"
" Siap."
Akhirnya mereka berduapun keluar dari kamar Jenny dan kemudian berjalan menuju halaman depan.
" Pagi kak Teo, Pagi kak Dimas" sapa Jenny
" Pagi.." sahut kakaknya bersamaan
" hmm.. yang mau pentas canti banget hari ini" goda kak Teo
" Iya dong." jawab Jenny senang
Dimas yang mendengar percakapan kak Teo dan Jenny hanya melirik Jenny dengan penuh ledekan untuk membuat adiknya kesal lagi.
" iihh.. kenapa kak Dimas matanya gak nyenengin"
" kenapa lagi?" tanya kak Dimas
mendengar ucapan kak Dimas, Jenny langsung mengalihkan pandangannya ke kak Teo.
" kak Teo, hari ini kakak duduk di belakang sama aku ya."
" Terus yang nyetir mobil siapa? Ayah gitu?" tanya kak Teo
" Ya bukanlah, siapa lagi kalau bukan kak Dimas" jawab jenny
" iih.. kok jadi kak Dimas sih Jen?"
" Iyalah, terus siapa lagi? harus aku gitu?"
" Yasudah kalau gitu kamu aja?"
" Ya, aku mana bisa"
kak Teo yang mendengar percakapan adik-adiknya hanya menggeleng-gelengkan kepala.
" hus.. pagi-pagi sudah bertengkar" ucap Ayahnya
Jenny dan kak Dimaspun langsung diam
" Sudah jangan bertengkar. Untuk hari ini yang bawa mobil Dimas, ok." ucap ayahnya lagi dan langsung berjalan menuju kedalam mobil
" kok gitu si yah?"
" emang enak..nakal sih sama adenya" ledek Jenny puas
" Sudah terima saja, gantian dong sekali-kali aku duduk dibelakang sama Jenny. Ya gak Jenny?" timpal kak Teo kepada adiknya Dimas
" iya, betul banget kak Teo. Ayo sekarang kita masuk kedalam mobil" ucap Jenny bahagia
Disepanjang perjalanan Jenny dan kak Teo saling bercengkrama, sementara Ayah menikmati lagu yang diputarnya di dalam mobil, sedangkan kak Dimas mengendarai mobil dengan muka cemberut.
" nih udah sampai, parkirannya sebelah mana Jen? " tanya kak Dimas
" kakak masuk aja terus belok Kanan lalu belok kiri. Itu tempat parkiran mobil"
Dimaspun mengikuti arahan dari adiknya
" Yah kak, udah lumayan penuh nih. Tolong gantiin dong?" ucap Dimas pada kak Teo
" Yaudah yang lainnya turun aja, biar aku yang parkirin mobil dulu. Nanti aku nyusul"
Akhirnya Ayah, Dimas dan Jenny pun turun dari dalam mobil dan kemudian mereka mencari tempat duduk yang pas sedangkan Teo yang sudah ditinggal masih memarkirkan mobilnya.
" Ayah, kak Dimas, aku pamit ke kelasku dulu ya"
" ok"
Jenny langsung menuju kelas sementara Ayah dan kak Dimas ikut berbaur bersama wali murid lainnya yang antusias untuk menonton pertunjukan persembahan dari anak-anaknya.
Waktu sudah menunjukan pukul 07:30, acarapun segera dimulai. Acara kali ini diawali sambutan dari Kepala Sekolah lalu dilanjutkan oleh Tarian daerah yang di bawakan oleh kelas IX, setelah itu acara pentas Teater Malik Kundang dari kelas VIII A dan kemudian di tambah lagi pentas Teater Batu Menangis dari kelas VIII B. Kemudain acara selanjutanya Pembacaan Puisi dari kelas VII B, setelah pembacaan puisi dari kelas VII B. kemudain acara itu berlanjut kekelompok Jenny dengan kelas VII A, kelompok merekapun sudah di panggil oleh pembawa acar. Jenny dan teman-temannyapun langsung berbaris ketempat yang sudah diatur sesuai dengan latihan sebelumnya.
setelah susunannya semua sudah rapih, tak lama kemudian terdengar kode suara piano berbunyi.
Ternyata guru Seni Budaya kali ini yang akakn mengiringi murid-muridnya bernyanyi diiringi dengan suara musik piano. setelah sang guru selesai memainkan piano, murid-murid pun langsung menyanyikan lagu mereka.
Saat ku lihat kembali..
Bunga kenangan Itu...
Kenangan dari masa keciku
Mengalir didalam dadaku
Dengan bebas ku berlari
Melihat bukit dan lembah yang indah
Aku tak bisa kembali
Kemasa Itu lagi
Sedikit demi sedikit kayu telah beranjak menjadi dewasa
Sambiil memeluk impian
Yang takkan pernah pudar
Aku takkan pernah menyerah
untuk menggapai harapanku ...." Inilah persembahanku untukmu Ibu" ucap Jenny dalam hati sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar